Laporan Reporter TribunStyle.com, Sinta Manila
TRIBUNSTYLE.COM - Di tengah pesatnya perkembangan hiburan modern dan gempuran budaya digital, Kota Solo masih memiliki satu pertunjukan seni yang terus bertahan melintasi zaman.
Wayang Orang Sriwedari menjadi bukti bahwa warisan budaya tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Tak hanya menjadi tontonan, kesenian ini juga menjadi bagian penting dari identitas budaya Kota Bengawan yang telah hidup selama lebih dari satu abad.
Wayang Orang Sriwedari dikenal sebagai salah satu kelompok wayang orang tertua di Indonesia yang hingga kini masih aktif menggelar pementasan secara rutin.
Pertunjukan ini menyajikan kisah-kisah pewayangan legendaris, mulai dari epos Mahabarata hingga Ramayana, yang dibawakan melalui perpaduan seni tari, drama, musik gamelan, dan dialog khas Jawa.
Baca juga: Monumen Pers Nasional Solo, Menelusuri Jejak Sejarah Jurnalisme Indonesia dari Masa ke Masa
Sejarah Wayang Orang Sriwedari berakar dari lingkungan keraton. Pada masa pemerintahan Paku Buwono X, sekitar tahun 1910, kesenian wayang orang mulai diperkenalkan kepada masyarakat luas melalui pertunjukan komersial.
Sejak saat itu, Wayang Orang Sriwedari berkembang menjadi salah satu ikon budaya Solo yang dikenal hingga mancanegara.
Nilai sejarah dan budayanya yang tinggi membuat Wayang Orang Sriwedari ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Status tersebut menjadi pengakuan atas kontribusi besar kesenian ini dalam menjaga dan melestarikan tradisi Jawa di tengah perubahan zaman.
Salah satu keunikan yang membuat pertunjukan Wayang Orang Sriwedari berbeda dari pertunjukan seni lainnya adalah pergantian lakon setiap hari. Penonton yang datang pada malam berbeda akan mendapatkan cerita yang berbeda pula.
Baca juga: Pasar Tempo Doeloe Gunung Kunci Kartasura Sukoharjo, Wisata Budaya Bernuansa Jawa Tempo Dulu
Selain mengangkat kisah-kisah pakem dari Mahabarata dan Ramayana, para seniman juga menghadirkan cerita carangan yang sarat humor, kritik sosial, hingga kisah percintaan dalam dunia pewayangan.
Keberagaman cerita tersebut membuat pertunjukan tetap menarik untuk ditonton berulang kali. Setiap lakon menghadirkan karakter, konflik, dan pesan moral yang berbeda, sehingga penonton selalu mendapatkan pengalaman baru setiap kali berkunjung.
Tidak hanya menarik bagi masyarakat lokal, Wayang Orang Sriwedari juga menjadi salah satu daya tarik wisata budaya bagi wisatawan luar daerah maupun mancanegara.
Untuk membantu pengunjung asing memahami alur cerita yang dibawakan dalam bahasa Jawa, pengelola kerap menyediakan lembar sinopsis berbahasa Inggris.
Fasilitas sederhana ini membuat wisatawan dapat menikmati pertunjukan dengan lebih mudah sekaligus mengenal budaya Jawa secara lebih mendalam.
Pertunjukan digelar secara rutin setiap Senin hingga Sabtu di Gedung Wayang Orang Sriwedari yang berlokasi di Jalan Kebangkitan Nasional No. 15, Sriwedari, Kecamatan Laweyan, Kota Solo.
Loket tiket mulai dibuka pukul 18.30 WIB, sementara pementasan dimulai pukul 20.00 WIB hingga selesai.
Harga tiket yang ditawarkan juga tergolong terjangkau. Wisatawan domestik hanya perlu membayar Rp20.000 per orang, sedangkan wisatawan mancanegara dikenakan tarif Rp50.000 per orang.
Tiket dapat dibeli langsung di lokasi atau melalui reservasi WhatsApp bagi penonton yang ingin memastikan ketersediaan kursi.
Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, keberadaan Wayang Orang Sriwedari menjadi pengingat bahwa budaya tradisional tetap memiliki nilai penting untuk dijaga.
Bukan sekadar pertunjukan seni, Wayang Orang Sriwedari merupakan panggung hidup yang merawat sejarah, identitas, dan kearifan budaya Jawa agar tetap dikenal oleh generasi masa kini maupun masa mendatang.
(TribunStyle.com /Sinta Manila/Farah Aulya)