Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kisah cinta remaja berlatar Kota Bandung kembali hadir ke layar lebar. Kali ini, Verona Pictures mengangkat novel karya Pidi Baiq berjudul ‘Dan Bandung’ menjadi film yang akan membawa penonton menyusuri romantika masa muda di Kota Kembang.
Film ini menjadi kolaborasi antara penulis ternama Pidi Baiq, sutradara Rudi Soedjarwo, dan sejumlah talenta muda yang dipercaya memerankan tokoh-tokoh utama dalam cerita.
Executive Producer Beni Kunandi mengungkapkan kedekatan pribadinya dengan Bandung menjadi salah satu alasan proyek ini terasa istimewa.
Sebagai alumni Institut Teknologi Bandung (ITB), ia merasa memiliki ikatan emosional dengan kota yang menjadi latar utama cerita.
Menurutnya, perjalanan adaptasi film ini bermula ketika produser Titin Suryani menemukan novel Dan Bandung sekitar setahun lalu.
Ketertarikan terhadap cerita tersebut membuat tim Verona Pictures kemudian bertemu langsung dengan Pidi Baiq untuk menggali lebih jauh dunia dan karakter yang ada dalam novel tersebut.
Baca juga: Rekan Syuting Kang Saep Preman Pensiun Ungkap Sosok Almarhum yang Dikenal Rendah Hati
“Kami melihat ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ada Bandung yang kuat di dalamnya, ada kisah anak muda, ada kehidupan kampus dan persahabatan yang dekat dengan banyak orang,” ujar Beni saat jumpa pers di Gulapadi, Jalan Asia Afrika, Jumat (19/6/2026).
Produser Titin Suryani mengatakan Verona Pictures memang memiliki pengalaman panjang memproduksi tayangan remaja.
Setelah menggarap ribuan episode sinetron, mereka melihat Dan Bandung memiliki kekuatan cerita yang berbeda.
“Kami memang banyak membuat tayangan untuk remaja. Ketika membaca bukunya, kami melihat cerita ini bagus sekali dan kuat. Bandung menjadi bagian penting dari kisahnya. Setelah dibahas lebih dalam, ternyata kisah yang ada di dalamnya sangat kuat,” kata Titin.
Ia menilai novel karya Pidi Baiq memiliki kedekatan emosional dengan pembaca sekaligus menawarkan suasana Bandung yang khas, sehingga layak diadaptasi menjadi film layar lebar.
Sebagai penulis novel, Pidi Baiq mengaku tenang menyerahkan proses adaptasi kepada Rudi Soedjarwo.
Baginya, sosok sutradara menjadi salah satu alasan utama ia optimistis film ini akan berhasil.
“Ada satu hal yang saya senang, sutradaranya dia,” ujar Pidi sambil menunjuk Rudi.
Ia mengaku tidak terlalu ikut campur dalam proses produksi. Namun, kepercayaan terhadap tim kreatif membuatnya yakin hasil akhirnya akan memuaskan.
“Saya berharap nanti filmnya bagus dan memang pasti bagus. Saya nggak mantau, tapi saya yakin bisa,” katanya.
Baca juga: Listrik Mati Beberapa Jam Ganggu Bisnis Laundry di Kota Bandung, Pesanan Terlambat Selesai
Pidi juga menilai para pemain yang dipilih bukanlah hasil keputusan sembarangan.
Menurutnya, tekanan yang dirasakan para pemeran justru menjadi bagian penting dari proses kreatif.
“Kalau tertekan itu artinya mereka harus siap karena harus bertanggung jawab. Kalau enggak tertekan, orang ngerjainnya bisa asal-asalan,” ujarnya.
Sementara itu, Sutradara Rudi Soedjarwo menjelaskan salah satu keputusan penting dalam film ini adalah menggunakan talenta-talenta baru sebagai pemeran utama.
Menurutnya, karakter-karakter dalam novel karya Pidi Baiq akan sulit dilepaskan dari identitasnya apabila diperankan aktor yang sudah terlalu populer.
“Saya agak gengsi kalau pemain saya dipakai di banyak tempat,” kata Rudi sambil bercanda.
Namun lebih dari itu, ia ingin memberi ruang bagi lahirnya generasi aktor baru.
“Saya punya panggilan untuk melahirkan yang baru. Jadi bukan hanya filmnya yang lahir, manusianya juga lahir,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengaku tidak mau mengambil risiko terhadap kualitas film.
