TRIBUN-MEDAN.com - Harga bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Pertamina pada Senin (22/6/2026) hari ini.
Harga minyak dunia berangsur turun seiring kesepakatan damai Iran dan Amerika Serikat (AS).
Apakah harga BBM di Indonesia berangsur turun?
Seperti diketahui, Pertamina secara rutin melakukan penyesuaian harga, terutama untuk produk BBM nonsubsidi, mengikuti perkembangan pasar dan kebijakan yang berlaku.
Pemberlakuan penyesuaian harga pada 10 Juni 2026, harga Pertamax mengalami kenaikan cukup signifikan.
Di Sumut harga BBM Pertamax saat ini Rp 16.650 Per Liter.
Naik Rp3.950 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter.
Sementara harga Pertamax Green menjadi Rp17.000 per liter atau naik Rp5.000 per liter dari sebelumnya Rp12.900 per liter.
Baca juga: Ratusan Ojol Geruduk Kantor Pertamina Medan, Protes Harga Pertamax dan Antrean Pertalite
Harga Minyak Dunia Turun
Berapa harga BBM Pertamina yang layak untuk konsumsen seiring turunnya harga minyak dunia?
Harga minyak dunia berangsur turun seiring Iran dan Amerika Serikat (AS) sepakat mengakhiri konflik.
Minyak mentah Brent turun sekitar 5,1 persen pada Selasa (16/6/2026) menjadi 78,9 dolar AS per barel.
Penurunan ini menjadi yang terendah sejak 2 Maret 2026, atau mendekati harga sebelum pecahnya perang pada level 72,4 dolar AS per barel.
Turunnya harga minyak dunia ini mulai dipertanyakan oleh masyarakat ihwal pengaruhnya terhadap harga BBM nonsubsidi domestik.
Baca juga: BEDA Nasib Bupati Deli Serdang Dihujat Warganet, Wakilnya Lom Lom Diduga Dapat Teror Penembakan
Pakar ekonomi energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyaki mengatakan perdamaian Iran-AS menjadi sentimen positif bagi pasar energi global.
Namun menurutnya penurunan harga Pertamax hingga kembali menyentuh level Rp12.300 per liter tidak akan terjadi dalam waktu singkat.
"Pasti terjadi penurunan harga, dan bisa berdampak ke Pertamax, tetapi untuk mencapai harga Pertamax sampai Rp12.300 lagi tidak akan secepat itu," kata Yayan saat dihubungi, Rabu (17/6/2026).
Ia memperkirakan penurunan harga minyak dunia akan berlangsung secara bertahap.
Dalam skenario tersebut, harga dapat terkoreksi sekitar 1-3 persen per hari dan berlangsung selama beberapa bulan ke depan.
Baca juga: Tiba di Asrama Haji, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan Sambut Kepulangan Jemaah Haji Kloter 14
Pjs Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), Romi Bahtiar, mengatakan kenaikan harga Pertamax sebelumnya dipengaruhi oleh sejumlah faktor, terutama kenaikan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Harga tersebut adalah harga yang telah disepakati oleh pemerintah dan juga Pertamina. Yang mana kenaikan tersebut terjadi karena beberapa faktor, yaitu kenaikan harga minyak dunia dan juga nilai tukar rupiah,” ujar Romi, Kamis (18/6/2026).
Meski demikian, Romi menegaskan Pertamina tetap berkomitmen menjaga ketersediaan BBM bagi masyarakat, baik BBM subsidi maupun non-subsidi.
“Pertamina Patra Niaga tetap berkomitmen untuk menjaga ketersediaan BBM, baik itu BBM subsidi maupun non-subsidi, untuk kebutuhan masyarakat Indonesia,” katanya.
Menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan penurunan harga Pertamax setelah dibukanya kembali Selat Hormuz yang mendorong harga minyak dunia turun, Romi mengatakan kebijakan harga akan ditentukan melalui evaluasi berkala oleh pemerintah pusat.
“Tentu saja harga ini akan dievaluasi secara berkala oleh pemerintah pusat. Jadi nanti kita sampaikan juga apabila terjadi kenaikan ataupun penurunan. Karena harga tersebut mengacu kepada nilai tukar rupiah dan juga harga minyak dunia,” ujarnya.
Sebelumnya, kenaikan harga Pertamax memicu aksi ratusan pengemudi ojek online (ojol) di Medan yang mendatangi kantor Pertamina di Jalan Yos Sudarso.
