Prakiraan Cuaca Jawa Tengah Selasa 23 Juni 2026 Besok, 33 Kabupaten Kota Hujan Ringan hingga Sedang
muslimah June 22, 2026 10:56 AM

Prakiraan Cuaca Jawa Tengah Selasa 23 Juni 2026 Besok, 33 Kabupaten Kota Hujan Ringan hingga Sedang

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Berikut prakiraan cuaca di Jawa Tengah (Jateng), Selasa 23 Juni 2026 besok.

Meskipun sudah masuk musim kemarau, hujan ringan masih turun di wilayah  Jateng.

Besok hujan bahkan masih mendominasi.

Dari seluruh wilayah Jateng yang terdiri atas 35 kabupaten kota, hujan ringan hingga sedang diprediksi terjadi di 33 wilayah.

Selebihnya dua daerah diprediksi cerah berawan

Baca juga: Resmi Berubah, Daftar Harga Bahan Bakar Minyak BBM Terbaru Senin 22 Juni 2026, Naik Rp 3.950

Demikian antara lain info Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang.

Baca juga: Resmi Berubah, Daftar Harga Bahan Bakar Minyak BBM Terbaru Kamis 18 Juni 2026, Jateng Naik Rp 4.100

Agar aktivitas tak terganggu, persiapkan diri kalian sebaik mungkin.

Berikut prediksi cuaca lengkap esok hari:

Hujan Ringan hingga Sedang

  1. Banjarnegara
  2. Banyumas
  3. Batang
  4. Blora
  5. Boyolali
  6. Brebes
  7. Cilacap
  8. Demak
  9. Grobogan
  10. Jepara
  11. Karanganyar
  12. Kebumen
  13. Kendal
  14. Klaten
  15. Kota Magelang
  16. Kota Pekalongan
  17. Kota Salatiga
  18. Kota Semarang
  19. Kota Surakarta
  20. Kudus
  21. Magelang
  22. Pati
  23. Pekalongan
  24. Pemalang
  25. Purbalingga
  26. Purworejo
  27. Rembang
  28. Semarang
  29. Sragen
  30. Sukoharjo
  31. Temanggung
  32. Tegal
  33. Wonosobo

Cerah Berawan

  1. Kota tegal
  2. Wonogiri

Suhu udara rata-rata antara 15 derajat celcius hingga 32 derajat celcius.

Kecepatan angin rata-rata antara 3 km per jam hingga 9 km per jam.

Puncak Kemarau di Jateng

BMKG memprediksi puncak kekeringan di Jateng terjadi Agustus-September 2026.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengklaim telah menyediakan sebesar 123 juta liter air bersih di 18 Kabupaten/kota yang berpotensi terancam bencana kekerinan. Namun, distribusi air bersih itu terancam terkendala kenaikan harga BBM nonsubsidi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan, air bersih sebanyak 123 juta liter sudah siap didistribusikan. Pihaknya saat ini telah melakukan pemetaan termasuk alat distribusi.

"Kami masih melakukan kajian dan penghitungan terkait biaya distribusi mengingat adanya kenaikan harga BBM nonsubsidi," terangnya dalam rapat koordinasi pengendalian operasional kegiatan (POK) triwulan I-2026, di Kantor Gubernur Jateng, Kota Semarang,  dalam keterangan tertulis, Senin (4/5/2026).

Ia menyebut, informasi dari BMKG pengaruh El Nino pada tahun 2026 akan berdampak kemarau lebih lama di Jateng.

Ancaman kemarau tahun ini juga diprediksi tidak jauh berbeda dengan puncak kemarau ekstrem tahun 2019 dan tahun 2023.

Untuk itu, pihaknya telah memetakan ketersediaan air di Jateng yang diperkirakan mencapai angka 123 juta liter air.

"Kemarau mulai terjadi di Jateng pada Juni mendatang," ungkapnya.

Klaten Paling Banyak Stok Air

Bergas merinci,  ketersediaan air bersih di Jateng paling banyak di Klaten yang mencapai angka 57,6 juta liter, Boyolali 13,4 juta liter, Kabupaten Semarang 12,9 juta liter, Blora 5,1 juta liter, Purworejo 5,06 juta liter, Wonosobo 5 juta liter, Purbalingga 4,4 juta liter, Wonogiri 3,7 juta liter,  Banjarnegara 3,6 juta liter, Grobogan 3,1 juta liter.

Sebaliknya, ketersediaan air yang dilaporkan terendah di Batang 331 ribu liter, Kota Salatiga  250 ribu liter, Demak 150 ribu liter, Kabupaten Pekalongan 80 ribu liter.

Adapula beberapa daerah yang tidak melaporkan ketersediaan airnya karena merasa tidak pernah terdampak.

"Ya semisal Kota Solo dan Kota Magelang," ungkapnya.

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi mengatakan, persoalan kekeringan akan dilakukan penanganan secara bersama-sama di antaranya dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

"Kami akan koordinasikan lagi termasuk dengan beberapa pelibatan BUMD juga akan kami kondisikan agar dampak kemarau bisa dikurangi termasuk dampak ke swasembada pangan," terangnya.  (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.