Laporan Kontributor Tribunjabar.id M Rizal Jalaludin
TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Kecelakaan laut yang dialami wisatawan asal Bogor yakni seorang ayah dan anak bernama Ahmad Efendi (36) dan Tobi Efendi (12) yang terjadi di kawasan Konservasi Penyu Pangumbahan, tepatnya di Muara Sungai Pasir Putih, Pantai Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (19/6/2026) menjadi sorotan.
Pasalnya, terdapat tiket masuk yang harus dibayar wisatawan saat masuk ke kawasan Konservasi Penyu yang dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Barat itu.
Diketahui, dalam Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2023, pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp10 ribu untuk orang dewasa dan Rp 5.000 untuk anak-anak.
Mirisnya, meski ditarif untuk masuk, ternyata wisatawan tidak mendapatkan asuransi keselamatan saat berkunjung ke lokasi tersebut.
Hal itu pun diakui oleh pengelola Konservasi Penyu Pangumbahan.
Koordinator Konservasi Penyu, Mahardika Zahrankristanto, membenarkan bahwa tidak ada asuransi dari tarif tiket yang dibayar wisatawan.
Mahardika mengatakan, saat ini pihaknya sedang berkoordinasi dengan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) serta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Barat untuk melakukan penyesuaian skema tiket.
"Kaitan dengan asuransi, kami sudah berkoordinasi dengan BPKAD dan Bapenda Provinsi terkait penyesuaian tiket. Karena selama ini harga tiket yang diatur dalam perda memang belum termasuk asuransi," ungkap Mahardika kepada awak media, Sabtu (20/6/2026).
Mahardika menjelaskan, pihaknya juga tengah mencari vendor atau perusahaan asuransi yang bisa bekerjasama untuk memberikan pelayanan perlindungan kepada wisatawan yang berkunjung ke Konservasi Penyu Pangumbahan.
Mengenai respons pihak konservasi kepada keluarga korban yang hilang tenggelam. Mahardika mengatakan pihaknya telah memberikan pendampingan hingga memberikan tempat singgah untuk istri korban sembari menunggu pencarian.
Saat ini menyisakan satu orang korban yakni Tobi Efendi yang masih belum ditemukan. Sedangkan Ahmad Efendi berhasil ditemukan tim SAR dalam keadaan meninggal dunia.
"Tentu bela sungkawa kepada ibu dan anaknya dan saudara-saudaranya yang sudah datang, bela sungkawa dari saya selaku dari pegawai konservasi penyu di sini sebagai koordinator. Yang kedua tentu, kami sudah memberikan support maksimal kepada korban," kata Mahardika.
"Baik itu pendampingan secara psikologis, baik itu dari ibunya ketika kejadian kami langsung memberikan tempat tempat tinggal, yaitu di cottage. Kami memberikan tempat tidur, kemudian juga memberikan support, dengan bantuan dari BPBD juga," jelasnya.