Rian-Budi Rintis Mokoworkwear dari Kamar 3x3 Meter Persegi
M Syofri Kurniawan June 22, 2026 06:10 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Mokoworkwear kini sudah bisa dibilang sukses.

Kini usaha tersebut telah berkembang menjadi industri garmen dengan hampir 100 pekerja. 

Duabelas tahun lalu, kakak beradik Rian Muhammad dan Budi Turmoko hanya memiliki modal Rp 5 juta, tiga mesin jahit, serta sebuah ruangan berukuran 3x3 meter persegi di Kauman, Kelurahan Mangkangwetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang.

Dari ruang sederhana itu, keduanya merintis usaha konveksi yang kini dikenal dengan nama Mokoworkwear. 

Usaha yang awalnya hanya mempekerjakan dua orang tersebut kini berkembang menjadi industri garmen dengan hampir 100 pekerja.

Setiap bulan Mokoworkwear mampu memproduksi sekitar 10.000 potong seragam kerja.

Nama Moko diambil dari nama belakang Budi Turmoko.

Sebelum mendirikan usaha konveksi, Budi dan Rian sempat menjalankan bisnis advertising saat masih kuliah.

Kala itu mereka melayani berbagai kebutuhan promosi perusahaan, mulai dari kartu nama, undangan hingga merchandise. 

Namun seiring waktu, pekerjaan produksi kerap harus disubkontrakkan ke pihak lain sehingga kualitas dan ketepatan waktu pengerjaan sulit dikontrol.

"Akhirnya kami putuskan untuk membangun produksi sendiri," kata Budi Turmoko kepada Tribun Jateng, beberapa waktu lalu.

Keputusan itu terbilang nekat.

Sebab, baik Budi maupun Rian tidak memiliki latar belakang di bidang konveksi. 

Bahkan keduanya mengaku tidak bisa menjahit saat pertama kali merintis usaha.

Meski demikian, mereka memilih merekrut tenaga profesional dan membangun standar kualitas sendiri. 

Sejak awal, Moko Workwear membidik segmen menengah ke atas dengan mengutamakan kualitas bahan, desain, serta detail pengerjaan produk.

Bahkan perusahaan mengembangkan komposisi kain bersama pabrik mitra agar memiliki karakter berbeda dibanding produk serupa di pasaran.

"Kalau model mungkin bisa ditiru, tapi komposisi bahan dan kenyamanan produknya tidak bisa langsung disamakan. Itu yang menjadi salah satu pembeda kami sampai sekarang," ujarnya.

Door to door

Direktur Mokoworkwear, Rian Muhammad menuturkan, perjalanan usaha dimulai pada 2012 dengan modal yang sangat terbatas.

"Awalnya kami hanya punya modal Rp 5 juta. Uangnya kami gunakan untuk membeli dua mesin jahit, sementara satu mesin lagi dicicil ke toko mesin. Dari situ kami mulai produksi," ujar Rian.

Perjalanan membangun usaha tidak selalu mulus.

Pada masa awal merintis, Rian dan Budi harus menawarkan jasa mereka dari satu perusahaan ke perusahaan lain secara door to door.

Bahkan, kata Rian, tidak sedikit perusahaan yang menolak mereka sebelum sempat bertemu pihak manajemen.

"Dulu belum sempat pegang pintu saja sudah ditolak. Tapi sekarang justru banyak perusahaan yang datang sendiri ke kami," ujarnya sambil tersenyum.

Seiring pertumbuhan usaha, Mokoworkwear berpindah dari lokasi awal di Kauman, Mangkangwetan ke fasilitas produksi yang lebih besar di Karanggayam, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, pada 2021.

Saat ini perusahaan memproduksi berbagai perlengkapan kerja mulai dari wearpack, overall, polo shirt, kaus, tas hingga jas hujan.

Pasarnya tidak hanya menjangkau seluruh Indonesia, tetapi juga mulai merambah sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Timor Leste, Taiwan, Oman, hingga Siprus.

"Pasar ekspor memang masih sekitar 10 persen, tapi terus berkembang. Sebagian besar pelanggan luar negeri mengenal kami melalui website," kata Rian.

Menurut Rian, strategi digital menjadi salah satu kunci pertumbuhan perusahaan.

Sejak awal, mereka memanfaatkan media sosial dan website untuk menjangkau pelanggan korporasi maupun ritel.

Saat ini sekitar 90 persen penjualan Mokoworkwear berasal dari kanal online.

Tak hanya berorientasi bisnis, perusahaan tersebut juga aktif memberdayakan masyarakat sekitar.  

Sekitar 60 persen pekerja Mokoworkwear berasal dari lingkungan sekitar pabrik.

Perusahaan juga rutin menggelar pelatihan menjahit gratis bagi warga.  

Peserta yang dinilai memiliki kemampuan sesuai standar perusahaan berkesempatan direkrut menjadi karyawan.

Kerja sama

Selain itu, Moko Workwear menjalin kerja sama dengan sedikitnya lima SMK di Jawa Tengah untuk program praktik kerja lapangan (PKL).

Setiap tahun puluhan siswa magang mendapatkan pelatihan tidak hanya di bidang produksi, tetapi juga digital marketing, administrasi hingga distribusi.

"Kami ingin anak-anak SMK yang magang di sini punya bekal lengkap. Jadi setelah lulus mereka bisa bekerja di berbagai bidang, bukan hanya di konveksi," jelasnya.

Meski terus berkembang, Rian mengaku masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kenaikan biaya produksi hingga kebijakan yang dinilai memberatkan pelaku usaha.

Namun demikian, ia tetap optimistis industri workwear di Indonesia memiliki peluang besar untuk tumbuh.

"Cita-cita kami sederhana, menjadi brand workwear terbesar nomor satu di Indonesia. Karena, sampai sekarang belum banyak perusahaan yang benar-benar fokus di bidang ini," tandasnya. (Rezanda Akbar D)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.