BOLASPORT.COM - Kemenangan pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Alwi Farhan, pada Australian Open 2026 mulai mendapat sorotan, khususnya penggemar bulu tangkis China.
Alasannya, Alwi meraih gelar pada turnamen Super 500 tersebut setelah menundukkan Dong Tian Yao (China) dengan straight game 21-13, 21-13 pada partai final.
Performanya di lapangan juga mendapat tanggapan dari pecinta bulu tangkis Negeri Tirai Bambu yang menjulukinya King Crab atau Raja Kepiting lewat gaya permainannya.
"Terima kasih kepada yang memberi julukan itu. Jujur tidak akan mengubah diri saya. Orang mau membicarakan saya seperti bagaimana," kata Alwi kepada media, termasuk BolaSport.com di pelatnas Cipayung, Jakarta.
"Cara bermain saya seperti kepiting atau apa, terserah. Tetapi, itu bagus karena saya punya julukan yang khas dari diri saya sendiri."
"Terima kasih kepada netizen China pastinya dan saya kemarin bisa mengalahkan pemain China. Jadi, terima kasih dan Alhamdulillah," ucap Alwi tersenyum.
Dalam perjalanan kariernya, Alwi kerap mengalahkan wakil China. Shi Yu Qi pada Singapore Open dan Dong.
Alwi bahkan meraih gelar juara dunia junior 2023 setelah mengandaskan wakil China, Hu Zhe An pada partai final.
Alwi menang melalui rubber game dengan skor 21-19, 19-21, 21-14, sekaligus mencatatkan sejarah sebagai tunggal putra Indonesia pertama yang meraih gelar tersebut.
"Sebenarnya syaa kurang setuju bahwa saya banyak mengalahkan pemain China dan Alwi tidak suka dengan pemain Jepang yang banyak reli. Tidak juga sebenarnya," kata Alwi.
"Saya tahu sekali, orang berkomentar apa saya tahu sekali. Alwi tidak suka dengan pemain Jepang. Tidak juga kok, semua sama saja. Kebetulan saja, tidak bisa dipukul rata dari negara mana."
"Jadi, mungkin dibilang Alwi kalah dari pemain Prancis. Kalah sama Alex (Lanier) tapi menang atas Toma (Junior Popov) juga, jadi tidak bisa dipukul rata. Memang murni pemain per pemainnya saja."
Selain gaya permainan, Alwi juga kerap melakukan sujud syukur setelah memastikan kemenangan.
"Saya amat sangat berserah kepada Allah SWT karena saya merasa tidak bisa menanggung ini semua sendiri. Jadi, saya tidak perlu bercerita semua yang saya alami," tutur Alwi.
"Tetapi, saya memasrahkan diri saya ketika mengikuti turnamen karena saya sudah melakukan apapun yang saya bisa ketika dipersiapkan. Saya tidak kuat kalau menanggung semuanya sendiri. Saya masih punya Tuhan, jadi saya sangat amat bersyukur. "
"Tuhan selalu memberi saya jalan berbeda dari apa yang saya takutkan. Jadi, ini memang pelajaran tidak hanya untuk saya, tetapi untuk semua orang karena ketakutan yang ada dalam pikiran kita belum tentu terjadi."
"Jadi, semuanya selagi kita percaya apapun yang kita lakukan akan membuahkan hasil dan begitu untuk tim saya, tim tunggal putra. "
"Saya sering merasa kasihan untuk A'Ginting (Anthony Sinisuka Ginting) yang beberapa kali kayak masih mencari sakit, tetapi A'Ginting sudah berusaha semaksimal mungkin."
"Kami juga melihat kesehariannya pun mau berkomitmen dengan prestasi yang sudah banyak, di umur yang sudah tidak lagi muda. Beliau sudah punya keluarga. "
"Berangkat pulang-pergi tentu tidak mudah. Tapi, mungkin banyak orang tidak tahu. Tetapi memang sepeti itu karena semua orang akan lihat hasilnya."