Listrik Padam Bikin Peternak Ayam Pusing: Tak Mampu Beli Genset, Kematian Bibit Ayam Naik 50 Persen
rika irawati June 21, 2026 11:07 PM

 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG – Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jawa Tengah Susilo menerima banyak keluhan dari peternak terkait pemadaman listrik berulang yang terjadi.

Mereka khawatir, kondisi ini meningkatkan risiko kematian massal bibit ayam broiler atau pedaging dan membuat peternak merugi.

Potensi ini justru dihadapi peternak ayam skala kecil yang tak memiliki genset.

Susilo mengatakan, risiko kematian massal bibit ayam terjadi pada fase awal pemeliharaan, saat ayam berumur 1-14 hari atau di masa brooding (pengeraman buatan).

Saat itu, anak ayam sangat membutuhkan pasokan suhu panas dan penerangan konstan selama 24 jam penuh. 

"Kalau lampu listrik padam, (anak) ayam itu numpuk (bergerombol) di kandang."

"Karena gelap dan suhu turun, mereka berkumpul di satu tempat dan banyak yang mati," kata Susilo seusai menghadiri Rapat Koordinasi Lanjutan Tata Kelola Penyelenggaraan dan Rantai Pasok Bahan Baku MBG di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jumat (19/6/2026) sore. 

Baca juga: Warga Semarang Pertanyakan Alasan Mati Listrik dan Isu Blackout, Begini Jawaban PLN Jateng

Semakin lama durasi pemadaman listrik yang dilakukan PLN, maka kurva risiko kematian anak ayam dipastikan bakal melonjak semakin tinggi. 

"Kalau peternak yang besar, biasanya punya genset."

"Tapi kalau peternak kecil-kecil banyak yang belum punya. Masalahnya di situ," kata Susilo.

Susilo menyebut, fenomena kematian ayam akibat kondisi stres lingkungan dan kedinginan tersebut dikenal di dunia perunggasan sebagai tingkat deplesi atau persentase kehilangan populasi. 

Angka Kematian Hingga 50 Persen

Dijelaskannya, angka kematian atau mortalitas dini dalam peternakan ayam biasanya menyentuh angka 25 hingga 30 persen.

Ditambah pemadaman listrik yang terjadi berulang, tingkat kematian dini ini bisa mencapai 50 persen dari total populasi. 

Menurut Susilo, saat ini, harga pasar anak ayam atau day old chick (DOC) berada di angka Rp6.000 per ekor. 

Apabila ada sekitar 1.000 ekor anak ayam yang mati berhimpitan akibat gangguan listrik padam, peternak otomatis langsung merugi sedikitnya Rp6 juta hanya dari perhitungan nilai modal bibit mentah. 

Padahal, standar kapasitas tampung satu kandang ayam broiler tradisional umumnya berkisar 5.000 hingga 10.000 ekor. 

Sementara, untuk model kandang tertutup modern (closed house) berukuran besar, kapasitas populasinya bahkan bisa menampung lebih dari 20.000 ekor sekali siklus. 

Tak Mampu Beli Genset

Menurut Susilo, gelombang kecemasan terus menghantui pikiran para peternak apabila pemadaman listrik berkepanjangan ini terus dibiarkan.

Apalagi, jika pemadaman listrik terjadi pada malam hari, yang akan langsung merusak sirkulasi dan suhu internal kandang secara drastis. 

"Kalau siang hari tidak begitu masalah. Yang masalah, kalau matinya malam karena harus ada penerangan," katanya.

Baca juga: PLN Purwokerto Kota Minta Maaf, Lakukan Pemadaman Listrik Lagi Hingga 4 Jam di Sejumlah Wilayah

Ia menilai, opsi pembelian genset darurat tidak pernah menjadi perkara yang mudah untuk para peternak kecil karena membutuhkan modal besar.

Berdasarkan harga pasar, satu unit mesin genset dengan daya standar sekitar 5.000 watt saat ini dibanderol dengan harga berkisar Rp15 juta. 

"Akhirnya, peternak harus mengantisipasi sendiri."

"Kalau malam listrik mati, harus ada penerangan, bisa dari genset atau lampu darurat," ujarnya memberi saran mitigasi mandiri. 

Diketahui, pemadaman listrik bergiliran terjadi di sejumlah wilayah di Jawa Tengah.

Manager Komunikasi PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Tengah Prayudha Fasya Perdana mengatakan, kondisi ini terjadi karena kendala teknis operasional pada pembangkit.

"PLN saat ini tengah mengerahkan seluruh sumber daya untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan menyusul adanya kendala teknis operasional pada pembangkit yang menyebabkan penurunan kapasitas suplai listrik," ujar Prayudha dalam keterangan resmi tertulis yang diterima media, Kamis (18/6/2026). (Kompas.com/Titis Anis Fauziyah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.