Pakai Gamis Berlapis-lapis Cara Jamaah Haji Indonesia Siasati Kelebihan Barang Bawaan
Ilham Mulyawan June 21, 2026 06:47 PM

Laporan Wartawan Tribunnnews.com Sri Juliati dari Jeddah Arab Saudi

TRIBUN-SULBAR.COM - "Ini saya dan suami tidak boleh masuk ruang tunggu, karena tasnya kebesaran," ujar Seorang jamaah haji Indonesia asal Bangkalan, Madura.

Zainab dan suaminya, Masykur terpaksa mengeluarkan barang-barang dari tas plastik karena kelebihan barang bawaan.

Baca juga: Harga Minyak Goreng di Mamuju Makin Panas Naik Rp3.000 Hingga Rp7.000

Baca juga: Couple Goals Pasutri ASN Pemprov Sulbar Sukses Raih Gelar Doktor Bersamaan di Unhas Wisuda 23 Juni

Sang suami, Masykur terpaksa mengenakan baju gamis berlapis-lapis, bahkan hingga lebih dari lima lapis, agar gamis oleh-oleh untuk keluarga bisa dibawanya ke kabin pesawat.

Peristiwa itu terjadi di Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdulaziz, Madinah, Kamis (18/6/2026) kemarin.

Belasan jemaah yang tergabung dalam Kloter 69 Embarkasi Surabaya (SUB) sempat tertolak masuk ruang tunggu keberangkatan internasional.

Pasalnya, ukuran dan isi tas jinjing para jemaah melebihi kapasitas yang diizinkan maskapai Saudi Airlines.

Mereka pun harus mundur dari antrean dan membongkar ulang barang bawaan mereka di kursi-kursi ruang tunggu bandara.

Sandal jepit bekas, sampo sachet, pakaian ganti, hingga bungkusan masker dikeluarkan satu per satu demi mengurangi beban tas.

Keduanya lantas dibantu petugas dari layanan Perlindungan Jemaah (Linjam) Daerah Kerja Bandara, M Firdaus, bersama sejumlah petugas lainnya.

Setelah beberapa barang dikeluarkan, Zainab dan suaminya kembali mencoba masuk ke area pemeriksaan. 

Namun upaya kedua itu juga gagal karena barang bawaan mereka masih dianggap melebihi standar kabin.

Melihat kondisi tersebut, Firdaus memiliki cara tersendiri agar oleh-oleh yang dibeli jemaah tidak perlu ditinggalkan.

Ia meminta pasangan tersebut mengeluarkan seluruh gamis dan kain yang ada di dalam tas, lalu mengenakannya sekaligus.

"Nggak apa-apa, Pak, pakai lagi ini, sayang kalau ditinggal," jawab Firdaus.

Masykur pun kembali mengenakan beberapa lapis pakaian. 

Begitu juga Zainab yang akhirnya memakai lebih dari enam lapis baju.

Strategi sederhana itu berhasil. Setelah isi tas berkurang drastis, keduanya kembali menuju pemeriksaan keamanan dan akhirnya lolos masuk ruang tunggu keberangkatan.

"Alhamdulillah, lolos," ujar Zainab dengan wajah lega.

Bukan Hal Baru

Bagi Firdaus, cara tersebut bukan hal baru. Sebagai petugas Linjam yang bertugas melindungi dan membantu jemaah haji Indonesia, ia mengaku sering "mendandani" jemaah yang mengalami kelebihan barang bawaan.

"Kadang kami bawa jemaah haji kita ke pojokan ruang tunggu, agar bisa lebih banyak lagi memakai baju-baju gamis untuk oleh-oleh keluarga mereka di Indonesia," ujar Firdaus.

Firdaus yang sehari-hari bertugas di Mabes TNI itu mengatakan, tak jarang jemaah harus mengenakan hingga sembilan atau sepuluh lapis pakaian agar tas mereka memenuhi ketentuan maskapai.

"Kadang sampai sembilan atau sepuluh lapis," katanya.

Menurut Firdaus, membantu jemaah membawa pulang oleh-oleh untuk keluarga memberikan kepuasan tersendiri baginya.

Sebab, sebagian besar barang yang dibawa bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan titipan kasih sayang bagi keluarga yang menunggu di rumah.

"Saya memang 'dandani' jemaah haji kita agar barang-barang bawaan mereka bisa lolos pemeriksaan di keberangkatan internasional, khususnya penumpang Saudi Airlines," ujarnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.