Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Satu jam mungkin terasa singkat bagi sebagian orang. Namun bagi peserta Komunitas Baca di Bandung, satu jam itu menjadi waktu khusus untuk berhenti sejenak dari kesibukan, menjauh dari layar gawai, lalu menikmati buku bersama orang-orang yang bahkan tak selalu mereka kenal.
Aktivitas tersebut dilakukan di ruang terbuka. Di sejumlah taman kota di Bandung, puluhan hingga ratusan orang rutin berkumpul setiap bulan untuk membaca dalam keheningan.
Tidak ada diskusi, tidak ada kewajiban berkenalan, apalagi ulasan buku. Mereka hanya datang, duduk, dan membaca bersama.
Gerakan membaca senyap itu digagas Balebat Buana Puspa melalui Komunitas Baca di Bandung yang berdiri pada awal 2024.
Berawal dari keinginan sederhana untuk melakukan sesuatu bagi literasi, kegiatan tersebut kini berkembang menjadi ruang perjumpaan bagi berbagai kalangan yang dipersatukan oleh kegemaran membaca.
Balebat mengaku ide itu muncul setelah beberapa tahun mengikuti berbagai klub buku. Saat itu, kata dia, sebagian besar kegiatan membaca bersama masih dilakukan secara daring.
Ia juga banyak berdiskusi dengan rekannya yang lebih dulu mendirikan Silent Book Club di Jakarta.
Di sisi lain, kecintaannya pada literasi sudah tumbuh sejak kecil. Ayahnya memperkenalkan kebiasaan membaca dan pentingnya pendidikan sejak dini.
Ketika memasuki tahun 2024, ia merasa perlu menghadirkan sesuatu yang bisa dilakukan sesuai kapasitasnya sebagai pekerja penuh waktu.
"Saya ingin melakukan sesuatu untuk literasi, tapi yang sesuai dengan energi dan kapasitas yang saya punya. Akhirnya saya memutuskan membuat Baca di Bandung," ujarnya, saat ditemui di Bainmarielab, Jalan Cikawao no 8, Kota Bandung, Sabtu (20/6/2026).
Konsep yang diadopsi sebenarnya sederhana. Dalam format aslinya, Silent Book Club hanya mengajak peserta membaca selama satu jam.
Namun perempuan asal Bekasi itu menambahkan unsur yang menurutnya penting, yakni pemanfaatan ruang publik.
Jika banyak komunitas membaca memilih kafe sebagai tempat berkumpul, ia justru mengincar taman kota.
Menurutnya, taman merupakan ruang bersama yang seharusnya bisa dimanfaatkan warga untuk berbagai kegiatan positif, termasuk membaca.
"Memang ingin mengenalkan bahwa kita punya ruang publik yang bisa digunakan bersama. Saya juga ingin menormalisasi bahwa membaca di ruang publik itu tidak apa-apa," katanya.
Kegiatan pertama digelar di sebuah kafe di kawasan Jalan Cempaka dengan kapasitas sekitar 15 orang.
Informasi disebarkan melalui akun Instagram yang saat itu baru dibuat dan belum memiliki banyak pengikut.
"Peserta yang datang awalnya hanya berkisar 20 hingga 30 orang dan mayoritas perempuan," katanya.
Dikatakannya, untuk mengatur jumlah peserta, pihaknya sempat menerapkan sistem pendaftaran.
"Setelah beberapa bulan berjalan, sistem tersebut dihapus. Sekarang sudah jauh fleksibel," imbuhnya.
Balebat ingin kegiatan membaca menjadi lebih luwes. Siapa pun yang ingin datang cukup hadir tanpa harus mendaftarkan diri terlebih dahulu.
Keputusan itu sempat menimbulkan kekhawatiran. Ia tidak yakin peserta akan mengetahui lokasi kegiatan tanpa sistem registrasi.
"Namun yang terjadi justru sebaliknya. Antusiasme justru terus meningkat," katanya.
Dari puluhan peserta, jumlahnya bertambah menjadi 50 orang, kemudian 70 orang. Dalam dua bulan terakhir, peserta yang hadir rutin menembus angka 100 orang. Pertemuan terakhir bahkan dihadiri 148 peserta.
Menurut Balebat, tingginya partisipasi itu menunjukkan bahwa membaca masih memiliki tempat di tengah masyarakat.
"Mereka datang karena disatukan oleh kesenangan yang sama, yaitu membaca," ujarnya.
Baca di Bandung mengusung konsep reading for pleasure atau membaca untuk kesenangan. Bagi Balebat, kebiasaan membaca tidak bisa dipaksakan melalui target-target yang berat.
Sebelum seseorang menjadi pembaca sepanjang hayat, ia harus terlebih dahulu menemukan rasa senang saat membaca.
