Masuki Tahun Ketiga, Festival Penjor Yowana Desa Serangan Bali Libatkan Enam Banjar Adat
Putu Dewi Adi Damayanthi June 20, 2026 02:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Tradisi dan kreativitas Yowana (pemuda-pemudi) di Desa Serangan, Denpasar, Bali, kembali bergeliat menjelang pelaksanaan Festival Penjor yang kini memasuki tahun ketiga.

Perhelatan tahun ini terasa semakin istimewa karena diselenggarakan khusus untuk menyambut rangkaian suci Puja Wali Pura Dalem Sakenan, yang bertepatan dengan peringatan Hari Raya Galungan pada 17 Juni 2026 dan Hari Raya Kuningan pada 27 Juni 2026.

Festival ini melibatkan pemuda-pemudi dari enam banjar adat di Desa Serangan di antaranya Dukuh, Peken, Ponjok, Kawan, dan Banjar Tengah. 

Penjor merupakan tiang bambu berhiaskan daun kelapa muda dan hasil bumi. 

Baca juga: Perlengkapan Penjor di Jembrana Laris Manis Sejak H-5 Galungan, Paket Lengkap Rp 3 Juta

Penjor sejatinya adalah sarana upacara keagamaan esensial bagi umat Hindu di Bali.

Kehadirannya bukan semata-mata sebagai dekorasi perayaan. 

Hal ini dijelaskan oleh Sekretaris Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), I Ketut Budiasa.

"Penjor secara tradisional melambangkan gunung sebagai sumber kesucian dan kemakmuran. Penjor bermakna ungkapan terima kasih kepada bumi karena telah menyediakan tempat tinggal dan kesejahteraan manusia," ujarnya.

Sebagai bagian dari persiapan pre-event festival, sejak beberapa pekan terakhir masing-masing banjar mulai disibukkan dengan koordinasi awal dan pengumpulan bahan baku penjor.

Ketua Pelaksana Festival Penjor, Audi, yang berasal dari Banjar Kaja, menjelaskan bahwa antusiasme pemuda tahun ini sangat tinggi karena mereka dapat belajar nilai-nilai gotong royong, ngayah, serta pentingnya menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman.

“Semangat ngayah yang ditunjukkan selama proses persiapan menjadi nilai penting yang patut diapresiasi. Kami berharap seluruh peserta dapat menampilkan karya terbaiknya dalam Serangan Penjor Festival 2026, menjunjung tinggi sportivitas, serta menjadikan ajang ini sebagai sarana belajar dan melestarikan warisan budaya leluhur,” jelas Audi.

Sinergi dan antusiasme luhur ini mendapat dukungan dari PT Bali Turtle Island Development (BTID). 

Sejalan dengan esensi perayaan tersebut, BTID hadir untuk mendampingi masyarakat Desa Serangan melalui dukungan apresiasi dan pembinaan bagi keenam banjar peserta. 

Semangat kolaborasi ini semakin nyata melalui peran aktif BTID yang juga menjadi mitra bagi muda-mudi setempat, bahu-membahu memperluas jaringan untuk menggalang dukungan sponsor hingga mempromosikan Festival tersebut.

Langkah ini dirancang untuk memberikan dorongan moral sekaligus memberi ruang yang optimal bagi kreativitas para pemuda di setiap banjar. 

Terkait kolaborasi ini, Zefri Alfaruqy selaku Kepala Departemen Komunikasi BTID menyampaikan bahwa keterlibatan perusahaan merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai spiritual dan apresiasi bagi langkah generasi muda.

"Kami sangat mengagumi bagaimana masyarakat Bali memuliakan kesucian momen Hari Raya Galungan dan Kuningan. Kami ingin komitmen kami dalam merangkul dan maju bersama muda-mudi di Desa Serangan, terus berjalan. Kami berharap agar sinergi dan semangat kolaborasi ini dapat terus menginspirasi para Yowana dalam menjaga keindahan tradisi budaya dan warisan leluhurnya dengan penuh kebanggaan," katanya.

Guna menjaga kualitas dan objektivitas kompetisi, penilaian Festival Penjor pada pekan depan akan melibatkan tim juri profesional yang didatangkan langsung dari perwakilan budayawan Kesiman, Ubud, serta Dinas Kebudayaan Kota Denpasar. 

Sementara itu, untuk pemasangan Penjor hingga proses penilaian akan berlangsung pada 22 hingga 25 Juni 2026.

Membawa semangat kemenangan Dharma, Festival Penjor Desa Serangan hadir sebagai simpul penyatu yang mengikat erat nilai-nilai spiritual, kreativitas Yowana, dan harmoni komunitas dalam satu perayaan budaya yang penuh makna.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.