TRIBUNNEWS.COM - Kiper Timnas Iran, Alireza Beiranvand, kembali menjadi sorotan di Piala Dunia 2026 setelah tampil heroik saat membantu Iran menahan imbang Spanyol dan Belgia pada laga fase Grup F.
Terbaru, Alireza Beiranvand tampil gemilang saat menahan Belgia 0-0 di Los Angeles Stadium, Senin (22/6) dini hari WIB.
Dalam pertandingan tersebut, penjaga gawang berpostur 193 cm itu mencatatkan tujuh penyelamatan penting dan dinobatkan sebagai Player of the Match alias pemain terbaik berkat performa gemilangnya di bawah mistar.
Meski Alireza cs sempat menghadapi berbagai kendala persiapan dan logistik, Iran tetap mampu menunjukkan daya juang tinggi.
Diketahui, Iran mengalami kesulitan fasilitas pemusatan latihan di Amerika Serikat sehingga harus berpindah lokasi dan menjalani jadwal perjalanan padat sebelum pertandingan.
Kondisi tersebut tidak menghalangi Beiranvand untuk tampil solid, sekaligus membantu Iran menjaga peluang lolos ke babak 32 besar dengan koleksi dua poin dari dua laga.
"Iran ini secara skuad bagus, tapi yang jadi masalah mereka faktor politisnya. Mereka kan latihan di Meksiko dan tandingnya di Amerika Serikat," kata football enthusiast, Gigih dalam podcast Super Taktik di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
"Mereka datang tanding terus tak lebih dari 24 jam pulang (ke Meksiko)," tambahnya.
Terlepas dari itu, hasil kontra Belgia mempertegas reputasinya sebagai salah satu kiper terbaik di Piala Dunia 2026.
Namun kisah Beiranvand tak hanya soal performa di lapangan, melainkan juga perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan dari kemiskinan ekstrem hingga panggung Piala Dunia.
Beiranvand lahir di keluarga Kurdi-Lak yang hidup sebagai nomaden di wilayah pegunungan Lorestan, Iran, dikutip dari Sports Ndtv.
Ia tumbuh dalam kondisi serba terbatas, bahkan sejak kecil sudah menghadapi penolakan dari keluarganya sendiri yang menganggap sepak bola bukan masa depan yang menjanjikan.
Baca juga: Iran Belum Terkalahkan di Piala Dunia 2026, Team Melli Main Indah di Tengah Situasi Sulit
Sang ayah bahkan menilai perlengkapan kiper seperti sarung tangan sebagai kemewahan yang tidak perlu.
Namun, hal itu tidak menghentikan tekad Beiranvand untuk mengejar mimpi.
Di usia remaja, ia nekat meninggalkan rumah dan pergi ke Teheran dengan modal minim demi menjadi pesepak bola profesional.
Setibanya di ibu kota, ia menjalani kehidupan keras tanpa tempat tinggal tetap, tidur di sekitar area klub, dan bertahan hidup dengan bekerja serabutan seperti mencuci mobil, menyapu jalan, hingga bekerja di pabrik dan toko makanan cepat saji.
Perjuangan itu perlahan membuahkan hasil ketika bakatnya mulai tercium pelatih.
Latar belakangnya yang terbiasa dengan permainan tradisional *Dalparan* yang mengharuskannya melempar batu sejauh mungkin untuk membantu menjaga ternak di daerah pegunungan, turut membentuk fisiknya semakin kuat.
Kekuatan tersebut kemudian menjadi salah satu keunggulan utamanya sebagai penjaga gawang modern.
Beiranvand bahkan tercatat dalam Guinness World Records berkat lemparan terjauh dalam pertandingan sejauh 61 meter saat melawan Korea Selatan pada 2016, serta tendangan drop-kick lebih dari 78 meter.
(Tribunnews.com/Ali)