Warga Binaan Nusakambangan Dilibatkan Kelola Tambak, Budidaya Udang Vaname Bidik Ekpsor ke Amerika
M Syofri Kurniawan June 22, 2026 05:14 AM

TRIBUNJATENG.COM, CILACAP - Di balik citra Pulau Nusakambangan sebagai kawasan lembaga pemasyarakatan berpengamanan tinggi, kini tumbuh aktivitas produktif yang mengubah wajah pulau tersebut menjadi salah satu sentra budidaya udang vaname yang hasilnya dipersiapkan untuk menembus pasar ekspor Amerika Serikat.

Transformasi Nusakambangan sebagai kawasan ketahanan pangan mendapat perhatian Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto saat meninjau berbagai sektor produksi yang dikembangkan di pulau tersebut, mulai dari pertanian, peternakan, hingga perikanan budidaya.

Salah satu yang menjadi andalan adalah tambak udang vaname Bantar Panjang yang saat ini mengelola puluhan kolam pembesaran dengan melibatkan warga binaan pemasyarakatan sebagai bagian dari program pembinaan keterampilan, Sabtu (20/06/2026).

Penanggung Jawab Tambak Bantar Panjang, M Khofi Asalafi, menjelaskan, setiap siklus budidaya diawali dengan penebaran sekitar 11 hingga 11,5 juta benur yang didatangkan dari luar daerah sebelum dibesarkan di Nusakambangan.

"Benur yang kami tebar mencapai sekitar 11 sampai 11,5 juta ekor dan dipelihara selama kurang lebih 120 hari hingga mencapai ukuran panen yang sesuai kebutuhan pasar," ujarnya.

Saat ini, kata Khofi, usia udang yang dibudidayakan telah memasuki lebih dari 90 hari dengan ukuran rata-rata satu kilogram berisi sekitar 30 ekor, yang menjadi salah satu standar permintaan pasar ekspor.

TAMBAK UDANG - Para Warga Binaan saat memanen udang vaname di Nusakambangan, Sabtu (20/6/2026).
TAMBAK UDANG - Para Warga Binaan saat memanen udang vaname di Nusakambangan, Sabtu (20/6/2026). (IST)

"Hasil panen nantinya akan disalurkan melalui mitra pemasok di Cilacap yang kemudian mengekspor produk tersebut, terutama ke pasar Amerika Serikat," katanya.

Di balik keberhasilan budidaya tersebut, terdapat peran 16 warga binaan yang setiap hari bertanggung jawab mengelola tambak secara langsung mulai dari pemberian pakan hingga perawatan kualitas air.

Khofi menuturkan setiap warga binaan dipercaya menangani satu kolam dengan jadwal kerja yang terstruktur dan membutuhkan ketelitian tinggi dalam setiap proses budidaya.

"Mereka memberikan pakan lima kali sehari, melakukan penimbangan secara presisi, serta menjalankan berbagai treatment dan pemberian obat-obatan sesuai jadwal yang telah ditentukan," jelasnya.

Sebelum terlibat dalam pengelolaan tambak, para warga binaan terlebih dahulu mendapatkan pelatihan mengenai teknik budidaya udang vaname, termasuk cara pemberian pakan, pengelolaan kolam, hingga prosedur keselamatan kerja.

"Kami mengenalkan seluruh tahapan budidaya sejak awal sehingga mereka memahami cara merawat udang dengan benar dan mampu menjalankan pekerjaan sesuai standar yang dibutuhkan," ungkap Khofi.

Menurutnya, program budidaya udang tidak hanya menghasilkan komoditas bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga menjadi sarana pembekalan keterampilan yang dapat dimanfaatkan warga binaan setelah menyelesaikan masa pidananya.

"Harapannya mereka memiliki bekal keterampilan yang bisa digunakan ketika kembali ke masyarakat karena pengalaman mengelola tambak udang seperti ini tidak dimiliki oleh semua orang," tuturnya.

Sementara itu, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto menilai pemanfaatan lahan di Nusakambangan menjadi bukti bahwa kawasan pemasyarakatan dapat berkontribusi langsung terhadap penguatan ketahanan pangan nasional sekaligus menciptakan ruang pembinaan yang produktif bagi warga binaan.

Menurut Agus, pengembangan sektor pertanian, perikanan, dan peternakan di lingkungan pemasyarakatan tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi pangan, tetapi juga membekali warga binaan dengan keterampilan kerja yang dapat menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.

Program ketahanan pangan di Nusakambangan saat ini mencakup sawah seluas 11,61 hektare, tambak sidat 25 hektare dengan target 840 kolam, tambak udang lebih dari enam hektare, perkebunan kelapa genjah hingga 500 hektare, serta peternakan sapi, kerbau, domba, budidaya ikan, dan produksi pupuk organik terpadu yang terus dikembangkan secara bertahap. (Rayka Diah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.