WARTAKOTALIVE.COM, TANGERANG SELATAN - Disjoki Dinar Candy tengah berbahagia setelah rumah mewah yang dibangunnya sejak masa pandemi Covid-19 akhirnya rampung dan siap ditempati.
Rumah megah yang berdiri di kawasan BSD, Tangerang Selatan itu dibangun di atas lahan seluas 1.100 meter persegi dengan total biaya mencapai Rp20 miliar.
"Aku bangun rumah ini sejak Covid. Total menghabiskan Rp20 miliar, karena tanah dan bangunannya saja Rp16 miliar, interiornya Rp4 miliar," kata Dinar Candy saat ditemui di kediaman barunya, beberapa waktu lalu.
Perempuan bernama asli Dinar Miswari itu mengaku saat pandemi memilih mengalokasikan penghasilannya untuk membayar uang muka rumah dan melanjutkan pembangunan secara bertahap hingga selesai.
Dinar menjelaskan konsep interior rumah tiga lantainya sepenuhnya dipercayakan kepada sang adik, Beni.
Lantai pertama dirancang sebagai area bersantai yang nantinya dilengkapi meja biliar dan taman. Sementara lantai kedua digunakan sebagai area berkumpul bersama teman-teman dengan fasilitas kolam renang dan ruang makan yang luas.
Adapun lantai ketiga menjadi area privat miliknya. Tiga kamar tidur yang ada digabung menjadi satu ruangan besar yang terdiri dari kamar utama dan ruang wardrobe.
"Lantai tiga ini area privat aku. Ada tiga kamar tidur yang sengaja disatukan menjadi satu ruangan besar, ada kamar tidur utama dan wardrobe," ujar Dinar.
Wanita berusia 33 tahun itu mengaku rumah di BSD merupakan hunian ketiganya. Ia memilih tinggal di kawasan tersebut karena suasananya masih asri dan tidak terlalu padat.
"Aku nyobain tinggal di BSD karena suasananya lega, tidak terlalu macet, dan asri. Tapi ternyata setelah dicoba, lumayan jauh ya kalau harus bolak-balik syuting," jelasnya.
Dinar juga mengungkapkan dirinya bukan tipe orang yang gemar menghamburkan uang untuk membeli barang mewah. Menurutnya, kebiasaan hidup sederhana menjadi salah satu alasan dirinya mampu mewujudkan rumah impian.
"Aku tidak suka berbelanja yang tidak karuan. Kalau beli baju, benar-benar hanya untuk keperluan pertunjukan saja," ujar Dinar.
"Kalau membeli barang bermerek seperti sepatu bot, aku hanya membelinya jika memang akan dipakai. Jika tidak, tidak akan aku beli," sambungnya. (Ari)