TRIBUNJATENG.COM – Bagi banyak orang Indonesia, nasi adalah makanan pokok yang hampir selalu hadir di setiap waktu makan.
Namun di tengah meningkatnya kasus diabetes, obesitas, dan gangguan metabolik, muncul pertanyaan yang semakin sering diajukan: adakah jenis beras yang lebih ramah terhadap gula darah?
Salah satu jawabannya datang dari beras dengan indeks glikemik rendah (Low Glycemic Index/Low GI).
Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Hidup Sehat, UIN Saizu Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis
Baca juga: Lansia di Kabupaten Semarang Didorong Ikut Senam Tera Biar Tetap Sehat
Indeks glikemik merupakan ukuran yang menunjukkan seberapa cepat karbohidrat diubah menjadi glukosa dalam tubuh. Makanan dengan GI tinggi cenderung memicu lonjakan gula darah yang cepat, sedangkan makanan dengan GI rendah menghasilkan peningkatan yang lebih bertahap.
Beras jenis ini diklaim mampu melepaskan glukosa ke dalam darah secara lebih lambat dibandingkan beras putih biasa, sehingga membantu menjaga kestabilan kadar gula darah.
Menurut berbagai penelitian, beras basmati termasuk salah satu jenis beras yang memiliki indeks glikemik lebih rendah dibandingkan sebagian besar beras putih pada umumnya.
Nilai GI basmati umumnya berada pada kisaran 50–58, sementara banyak jenis beras putih biasa berada pada rentang 70 ke atas.
Semakin rendah nilai GI, semakin lambat makanan tersebut meningkatkan kadar gula darah.
Selain menjaga kadar gula darah, basmati juga membuat rasa kenyang bertahan lebih lama hingga mendukung program pengendalian berat badan.
Meski demikian, para ahli tetap mengingatkan bahwa porsi makan dan kombinasi makanan tetap berperan penting. Beras rendah GI akan memberikan manfaat optimal jika dikonsumsi bersama sumber protein, sayuran, dan lemak sehat dalam jumlah seimbang.
Shukriya Foods Hadirkan Beras Low GI untuk Pasar Indonesia
Kesadaran akan pentingnya pangan sehat inilah yang mendorong PT Mega Guna Shari melalui merek Shukriya Foods menghadirkan beragam produk beras basmati dan ponni ke pasar Indonesia sejak 2019.
CEO Shukriya Foods, Pradeep Sainani, mengatakan perusahaan sejak awal tidak hanya menyasar diaspora India, tetapi masyarakat Indonesia secara luas.
"Target kita bukan hanya diaspora India, target kita adalah seluruh Indonesia. Kalau saya lihat makanan utama di Indonesia adalah nasi. Banyak yang kena diabetes atau darah tinggi. Karena itu kami membawa produk yang mengarah ke kesehatan," ujar Pradeep.
Ia menjelaskan bahwa salah satu alasan utama memilih beras basmati adalah karena karakteristik indeks glikemiknya yang lebih rendah.
"Di awal-awal kita bawa basmati rice. Seluruh dunia sudah terkenal. Tingkat glycemic index di basmati sekitar 50 poin. Itu masuk kategori low GI. Di kemasan kita juga ada logo Low Glycemic Index," katanya.
Menurut Pradeep, selain faktor kesehatan, beras basmati juga memiliki keunggulan dari sisi volume setelah dimasak.
"Kalau beras lokal pakai 100 gram, basmati cukup sekitar 65 gram karena karakter basmati menyerap air. Setelah dimasak bisa mengembang dua sampai tiga kali lipat," jelasnya.
Sementara itu, Public Relations and Media Shukriya Foods, Muhammad Nur Ichwan, menjelaskan bahwa karakter rendah GI pada produk mereka diperoleh dari proses pengolahan yang mempertahankan nutrisi alami padi.
"Beras kita sudah tersertifikasi Low Glycemic Index. Dalam proses pengolahan dari padi menjadi beras, kita mempertahankan nutrisi yang ada di kulit padinya supaya terserap ke dalam bulir beras," ujar Ichwan.
Ia menambahkan bahwa beras yang lebih rendah GI dapat membantu menjaga kestabilan gula darah setelah makan.
"Khasiatnya yang pasti menjaga kestabilan gula darah. Rasa kenyangnya juga lebih lama karena penyerapan gula darah berlangsung lebih stabil," katanya.
Menurut Ichwan, karakteristik lain dari beras basmati adalah bentuk bulir yang panjang serta kemampuan menyerap bumbu lebih baik dibandingkan beras biasa.
"Basmati akan mengembang setelah dimasak, bisa dua sampai tiga kali lipat. Selain itu penyerapan bumbunya lebih merata sehingga cocok untuk berbagai olahan makanan," ujarnya. (*)