Trump Desak Israel Setujui Gencatan Senjata dengan Hizbullah, Diplomasi Timur Tengah Masuk Fase Baru
Febri Prasetyo June 20, 2026 04:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa dirinya secara langsung mendorong Israel untuk menyetujui gencatan senjata dengan Hizbullah setelah kedua pihak kembali terlibat bentrokan bersenjata.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump beberapa saat setelah Israel dan Hizbullah mengumumkan kesepakatan gencatan senjata terbaru yang mulai berlaku pada Jumat (19/6/2026) waktu setempat.

Dalam wawancara telepon bersama NBC News, Trump mengatakan dirinya telah menghubungi pihak Israel untuk mendukung langkah penghentian sementara konflik demi mencegah situasi kawasan Timur Tengah semakin memburuk.

Trump menyebut kesepakatan tersebut sebagai pelengkap penting dari nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang sebelumnya telah ditandatangani Amerika Serikat dan Iran.

Meski demikian, Trump menolak memberikan kepastian apakah dirinya berbicara langsung dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atau melalui jalur diplomatik lainnya.

“Ini adalah hal yang positif,” kata Trump saat menanggapi tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah.

Gencatan Senjata Israel-Hizbullah Kembali Berlaku

Kesepakatan gencatan senjata terbaru muncul setelah Israel dan Hizbullah kembali melancarkan serangan satu sama lain dalam beberapa hari terakhir.

Dalam kesepakatan tersebut, Israel dan Hizbullah sepakat menghentikan sementara seluruh serangan militer, termasuk peluncuran roket, serangan drone, maupun serangan udara di wilayah perbatasan Lebanon-Israel.

Baca juga: Hizbullah Ingatkan Israel Punya Waktu 60 Hari untuk Tinggalkan Lebanon, Mundur Tanpa Perlu Negosiasi

Gencatan senjata mulai berlaku pada pukul 09.00 waktu setempat setelah melalui proses mediasi yang melibatkan Amerika Serikat, Qatar, dan Iran sebagai pihak yang turut mendorong tercapainya kesepakatan.

Selain penghentian serangan, kedua pihak juga diminta menahan diri agar tidak memicu eskalasi baru di Lebanon selatan yang selama ini menjadi pusat bentrokan bersenjata antara pasukan Israel dan kelompok Hizbullah.

Meski menyetujui gencatan senjata, Israel menegaskan tetap akan melakukan tindakan militer apabila terdapat ancaman langsung terhadap keamanan negaranya.

Juru Bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan militer Israel akan terus merespons setiap pelanggaran yang dianggap dilakukan Hizbullah demi melindungi warga sipil di wilayah utara Israel.

Di sisi lain, Hizbullah juga diminta menghentikan seluruh operasi militer, termasuk serangan roket dan drone ke wilayah Israel selama masa gencatan senjata berlangsung.

Kesepakatan tersebut menjadi bagian dari upaya diplomasi yang lebih luas di Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Iran sebelumnya menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) terkait penghentian konflik di berbagai kawasan, termasuk Lebanon.

Perjanjian itu juga bertujuan menjaga stabilitas kawasan dan mencegah perang regional yang lebih besar yang berpotensi mengganggu jalur energi dunia serta memperburuk kondisi ekonomi global.

Trump Bahas Hubungannya dengan Netanyahu

Dalam wawancara yang sama, Donald Trump juga menyinggung hubungannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang selama ini dikenal dekat secara politik.

Trump mengatakan dirinya tetap memiliki hubungan baik dengan Netanyahu, namun menilai kepemimpinan Israel perlu bersikap lebih tenang dalam menghadapi situasi konflik kawasan.

“Saya selalu baik-baik saja dengan Bibi. Anda hanya perlu tenang kadang-kadang dan menggunakan akal sehat,” kata Trump, menggunakan nama panggilan Netanyahu.

Pernyataan tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa Washington ingin Israel lebih berhati-hati agar konflik di Lebanon tidak menggagalkan proses diplomasi besar antara Amerika Serikat dan Iran.

Meski sejumlah langkah diplomatik mulai dilakukan, situasi Timur Tengah dinilai masih jauh dari stabil.

Gencatan senjata Israel dan Hizbullah masih dianggap rapuh karena kedua pihak tetap saling menuduh melakukan pelanggaran.

Di sisi lain, proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran juga masih menghadapi tantangan besar, termasuk tekanan politik domestik, kepentingan sekutu regional, hingga persoalan keamanan kawasan.

Karena itu, dunia internasional kini menaruh perhatian besar terhadap perkembangan diplomasi di Lebanon, Israel, Iran, dan Swiss yang dinilai dapat menentukan arah stabilitas Timur Tengah dalam beberapa bulan mendatang.

(Tribunnews.com / Namira)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.