SURYA.CO.ID, LUMAJANG - Sebanyak 17 penambang pasir manual nekat melakukan aktivitas penambangan pada dini hari di kawasan Gladak Perak. Veri Irawan (33), salah satu penambang asal Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur (Jatim), tertimbun longsoran tebing material sisa Awan Panas Guguran (APG) Gunung Semeru pada Sabtu (20/6/2026) pukul 01.30 WIB.
Korban yang baru bekerja selama setengah jam, tiba-tiba tertimpa longsoran material vulkanik.
Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Isnugroho, korban langsung dievakuasi oleh rekan-rekannya ke RSD Pasirian sekitar pukul 02.00 WIB, sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD dr Haryoto Lumajang karena kondisi luka yang parah.
"Jadi korban ini menambang jam 1 dini hari tadi, yang seharusnya tidak diperbolehkan," ujar Isnugroho saat memberikan keterangan di RSUD dr Haryoto Lumajang.
Akibat peristiwa tragis tersebut, Veri kini harus menjalani perawatan intensif di ruang ICU RSUD dr Haryoto Lumajang.
Tim medis menyatakan korban mengalami luka bakar derajat dua yang menyelimuti hampir 80 persen tubuhnya.
Isnugroho menjelaskan bahwa material erupsi Gunung Semeru masih menyimpan suhu panas ekstrem, meskipun sudah mengendap lebih dari enam bulan di permukaan.
Bahaya sekunder ini sering kali tidak disadari oleh para penambang, karena tampilan luar tebing yang tampak dingin dan stabil.
"Kondisi material ini masih panas, kalau terkena kulit ya bisa menyebabkan luka bakar," terang Isnugroho.
Aris Susanto, kakak kandung korban, membeberkan bahwa tebing material sisa erupsi Semeru sangat sensitif terhadap air. Jika terkena aliran air, material panas di bagian dalam akan langsung bereaksi, menyembur dan memicu longsoran mendadak.
"Kan tidak kelihatan kalau kena air, dan air itu langsung nyembur hingga mengakibatkan longsor," kata Aris.
Ia juga menambahkan, bahwa sang adik sebelumnya sudah dua kali selamat dari longsoran material dingin, namun baru kali ini terkena material yang masih menyimpan hawa panas ekstrem.
BPBD Lumajang menegaskan kembali larangan aktivitas penambangan pada malam hari. Selain jarak pandang yang sangat terbatas, status Gunung Semeru saat ini masih berada di Level III (Siaga) dengan aktivitas vulkanik yang fluktuatif.
Rekomendasi keselamatan dari BPBD Lumajang meliputi:
Aktivitas penambangan manual di aliran lahar Gunung Semeru pada malam hari sangat berisiko tinggi, karena material sisa APG yang mengendap berbulan-bulan masih menyimpan panas mematikan yang dapat longsor seketika.