Dalam dialog dengan massa aksi, Pertamina mengakui terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat dari Pertamax ke Pertalite setelah harga BBM non-subsidi mengalami kenaikan.
Menurut Romi, peralihan konsumsi tersebut membuat sejumlah SPBU mengalami peningkatan antrean pada produk BBM subsidi.
“Kami melihat di sini bahwa adanya peralihan konsumsi dari BBM jenis Pertamax ke Pertalite. Karena mungkin masyarakat ataupun ojol melihat adanya kenaikan BBM Pertamax. Nah, di situlah akan menumpuk, di beberapa SPBU menjadi padat,” katanya.
Ia memastikan kondisi tersebut bukan karena stok Pertalite kosong, melainkan akibat meningkatnya permintaan di sejumlah SPBU tertentu.
“Kami juga tetap berupaya untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat,” pungkasnya.
Pertamina akan melakukan evaluasi harga BBM non-subsidi, termasuk Pertamax.
Pertamina mempertimbangkan pergerakan harga minyak global dan nilai tukar rupiah.
Tanggapan Pengamat Josua Pardede
Ekonom jebolan Universitas Indonesia dan University of Amsterdam, Josua Pardede menyampaikan hal senada mengenai harga BBM nonsubsidi domestik seiring penurunan harga minyak dunia.
Ia menjelaskan bahwa harga BBM di Indonesia tidak selalu mengikuti harga minyak dunia.
Sebab harga di SPBU bukan cuma ditentukan lleh harga minyak mentah, tetapi gabungan dari harga produk jadi, nilai tukar rupiah, biaya pengadaan, distribusi, margin badan usaha hingga pajak.
“Harga BBM di Indonesia tidak selalu mengikuti harga minyak dunia secara langsung, karena harga yang dibayar masyarakat di SPBU bukan hanya ditentukan oleh harga minyak mentah semata, melainkan merupakan hasil gabungan dari harga produk BBM jadi di pasar kawasan, nilai tukar rupiah, biaya pengadaan, penyimpanan, distribusi, margin badan usaha, serta pajak," ungkapnya.
Aceh
Pertamax: Rp 16.650
Pertamax Turbo: Rp Rp 21.200
Dexlite: Rp 23.500
Pertamina Dex: Rp 25.350
Free Trade Zone (FTZ) Sabang
Pertamax: Rp 15.250
Dexlite: Rp 21.550
Sumatera Utara
Pertamax: Rp 16.650
Pertamax Turbo: Rp 21.200
Dexlite: Rp 23.500
Pertamina Dex: Rp 25.350
Sumatera Barat
Pertamax: Rp 17.000
Pertamax Turbo: Rp 21.650
Dexlite: Rp 24.000
Pertamina Dex: Rp 25.900
Riau
Pertamax: Rp 17.000
Pertamax Turbo: Rp 21.650
Dexlite: Rp 24.000
Pertamina Dex: Rp 25.900
Kepulauan Riau
Pertamax: Rp 17.000
Pertamax Turbo: Rp 21.650
Dexlite: Rp 24.000
Pertamina Dex: Rp 25.900
Free Trade Zone (FTZ) Batam
Pertamax: Rp 15.500
Pertamax Turbo: Rp 19.700
Dexlite: Rp 21.850
Pertamina Dex: Rp 23.550
Jambi
Pertamax: Rp 16.650
Pertamax Turbo: Rp 21.200
Dexlite: Rp 23.500
Pertamina Dex: Rp 25.350
Bengkulu
Pertamax: Rp 16.650
Pertamax Turbo: Rp 21.200
Dexlite: Rp 23.500
Pertamina Dex: Rp 25.350
Sumatera Selatan
Pertamax: Rp 16.650
Pertamax Turbo: Rp 21.200
Dexlite: Rp 23.500
Pertamina Dex: Rp 25.350
Bangka-Belitung
Pertamax: Rp 16.650
Pertamax Turbo: Rp 21.200
Dexlite: Rp 23.500
