MANADO, TRIBUNMANADO.CO.ID – Aroma asap yang masih menyengat menyelimuti area rumah yang terbakar di Kelurahan Karombasan Lingkungan III, Kecamatan Wanea, Kota Manado, Sulawesi Utara, pada Minggu (21/6/2026) sore.
Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi rumah yang sudah rusak parah.
Garis polisi (police line) berwarna kuning tampak melingkari tempat kejadian perkara (TKP) yang letaknya sangat strategis, hanya berjarak belasan meter dari lampu merah Karombasan dan sekitar 200 meter dari Pasar Karombasan.
Rumah tersebut nampak porak poranda.
Seng jatuh menutupi bagian depannya. Berbagai perabotan dalam rumah berubah jadi puing. Termasuk sepeda motor yang sisa rangka.
Musibah kebakaran ini sejatinya terjadi pada Minggu (21/6/2026) pagi.
Berdasarkan penuturan Berty, petaka bermula ketika ia melihat kepulan asap misterius dari area samping rumahnya, yang selama ini didiami oleh seorang perempuan bernama Olni.
Berty yang panik langsung berteriak menegur Olni.
Kala itu, Olni sempat merespons dan berjanji akan segera memadamkan api tersebut. Namun, situasi justru berbanding terbalik. Asap yang keluar semakin tebal dan usaha Olni untuk menjinakkan api berakhir sia-sia.
"Dan kebakaran terjadi dengan sangat cepat," ungkap Berty pilu.
Melihat rumahnya kini rata dengan tanah, Berty mengaku sudah menghubungi pihak keluarga Olni untuk duduk bersama mencari solusi terbaik atas permasalahan ini.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sejumlah warga di lokasi kejadian, Olni memang diketahui sedang membakar sesuatu sesaat sebelum api mengamuk.
Namun, tidak ada warga yang tahu pasti benda apa yang dibakar oleh perempuan tersebut.
"Entah dia lakukan apa," ujar seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya.
Menurut warga tersebut, Olni langsung melarikan diri sesaat setelah api membesar dan menghanguskan rumah Berty.
Hingga kini, warga tidak mengetahui keberadaan perempuan yang hidup sebatang kara tersebut.
Di sisi lain, warga sekitar menaruh simpati pada kondisi psikologis Olni sebelum insiden ini terjadi.
Olni diduga kuat mengalami depresi berat yang mengarah pada gangguan jiwa. Selama hidup sebatang kara, warga sekitar sering menunjukkan kepedulian mereka.
"Kami sekitar sini sering beri dia makan," pungkas warga tersebut. (Art)
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini