BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Bagimana nasib kesenian Topeng Banjar jika suatu saat semakin sedikit pewaris yang dapat meneruskannya?
Pertanyaan itu mengusik seniman tari asal Kalimantan Selatan, Lupi Anderiani di tengah kuatnya tradisi yang menjaga kesakralan kesenian tersebut.
Kegelisahan itulah yang kemudian melahirkan Tari Topeng Srikandi, sebuah karya baru yang dikembangkan di luar pakem klasik Topeng Panji yang selama ini hidup dan dijaga masyarakat adat di Barikin, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).
Bagi Lupi, Topeng Banjar merupakan warisan budaya yang memiliki nilai sakral tinggi. Namun di sisi lain, aturan adat yang membatasi pewarisan dan ruang pertunjukannya membuat kesenian tersebut berpotensi semakin sulit dikenal oleh generasi muda.
Baca juga: Harga Gas Melon Melonjak dan Langka di Banjarbaru, Pedagang Kecil Beralih ke Gas Orang Kaya
Baca juga: Gempa Guncang NTT Minggu 21 Juni 2026, Pusat Getaran di Borong Mangggai Timur, Cek Kekuatannya
“Topeng Banjar di Barikin memiliki pakem Panji yang sangat disakralkan oleh masyarakat setempat. Regenerasinya cukup rumit karena hanya diturunkan kepada zuriat atau keturunan. Selain itu, pertunjukannya juga terbatas pada kegiatan adat dan ritual tertentu,” katanya, dalam Sarasehan Tari Topeng Srikandi di Gedung Balairung Sari, Taman Budaya Kalsel, Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya, selama Topeng Banjar hanya hadir dalam ruang-ruang adat yang terbatas, kesempatan masyarakat luas untuk mengenal dan mempelajari kesenian tersebut juga menjadi terbatas.
Oleh karena itu, Lupi mencoba mencari jalan tengah. Bukan dengan mengubah atau mengurangi nilai kesakralan Topeng Panji, melainkan dengan menciptakan karya baru yang tetap berakar pada tradisi Banjar.
Pilihan kemudian jatuh pada tokoh Srikandi dari kisah Mahabharata. Menurut Lupi, cerita Mahabharata memiliki ruang pengembangan yang lebih terbuka melalui konsep “pancar”, yakni penciptaan kisah-kisah baru tanpa mengubah tokoh utama yang telah ada.
Meski demikian, proses penciptaan Topeng Srikandi tidak dilakukan secara sepihak. Sebelum mulai mengembangkan karya tersebut, Lupi lebih dulu melakukan riset dan berdiskusi dengan sejumlah tokoh adat untuk memastikan gagasan tersebut tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang selama ini dijaga masyarakat.
Ia mengatakan, salah satu tokoh yang memberikan restu adalah almarhum Dalang Dimansyah, maestro dalang Banjar sekaligus pewaris tradisi topeng yang dihormati masyarakat.
“Pertama kami melakukan pendekatan kepada tokoh adat dan meminta pendapat apakah memungkinkan membuat topeng baru di luar pakem Panji. Salah satu yang memberikan izin adalah almarhum Dalang Dimansyah,” kenangnya.
Tantangan berikutnya adalah menghadirkan visual tokoh Srikandi dalam bentuk Topeng Banjar. Sebab, sepanjang pengetahuan yang diperolehnya dari berbagai sumber, karakter tersebut belum pernah diwujudkan dalam tradisi Topeng Banjar sebelumnya.
Untuk itu, ia menggunakan figur Srikandi dalam Wayang Kulit Banjar sebagai rujukan utama dalam merancang bentuk wajah, karakter, dan ekspresi topeng.
Meski telah melahirkan sebuah karya baru, Lupi mengakui proses kreatif tersebut belum sepenuhnya selesai. Ia masih membuka ruang dialog dan menerima berbagai masukan dari para dalang, budayawan, maupun pelaku seni lainnya untuk menyempurnakan Topeng Srikandi.
Bagi dia, tujuan utama dari karya tersebut bukanlah menciptakan tradisi tandingan, tetapi memperluas ruang apresiasi agar masyarakat semakin mengenal warisan budaya Topeng Banjar.
“Tujuan kami bukan mengubah atau mencederai tradisi yang ada, tetapi mencari ruang agar Topeng Banjar tetap hidup, dikenal, dan berkembang di tengah masyarakat luas,” katanya.
Upaya tersebut mendapat dukungan melalui kegiatan Revitalisasi Seni Topeng Banjar yang diselenggarakan UPTD Taman Budaya Kalsel di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi setempat pada 19–20 Juni 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Banjarmasin itu menjadi bagian dari upaya pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan warisan budaya daerah yang memiliki nilai historis dan kearifan lokal tinggi.
Kepala UPTD Taman Budaya Kalsel, Rizal Pahmi mengatakan, Seni Topeng Banjar tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Menurutnya, kesenian tersebut juga merupakan identitas budaya masyarakat Banjar yang mengandung nilai-nilai luhur dan memiliki fungsi edukatif bagi generasi muda.
Ia mengatakan, revitalisasi dilakukan sebagai bentuk pembaruan agar Seni Topeng Banjar tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan pakem dan nilai tradisi yang diwariskan para pendahulu.
“Kami berharap kesenian ini terus berkembang dan semakin dikenal masyarakat, namun nilai-nilai sakral yang menjadi bagian penting dari tradisi tetap terjaga dengan baik,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, pihaknya berencana berkoordinasi dengan Disdikbud Kalsel untuk mendorong pengenalan Seni Topeng Banjar melalui kurikulum muatan lokal di sekolah.
Langkah tersebut diharapkan menjadi sarana regenerasi pelaku seni sekaligus memperkenalkan warisan budaya Banjar kepada generasi muda sejak dini.
“Mudah-mudahan mendapat respons yang baik sehingga Seni Topeng Banjar dapat masuk dalam kurikulum muatan lokal. Dengan demikian, anak-anak di lingkungan pendidikan dapat mengenal dan memahami warisan budaya Banjar ini,” katanya.
Sementara itu, akademisi Universitas Lambung Mangkurat, Setia Budhi, menilai upaya pelestarian Topeng Banjar juga perlu diperkuat melalui jalur akademik.
Menurutnya, penelitian, dokumentasi, dan publikasi ilmiah menjadi langkah penting agar kesenian tersebut tidak hanya bertahan sebagai pertunjukan budaya, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan yang dapat dipelajari lintas generasi.
Ia menilai Kalsel memiliki banyak kekayaan budaya yang masih minim kajian. Karena itu, mahasiswa dan dosen didorong untuk lebih aktif melakukan penelitian mengenai Topeng Banjar.
Selain itu, ia juga menyoroti masih terbatasnya literatur yang secara khusus membahas Topeng Banjar. Padahal, keberadaan buku dan hasil penelitian dapat menjadi rujukan penting bagi masyarakat, akademisi, maupun pemerintah dalam merumuskan langkah pelestarian budaya daerah secara berkelanjutan.
(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki)