Pesona Batu Pandang Ratapan Angin di Jujugan, Kejajar, Wonosobo: Sensasi negeri di atas awan!
TRIBUNSTYLE.COM – Kabupaten Wonosobo dianugerahi rupa-rupa destinasi wisata yang bervariasi, mulai dari keindahan alam murni hingga objek wisata buatan manusia.
Apabila Anda sedang berada di Wonosobo, objek wisata Batu Pandang Ratapan Angin merupakan salah satu destinasi ikonik yang wajib dimasukkan ke dalam agenda kunjungan Anda.
Daya tarik utama tempat ini berpusat pada pesona formasi batuan alami yang eksotis. Selain itu, para pelancong juga disuguhkan lanskap memukau dataran tinggi Dieng dari ketinggian.
Secara administratif, lokasinya terletak di Desa Jujugan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Perjalanan menuju ke titik ini memerlukan waktu sekitar 1 jam berkendara jika bertolak dari pusat kota Wonosobo.
Baca juga: Kuliner Khas Semarang, Jawa Tengah: 3 Tahu Gimbal yang Bikin Makan Siang Makin Nikmat
Objek wisata Batu Pandang Ratapan Angin bertengger di ketinggian kurang lebih 2.100 meter di atas permukaan laut (MDPL). Dari titik elevasi ini, sejauh mata memandang, terhampar rupa-rupa pemandangan yang begitu memesona.
Untuk bisa menapaki puncak bebatuan tertinggi di area ini, pengunjung ditantang untuk berjalan kaki terlebih dahulu melewati jalur anak tangga yang berundak-undak.
Namun, setibanya di puncak, segala peluh dan rasa letih selama berjalan menanjak seketika akan sirna, terbayar lunas oleh embusan udara yang sejuk serta panorama yang menakjubkan. Sapuan semilir angin yang dingin menyapa para pelancong di atas, membuat siapa pun betah menghabiskan waktu berlama-lama.
Tepat di puncak batu tertinggi tersebut, tumbuh sebuah pohon yang uniknya dijuluki sebagai "pohon jodoh". Di spot ini, wisatawan diperbolehkan duduk santai di batang pohon sembari mengabadikan momen lewat jepretan foto.
Bila mengarahkan pandangan ke sisi utara, wisatawan dapat menyaksikan keanggunan Telaga Warna dan Telaga Pengilon Dieng dari atas ketinggian, bersanding dengan kemegahan Gunung Paru. Pada momen-momen tertentu, gumpalan kabut awan kerap melintas pelan di atas permukaan telaga, menyajikan sensasi magis layaknya berada di negeri di atas awan.
Sementara di arah barat, pandangan mata akan dimanjakan oleh lanskap Kawah Sikidang serta kompleks Candi Arjuna Banjarnegara yang tampak sayup-sayup dari kejauhan. Beralih ke sisi selatan, panorama kokoh dari Gunung Pakuwaja, bukit Sikunir, hingga bukit Sikendil turut menyempurnakan keindahan tempat ini.
Momen paling ideal untuk bisa mengagumi dan menangkap seluruh keindahan visual tersebut adalah antara pukul 07.30 hingga 10.00 pagi. Pada rentang waktu inilah pencahayaan sangat pas bagi wisatawan yang ingin berfoto dengan latar belakang panorama alam Dieng.
Selain spot pohon, pengunjung juga bisa menguji nyali dengan melintasi jembatan gantung yang membentang di antara celah bebatuan untuk berburu foto yang estetik.
"Wisatanya bagus, apalagi pas di atas pemandangannya indah banget, udaranya juga sejuk," ungkap Yaza salah satu wisatawan.
Baca juga: Wisata Keliling Surakarta, Jawa Tengah Naik Bus Tingkat Werkudara, Cocok untuk Libur Sekolah.
Demi menjamin kenyamanan para pelancong, pihak pengelola telah menyediakan beragam sarana umum, seperti musala, toilet bersih, pondokan untuk berteduh, hingga deretan warung yang menjajakan makanan.
Di balik nama eksentrik Batu Pandang Ratapan Angin, lokasi ini ternyata menyimpan lembaran kisah sejarah tersendiri. Ahmad Rouf selaku pengelola objek wisata ini membeberkan asal-usul di balik penamaan tempat tersebut.
Alkisah pada era kolonialisme Belanda, warga setempat memanfaatkan rongga-rongga gua batu di kawasan ini sebagai tempat persembunyian. Sebenarnya terdapat 3 titik gua di area ini, namun hanya satu gua saja yang saat ini dibuka untuk dikunjungi masyarakat umum.
"Dahulu di sini sering terdengar seorang yang menangis. Seperti meratapi kesedihan saat orang-orang Dieng dijajah Belanda. Namun saat keluar tidak ditemukan orang menangis hanya terdengar hembusan angin saja," jelasnya.
Berangkat dari kisah turun-temurun itulah, kawasan bebatuan ini akhirnya masyhur dinamai Batu Ratapan Angin atau Batu Pandang Ratapan Angin. Kendati beredar beberapa versi cerita sejarah lokal lainnya, narasi inilah yang paling populer dan kerap didengar oleh masyarakat.
Bagi Anda yang terpikat untuk menghabiskan waktu liburan di destinasi ini, tiket masuknya dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau, yakni Rp15.000 saja per orang. Objek wisata ini beroperasi setiap hari mulai pukul 06.00 pagi hingga pukul 17.00 sore. (ima)
(TribunMuria.com/Imah Masitoh/TribunStyle.com/Naja Taqiyyuddin)