TRIBUNJATIMTIMUR.COM, BONDOWOSO - Pemerintah Kabupaten Bondowoso bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember menggelar Festival Muharram 1448 Hijriah x Road to Fesyar SAMARA (Semarak Ekonomi Syariah Sekarkijang).
Pembukaan acara ini dilaksanakan pada Jumat (19/6/2026) malam. Dalam acara tersebut juga dilaksanakan pengukuhan Pengurus Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (Hebitren) Kabupaten Bondowoso.
Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid menegaskan bahwa pengembangan ekonomi syariah tidak dapat dipisahkan dari peran pesantren sebagai pusat pendidikan, dakwah, sekaligus pemberdayaan masyarakat.
Karena itu, kehadiran Hebitren diharapkan mampu menjadi wadah penguatan jaringan ekonomi antarpesantren dan pelaku usaha berbasis syariah.
Menurutnya, Festival Muharram yang dipadukan dengan Road to Fesyar SAMARA bukan hanya seremoni pergantian tahun dalam kalender Islam, tetapi juga momentum untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Baca juga: Satu-satunya Event UCI di Indonesia, Banyuwangi BMX Supercross Diikuti 294 Pembalap dari 4 Negara
“Ini bukan sekadar perayaan Tahun Baru Islam, melainkan ikhtiar bersama untuk memperkuat ekonomi masyarakat yang mandiri, inklusif, dan berkeadilan,” kata Abdul Hamid Wahid.
Selain pengukuhan Hebitren, kegiatan tersebut juga diwarnai dengan penyerahan mock-up business matching pembiayaan syariah, penyerahan sertifikat halal kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta sertifikasi halal bagi Rumah Potong Hewan (RPH).
Berbagai program tersebut dinilai menjadi langkah konkret dalam memperluas akses pelaku usaha terhadap pembiayaan syariah sekaligus meningkatkan kualitas dan daya saing produk lokal.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso meyakini legalitas usaha dan sertifikasi halal akan membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk-produk daerah.
Bupati menambahkan, penguatan ekonomi syariah harus dibangun melalui tiga pilar utama, yakni akses pembiayaan yang mudah, pendampingan usaha yang berkelanjutan, serta kepastian legalitas usaha. Dengan dukungan tersebut, UMKM di Bondowoso diharapkan mampu tumbuh lebih kuat dan kompetitif.
Sementara itu, Ketua Hebitren Jawa Timur KH Faiz AHZ menyebut pengukuhan Hebitren sebagai langkah strategis untuk menjadikan pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi umat.
"Pengukuhan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi pesantren dan umat. Pesantren harus mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. Melalui Hebitren, kami berharap terbangun jaringan usaha yang kuat antarpesantren dan lahir pelaku-pelaku usaha syariah yang memberikan manfaat luas bagi kesejahteraan umat,” tegasnya.
Tidak hanya berorientasi pada penguatan ekonomi, Festival Muharram juga menjadi ruang mempererat ukhuwah Islamiyah melalui rangkaian Tabligh Akbar yang dihadiri masyarakat dari berbagai kalangan.
Semangat hijrah yang menjadi makna utama Tahun Baru Islam diharapkan mampu mendorong lahirnya inovasi, kolaborasi, dan peluang ekonomi baru bagi masyarakat Bondowoso.
Dengan dibukanya Festival Muharram 1448 Hijriah x Road to Fesyar SAMARA, Bondowoso menegaskan komitmennya untuk menjadikan ekonomi syariah sebagai salah satu pilar pembangunan daerah, sekaligus memperkuat peran pesantren dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat. (*)
(Sinca Ari Pangistu/TribunJatimTimur.com)