Sekda Sulbar Luncurkan GARATTA TBC, Inovasi Penanganan TBC Berbasis Kolaborasi Masyarakat
Nurhadi Hasbi June 20, 2026 08:47 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Junda Maulana, meluncurkan inovasi Gerakan Aktif Masyarakat dan Tenaga Kesehatan Terpadu Atasi TBC (GARATTA TBC).

Peluncuran tersebut dirangkaikan dengan pelantikan Tim GARATTA TBC Desa Bonde, Desa Bonde Utara, dan Desa Palipi Soreang, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, Jumat (19/6/2026).

Program GARATTA TBC menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam percepatan penanggulangan tuberkulosis (TBC) di Sulawesi Barat.

Inovasi tersebut juga merupakan proyek perubahan yang dinilai sejalan dengan arah pembangunan daerah dalam mewujudkan masyarakat Sulbar yang maju dan sejahtera.

Baca juga: Pengecer di Pasangkayu Jual LPG 3 Kg Rp70 Ribu, Warga Keluhkan Sulit Dapat di Pangkalan

Baca juga: Update Prakiraan Cuaca Sulbar Sabtu 20 Juni 2026, Hujan Lebat Berpotensi di Mamasa dan Mamuju

Dalam sambutannya, Junda Maulana yang mewakili Gubernur Sulbar Suhardi Duka menyampaikan apresiasi atas hadirnya inovasi tersebut.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan daerah tidak hanya dilihat dari kemajuan wilayah, tetapi juga dari tingkat kesejahteraan masyarakat.

Indikator kesejahteraan itu, kata Junda, dapat dilihat dari tiga sektor utama, yakni pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

"Kita berharap masyarakat Sulawesi Barat hidup sejahtera. Ukuran kesejahteraan itu ditandai oleh tiga hal utama, yaitu pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan ekonomi. Ketiganya menjadi siklus yang saling berkaitan dalam pembangunan daerah," ujar Junda.

GARATTA TBC Dorong Peran Masyarakat dalam Penanganan Penyakit

Junda mengatakan, pemerintah masih menghadapi sejumlah tantangan dalam pembangunan, termasuk persoalan pendidikan dan kemiskinan.

Ia menyebut masih terdapat anak-anak yang belum mendapatkan akses pendidikan secara optimal sehingga perlu perhatian bersama.

Selain itu, angka kemiskinan Sulawesi Barat juga masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah.

"Angka kemiskinan Sulawesi Barat masih berada pada kisaran 10,18 persen, sementara angka nasional sekitar 8 persen. Kita menargetkan penurunan sekitar satu persen setiap tahun sehingga pada 2030 dapat berada di kisaran 5 hingga 6 persen," katanya.

Di sektor kesehatan, Junda menilai tantangan utama yang masih dihadapi adalah akses dan kualitas pelayanan kesehatan.

Keterbatasan sarana, prasarana, serta tenaga kesehatan membuat sebagian masyarakat masih kesulitan memperoleh layanan kesehatan.

Kondisi tersebut berdampak pada sejumlah indikator kesehatan, seperti gizi buruk, angka kematian ibu dan bayi, stunting, hingga kasus tuberkulosis.

"TBC menjadi salah satu tantangan yang harus kita tangani bersama. Penyakit ini bukan hanya persoalan medis atau penularan semata, tetapi juga berkaitan dengan kondisi lingkungan, perilaku hidup masyarakat, dan faktor sosial lainnya," ungkapnya.

Menurut Junda, penanganan TBC tidak dapat dilakukan hanya oleh sektor kesehatan.

Dibutuhkan keterlibatan pemerintah, kecamatan, desa, hingga masyarakat.

Masyarakat, kata dia, harus menjadi bagian aktif dalam setiap program kesehatan, bukan hanya sebagai penerima manfaat.

Ia juga menekankan pentingnya peran tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh perempuan, dan tokoh pemuda dalam mendukung perubahan perilaku di tengah masyarakat.

"Pengaruh para tokoh di Sulawesi Barat masih sangat besar. Karena itu, pendekatan program kesehatan harus mampu melibatkan berbagai segmen masyarakat agar tujuan yang ingin dicapai dapat terwujud secara optimal," jelasnya.

Junda menambahkan, pembangunan saat ini membutuhkan kerja bersama karena tidak ada satu pihak yang mampu menyelesaikan persoalan kesehatan secara sendiri.

"Kalau hanya Dinas Kesehatan yang bergerak, tentu akan sulit. Penanganan TBC juga membutuhkan dukungan sektor lain seperti lingkungan hidup, permukiman, pekerjaan umum, serta unsur masyarakat. Karena itu, kolaborasi menjadi kunci utama," tegasnya.

Ia berharap GARATTA TBC tidak hanya menjadi proyek perubahan jangka pendek, tetapi dapat berkembang menjadi model penanganan TBC yang diterapkan di seluruh wilayah Sulawesi Barat hingga tingkat nasional.

"Target jangka pendeknya tentu mendukung keberhasilan proyek perubahan ini. Namun target jangka menengah dan panjangnya adalah bagaimana GARATTA TBC bisa menjadi model yang direplikasi di seluruh kabupaten di Sulawesi Barat bahkan secara nasional," ujarnya.

Junda optimistis program tersebut memiliki manfaat besar karena menjawab kebutuhan masyarakat dalam upaya penanggulangan tuberkulosis.

Menurutnya, keberhasilan program ditentukan oleh nilai manfaat, dukungan pemangku kepentingan, serta kapasitas tim pelaksana.

"Sebuah program harus memiliki value, mendapat dukungan yang kuat, dan didukung kapasitas tim yang memadai. Saya melihat GARATTA TBC memiliki ketiga unsur tersebut sehingga layak untuk terus dikembangkan," katanya.

Ia mengajak seluruh pihak mendukung implementasi GARATTA TBC agar memberikan dampak nyata dalam percepatan penanganan TBC di Sulawesi Barat.

"Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Launching Gerakan Aktif Masyarakat dan Tenaga Kesehatan Terpadu Atasi TBC (GARATTA TBC) secara resmi saya nyatakan dimulai," pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.