“Saya juga nggak mau filmnya jelek karena saya harus menjaga reputasi. Makanya persiapannya sangat intens. Kalau pemainnya nggak klik, saya nggak mau jalan,” tegasnya.
Dalam film ini, Samo Rafael dipercaya memerankan Basil, tokoh utama yang mengalami perubahan besar dalam hidupnya setelah bertemu Elma.
Menurut Samo, daya tarik utama cerita Basil terletak pada perjalanan emosional karakternya.
“Menurut Basil, Elma adalah orang yang mengubah dunianya dengan cara yang sulit dijelaskan,” katanya.
Ia menggambarkan Basil sebagai sosok yang tetap memiliki harapan meski berada dalam situasi sulit.
“Di tengah kehancuran ada mimpi, ada masa depan,” ujar Samo.
Ketika menjalani proses syuting di Bandung, Samo merasa suasana kota tersebut justru membantu para pemain mendalami karakter.
“Bandung itu mendukung, bahkan tembok-temboknya terasa punya cerita. Setiap sudut punya rasa. Itu membantu sekali untuk berakting,” katanya.
Shanna Shannon memerankan Elma, seorang gadis introvert yang pemalu dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar.
Menurut Shanna, karakter Elma menjadi tantangan tersendiri karena harus menghadapi berbagai beban emosional sepanjang cerita.
“Apa yang dialami Elma sangat berat, jadi cukup menantang untuk dimainkan,” katanya.
Ia mengaku proses membangun chemistry dengan Samo Rafael berlangsung secara alami.
Keduanya sama-sama memiliki kepribadian yang cenderung introvert sehingga pada awalnya justru banyak diam.
“Kami sama-sama introvert, awalnya sempat kaku dan diem-dieman. Tapi setelah banyak ngobrol, memahami karakter, membaca naskah, dan memahami keinginan sutradara, akhirnya kami menemukan Basil dan Elma,” ujarnya.
Shanna juga memiliki kesan mendalam selama tinggal cukup lama di Bandung untuk kebutuhan syuting.
“Ini pertama kalinya aku tinggal cukup lama di Bandung. Jadi banyak eksplor tempat baru, mencoba makanan-makanan Bandung, dan menciptakan banyak memori baru,” katanya.
Meski merasa senang, ia tak menampik rasa gugup selama proses produksi.
“Waktu simulasi sampai sakit perut karena deg-degan. Kami semua nervous dan merasa harus memberikan performa terbaik,” tuturnya.
Theo Supple yang memerankan Uu mengaku bangga mendapatkan kesempatan bermain dalam film layar lebar pertamanya.
“Uu itu sangat loyal dan tulus kepada persahabatannya dengan Doni dan Basil,” kata Theo.
Ia juga mengakui ada tekanan ketika dipercaya memerankan karakter yang berasal dari karya Pidi Baiq dan disutradarai Rudi Soedjarwo.
“Bangga banget bisa dipercaya Mas Rudi sama Ayah Pidi, ada lah pressure-nya,” ujarnya.
Namun, pengalaman bekerja di Bandung menjadi salah satu hal yang paling ia nikmati selama produksi.
“Aku suka banget kerja di Bandung. Aku sering photoshoot di Bandung, jadi selalu senang kalau ada pekerjaan yang membawa aku ke sini,” katanya.
Sementara itu, Razan Zu dipercaya memerankan Doni, sahabat Basil yang memiliki karakter berbedaz
“Doni lebih rasional, logis, agak temperamen, tapi selalu mendahulukan kenyamanan teman-temannya,” ujar Razan.
Sebagai orang yang tumbuh besar di Bandung, syuting di kota kelahirannya memberikan pengalaman emosional tersendiri.
“Banyak banget memori di Bandung. Saya sering jalan-jalan sama teman-teman sekolah ke berbagai tempat di sini,” katanya.
Bahkan, ia memiliki kenangan khusus dengan tulisan ikonik “Dan Bandung”.
“Saya pernah foto di tulisan Dan Bandung itu sekitar tahun 2016 atau 2017. Tadi kami foto lagi di tempat yang sama, rasanya luar biasa,” ujarnya.
Razan mengakui sempat merasa tertekan ketika pertama kali bergabung dalam proyek ini.
“Awalnya pasti tertekan. Ini karya Ayah Pidi dan ditangani Mas Rudi. Tapi karena percaya penuh kepada mereka dan semua yang terlibat, akhirnya semuanya terasa mengalir,” katanya. (*)