Laporan Hasim Arfah, Wartawan Tribun-Timur.com dan Media Centre Haji 2026 dari Arab Saudi
TRIBUN-TIMUR.COM, MADINAH – Di sela rangkaian ibadah pascahaji, KH Mushodiqin Yusuf Anshory memanfaatkan kesempatan berziarah ke makam ulama kharismatik Indonesia, KH Maimun Zubair.
Bagi KH Mushodiqin, sosok yang akrab disapa Mbah Moen itu bukan hanya ulama besar, tetapi juga figur pemersatu umat yang jejak keteladanannya masih terasa hingga kini.
Saat ditemui di Kota Madinah, Jumat (19/6/2026), KH Mushodiqin mengaku telah mengenal Mbah Moen sejak usia muda.
Menurutnya, almarhum merupakan ulama yang memiliki kedalaman ilmu agama sekaligus kebijaksanaan dalam menyampaikan dakwah kepada masyarakat.
"Saya mengenal beliau sejak kecil. Menurut saya beliau bukan hanya ulama yang alim dan berilmu luas, tetapi juga seorang wali Allah. Apa yang beliau sampaikan dalam dakwah selalu diterima masyarakat dan tidak menimbulkan kontroversi," ujarnya.
KH Mushodiqin menilai salah satu keistimewaan Mbah Moen adalah kemampuannya merangkul berbagai kalangan.
Dakwah yang disampaikan tidak pernah memicu perpecahan, melainkan menghadirkan persatuan dan keteduhan di tengah masyarakat yang beragam.
Baca juga: Jemaah Haji Indonesia Napak Tilas Sejarah Perang Badar, Belajar Keteguhan Iman Pasukan Rasulullah
Menurutnya, pesan-pesan keagamaan yang disampaikan Mbah Moen dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat, baik sesama muslim maupun kalangan nonmuslim.
Hal itu karena pendekatan dakwah yang mengedepankan hikmah, kebijaksanaan, dan persaudaraan.
"Beliau berdakwah dengan cara menyatukan, bukan memisahkan. Karena itu dakwah beliau bisa diterima semua pihak dan masuk ke hati masyarakat," katanya.
Selain dikenal sebagai ulama yang mempersatukan umat, KH Mushodiqin juga mengagumi keberhasilan Mbah Moen dalam mencetak generasi penerus yang memiliki kapasitas keilmuan tinggi.
Tidak hanya ribuan santri yang lahir dari pesantrennya, tetapi juga putra-putri beliau yang tumbuh menjadi ulama dan alimah.
Menurut KH Mushodiqin, keberhasilan membangun generasi berilmu dan berakhlak merupakan warisan terbesar yang ditinggalkan Mbah Moen.
Sebab, tidak semua tokoh mampu mewariskan ilmu dan keteladanan hingga melahirkan kader-kader ulama yang melanjutkan perjuangan dakwah.
"Beliau berhasil mencetak santri-santri yang alim, bahkan putra-putrinya juga menjadi alim dan alimah. Ini adalah keteladanan yang luar biasa dan tidak semua orang mampu melakukannya," tuturnya.
Bagi KH Mushodiqin, ziarah ke makam Mbah Moen menjadi momentum untuk mengenang perjuangan seorang ulama yang tidak hanya meninggalkan karya keilmuan, tetapi juga warisan persatuan umat dan generasi penerus yang terus melanjutkan syiar Islam di Indonesia.
Dengan teladan itulah, ia berharap semangat dakwah yang menyejukkan dan mempersatukan dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang.
KH Maimoen Zubair atau yang akrab disapa Mbah Moen merupakan salah satu ulama kharismatik Indonesia yang sangat dihormati di kalangan Nahdlatul Ulama (NU), pesantren, dan masyarakat luas.
Beliau lahir pada 28 Oktober 1928 di Karangmangu, Sarang, Rembang, Jawa Tengah.
Mbah Moen adalah putra pertama pasangan KH Zubair Dahlan dan Nyai Mahmudah.
Sejak kecil beliau dididik langsung dalam tradisi pesantren dan mempelajari berbagai disiplin ilmu keislaman seperti nahwu, sharaf, fikih, tauhid, balaghah, dan tafsir.
Pada usia muda, beliau menimba ilmu di berbagai pesantren ternama di Jawa, termasuk Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.
Tahun 1950, Mbah Moen melanjutkan pendidikan ke Makkah selama sekitar dua tahun dan berguru kepada sejumlah ulama besar di Tanah Suci.
Sepulang dari Makkah, beliau mengembangkan dan mengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar di Sarang, Rembang.
Di bawah kepemimpinannya, pesantren tersebut berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terkemuka di Indonesia dengan ribuan santri dari berbagai daerah.
Selain dikenal sebagai ulama, Mbah Moen juga aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Beliau pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Rembang serta menjabat Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan. Meski aktif di dunia politik, beliau tetap dikenal sebagai tokoh pemersatu umat dan bangsa.
Di lingkungan Nahdlatul Ulama, Mbah Moen menjabat sebagai Mustasyar (Dewan Pertimbangan) dan menjadi rujukan berbagai persoalan keagamaan.
Beliau dikenal sebagai ulama yang menekankan pentingnya moderasi, persatuan, nasionalisme, dan toleransi dalam kehidupan berbangsa.
KH Maimoen Zubair wafat pada 6 Agustus 2019 saat menunaikan ibadah haji di Kota Suci Mecca dalam usia 90 tahun.
Beliau kemudian dimakamkan di kompleks pemakaman bersejarah Jannat al-Mu'alla, sebuah kehormatan yang sangat jarang diperoleh oleh warga negara Indonesia. (*)