Karena itu, komunitas tersebut tidak membatasi jenis bacaan yang dibawa peserta. Novel, komik, buku pengembangan diri, buku sejarah, buku digital, hingga karya sastra memiliki ruang yang sama.
Ia juga menolak anggapan bahwa satu jenis bacaan lebih baik dibandingkan jenis bacaan lainnya.
"Membaca itu pengalaman yang personal. Kita tidak bisa menghakimi seseorang berdasarkan apa yang dia baca," katanya.
Menurut dia, nilai-nilai kehidupan tidak hanya ditemukan dalam buku nonfiksi. Buku fiksi, cerita anak, bahkan karya-karya populer juga menyimpan banyak pelajaran yang membekas dalam kehidupan pembacanya.
Karena itu, yang terpenting bukan jenis bukunya, melainkan bagaimana seseorang menikmati proses membaca tersebut.
"Peserta datang membawa buku masing-masing, lalu membaca selama satu jam. Setelah itu, kami membagikan stiker yang bisa ditempel pada kartu koleksi peserta. Jika kartu tersebut penuh, peserta akan memperoleh marchindise dari komunitas," jelasnya.
Setelah sesi membaca selesai, peserta berfoto bersama dan kegiatan berakhir. Tidak ada sesi diskusi maupun presentasi buku. Meski demikian, hubungan antarpeserta justru tumbuh secara alami.
Sebagian memilih langsung pulang. Sebagian lainnya tetap bertahan di lokasi untuk berbincang.
"Ada yang kemudian berteman, menonton film bersama, hingga membuat kegiatan lain di luar komunitas. Itu alami," ucapnya.
Balebat memang sengaja merancang kegiatan itu agar ramah bagi para introvert.
"Saya tidak ingin ada tekanan untuk harus ngobrol atau harus kenalan. Kita cukup saling menemani dalam membaca," ujarnya.
Dari berbagai pertemuan yang digelar selama dua tahun terakhir, ia menyaksikan banyak cerita yang menghangatkan hati.
"Peserta yang datang tidak hanya anak muda, ada juga keluarga yang membawa anak-anak mereka, para lansia, hingga penyandang disabilitas," katanya.
Salah satu momen yang paling diingatnya adalah ketika seorang perempuan pengguna kursi roda datang bersama ibunya.
Di lokasi yang sama, perempuan tersebut bertemu peserta lain yang merupakan penyintas kanker.
Keduanya kemudian berbincang dan saling berbagi pengalaman.
"Buat saya itu hangat sekali, warm. Kegiatan membaca ini ternyata bisa menjadi ruang aman untuk banyak orang," katanya.
Memasuki tahun ketiga, Balebat mulai memikirkan arah jangka panjang komunitas yang dibangunnya.
Ia merumuskan tiga tujuan utama yang ingin dicapai melalui Baca di Bandung.
Pertama, membangun budaya membaca atau reading culture. Kedua, memperluas akses literasi. Ketiga, mendorong eksplorasi literasi.
Menurutnya, persoalan literasi di Indonesia tidak selalu berkaitan dengan rendahnya minat baca. Dalam banyak kasus, akses terhadap buku justru menjadi tantangan yang lebih besar.
Pemikiran itu muncul setelah ia mendengar cerita dari sebuah taman baca di Sumedang.
Ketika ditanya buku apa yang mereka sukai, sejumlah anak menjawab buku tulis. Mereka bahkan belum mengetahui adanya buku bacaan di luar buku sekolah.
"Bayangkan, jaraknya hanya sekitar satu jam dari Bandung. Tapi masih ada anak-anak yang belum mengenal buku bacaan," ujarnya.
Pengalaman tersebut mendorongnya untuk lebih banyak menjangkau wilayah yang memiliki keterbatasan akses literasi.
Belum lama ini, ia terlibat dalam kegiatan membacakan buku untuk anak-anak di Desa Cipicung. Salah satu buku yang digunakan mengangkat isu lingkungan dan perubahan iklim dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak.
Menurut Balebat, literasi tidak hanya berhenti pada aktivitas membaca. Literasi juga bisa menjadi pintu masuk untuk memahami berbagai persoalan kehidupan, lingkungan, budaya, hingga perjalanan manusia.
Karena itu, ia berharap gerakan yang dimulai dari kegiatan membaca senyap di taman dapat berkembang menjadi budaya yang lebih luas.
Bagi perempuan kelahiran 1996 ini, membaca tetap menjadi salah satu cara terbaik untuk memperluas cara pandang seseorang terhadap dunia.
Lewat membaca, seseorang tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga belajar memahami kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
"Semakin banyak membaca, kita belajar untuk lebih rendah hati. Kita jadi tidak mudah menghakimi orang lain karena memahami bahwa setiap orang punya cerita yang tidak selalu kita ketahui," katanya. (*)