Pertamina Dex: Rp 25.350
Lampung
Pertamax: Rp 16.650
Pertamax Turbo: Rp 21.200
Dexlite: Rp 23.500
Pertamina Dex: Rp 25.350
DKI Jakarta
Pertamax: Rp 16.250
Pertamax Green: Rp 17.000
Pertamax Turbo: Rp 20.750
Dexlite: Rp 23.000
Pertamina Dex: Rp 24.800
Banten
Pertamax: Rp 16.250
Pertamax Green: Rp 17.000
Pertamax Turbo: Rp 20.750
Dexlite: Rp 23.000
Pertamina Dex: Rp 24.800
Jawa Barat
Pertamax: Rp 16.250
Pertamax Green: Rp 17.000
Pertamax Turbo: Rp 20.750
Dexlite: Rp 23.000
Pertamina Dex: Rp 24.800
Jawa Tengah
Pertamax: Rp 16.250
Pertamax Green: Rp 17.000
Pertamax Turbo: Rp 20.750
Dexlite: Rp 23.000
Pertamina Dex: Rp 24.800
DI Yogyakarta
Pertamax: Rp 16.250
Pertamax Green: Rp 17.000
Pertamax Turbo: Rp 20.750
Dexlite: Rp 23.000
Pertamina Dex: Rp 24.800
Jawa Timur
Pertamax: Rp 16.250
Pertamax Green: Rp 17.000
Pertamax Turbo: Rp 20.750
Dexlite: Rp 23.000
Pertamina Dex: Rp 24.800
Bali
Pertamax: Rp 16.250
Pertamax Turbo: Rp 20.750
Dexlite: Rp 23.000
Pertamina Dex: Rp 24.800
Nusa Tenggara Barat
Pertamax: Rp 16.250
Pertamax Turbo: Rp 20.750
Dexlite: Rp 23.000
Pertamina Dex: Rp 24.800
Nusa Tenggara Timur
Pertamax: Rp 16.250
Pertamax Turbo: Rp 20.750
Dexlite: Rp 23.000
Pertamina Dex: Rp 24.800
Kalimantan Barat
Pertamax: Rp 16.650
Pertamax Turbo: Rp 21.200
Dexlite: Rp 23.500
Pertamina Dex: Rp 25.350
Kalimantan Tengah
Pertamax: Rp 16.650
Pertamax Turbo: Rp 21.200
Dexlite: Rp 23.500
Pertamina Dex: Rp 25.350
Kalimantan Selatan
Pertamax: Rp 17.000
Pertamax Turbo: Rp 21.650
Dexlite: Rp 24.000
Pertamina Dex: Rp 25.900
Kalimantan Timur
Pertamax: Rp 16.650
Pertamax Turbo: Rp 21.200
Dexlite: Rp 23.500
Pertamina Dex: Rp 25.350
Kalimantan Utara
Pertamax: Rp 17.000
Pertamax Turbo: Rp 21.650
Dexlite: Rp 24.000
Pertamina Dex: Rp 25.900
Sulawesi Utara
Pertamax: Rp 16.650
Pertamax Turbo: Rp 21.200
Dexlite: Rp 23.500
Pertamina Dex: Rp 25.350
Gorontalo
Pertamax: Rp 16.650
Pertamax Turbo: Rp 21.200
Dexlite: Rp 23.500
Pertamina Dex: Rp 25.350
Sulawesi Tengah
Pertamax: Rp 16.650
Pertamax Turbo: Rp 21.200
Dexlite: Rp 23.500
Pertamina Dex: Rp 25.350
Sulawesi Tenggara
Pertamax: Rp 16.650
Pertamax Turbo: Rp 21.200
Dexlite: Rp 23.500
Pertamina Dex: Rp 25.350
Sulawesi Selatan
Pertamax: Rp 16.650
Pertamax Turbo: Rp 21.200
Dexlite: Rp 23.500
Pertamina Dex: Rp 25.350
Sulawesi Barat
Pertamax: Rp 16.650
Pertamax Turbo: Rp 21.200
Dexlite: Rp 23.500
Pertamina Dex: Rp 25.350
Maluku
Pertamax: Rp 16.650
Dexlite: Rp 23.500
Maluku Utara
Pertamax: Rp 16.650
Dexlite: Rp 23.500
Papua
Pertamax: Rp 16.650
Pertamax Turbo: Rp 21.200
Dexlite: Rp 23.500
Pertamina Dex: Rp 25.350
Papua Barat
Pertamax: Rp 16.650
Dexlite: Rp 23.500
Pertamina Dex: Rp 25.350
Papua Selatan
Pertamax: Rp 16.650
Dexlite: Rp 23.500
Papua Pegunungan
Pertamax: Rp 16.650
Dexlite: Rp 23.500
Papua Tengah
Pertamax: Rp 16.650
Dexlite: Rp 23.500
Papua Barat Daya
Pertamax: Rp 16.650
Dexlite: Rp 23.500
(cr26/tribun-medan.com//Tribunnews.com)