Kalender Jawa 22 Juni 2026 Weton Senin Kliwon, Diperingati sebagai Hari Lahir Jakarta
Rusaidah June 22, 2026 12:37 PM

POSBELITUNG.CO -- Tanggal 22 Juni 2026 dalam kalender Jawa merupakan hari Senin dengan weton Kliwon.

Hari ini juga bertepatan dengan jatuh 6 Suro 1960 tahun Jawa dan 7 Muharram 1448 Hijriah. 

Hingga kini, masyarakat Jawa masih melestarikan budaya leluhur dengan kalender Jawa.

Baca juga: Biodata Said Didu, Mantan Sekretaris BUMN Kritik Dirut PLN, Duga jadi Korban Kepentingan Oligarki

Weton yang ada dalam kalender Jawa bukan sekadar penanda hari dalam sepekan, melainkan titik pertemuan antara dua siklus waktu sekaligus: siklus tujuh hari biasa yang dikenal luas, dan siklus lima hari pasaran khas Jawa yang melahirkan apa yang disebut weton. 

Senin yang bernilai neptu 4 bertemu dengan pasaran Kliwon yang bernilai neptu 8, sehingga weton Senin Kliwon memiliki neptu total 12.

Dalam primbon Jawa, angka ini dipercaya menyimpan gambaran watak, arah rezeki, hingga kecocokan jodoh seseorang. 

Tidak berhenti di situ, hari ini juga berada dalam naungan Wuku Kuningan, salah satu dari tiga puluh wuku dalam siklus pawukon yang masing-masing dipercaya membawa perbawa atau pengaruh tersendiri terhadap watak dan jalan hidup. 

Perpaduan antara weton harian dan wuku mingguan inilah yang membuat pembacaan kalender Jawa terasa berlapis, karena seseorang yang lahir pada Senin Kliwon di Wuku Kuningan akan ditafsirkan melalui dua lensa sekaligus, bukan hanya satu. 

Baca juga: Kalender Jawa 21 Juni 2026 Weton Minggu Wage, Diperingati Hari Jadi Kota Cimahi

Makna Weton Senin Kliwon dan Wuku Kuningan

Dalam primbon Jawa, pemilik weton Senin Kliwon dikenal memiliki tutur kata yang halus, sikap ramah, dan kemampuan komunikasi yang menonjol. 

Mereka cenderung pandai merangkai kalimat dan peka dalam menyampaikan pesan, sehingga sering dianggap cocok berkecimpung di bidang yang mengandalkan kata-kata seperti menulis, mengajar, atau menjadi penengah dalam suatu persoalan. 

Kelembutan sikap ini membuat mereka mudah disenangi dalam pergaulan, meski di balik itu tersimpan sisi yang cukup sensitif. 

Pemilik weton ini umumnya mudah tersinggung, terutama bila menyangkut harga diri atau keluarga, dan tidak jarang gampang merasa resah atau berpikir berlebihan terhadap suatu masalah. 

Untungnya, sifat pemaaf juga melekat kuat pada weton ini, sehingga kemarahan biasanya tidak berlangsung lama dan hubungan sosial tetap terjaga baik. 

Sebagian primbon bahkan menyebut weton ini dengan istilah Tulang Wangi, yang dikaitkan dengan kepekaan batin dan daya tarik personal yang kuat, baik dalam pergaulan maupun urusan rezeki.

Sementara itu, Wuku Kuningan dalam sistem pawukon dilambangkan dengan Dewa Indra sebagai pelindungnya. 

Watak yang dibawa wuku ini digambarkan sebagai pribadi yang halus budi, cerdas, tekun, dan patuh terhadap tugas yang diembannya, namun di sisi lain juga cenderung membanggakan kebaikan diri sendiri dan menjunjung derajat yang tinggi. 

Simbol burung urang-urangan yang menyertai wuku ini menggambarkan sosok yang gesit dan terampil dalam berbagai pekerjaan, tetapi juga memiliki kecenderungan berhati-hati, bahkan pelit dalam mengelola harta. 

Lambang bangunan yang tertutup di bagian belakang turut memperkuat kesan bahwa pemilik wuku ini cenderung hemat dan kurang terbuka dalam pergaulan, sehingga sikap pemalu dan kurang luas relasi sosial kerap disebut sebagai salah satu hal yang dapat menghambat perjalanan kariernya. 

Jika dipadukan, weton Senin Kliwon yang lembut dan komunikatif bertemu dengan Wuku Kuningan yang cermat dan tekun melahirkan gambaran pribadi yang piawai bertutur sekaligus disiplin dalam bekerja, meski tetap perlu belajar lebih terbuka dan tidak terlalu menahan diri dalam bergaul.

Diperingati Hari Lahir Jakarta

Setiap tanggal 22 Juni diperingati sebagai hari lahir Kota Jakarta. Pada tahun 2026, Jakarta telah memasuki usia ke-499 tahun.

Perayaan ini tidak hanya menjadi momentum refleksi sejarah panjang ibu kota, tetapi juga menjadi ajang untuk memperkuat identitas dan arah pembangunan kota ke depan.

Setiap tahunnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengusung tema yang berbeda dalam peringatan HUT.

Untuk HUT ke-499, tema yang diangkat adalah "Bergerak Menuju Era Baru Jakarta".

Tema ini mencerminkan semangat transformasi Jakarta menjadi kota yang modern, inklusif, dan berkelanjutan. 

Selain itu, tema tersebut juga menjadi simbol kesiapan Jakarta dalam menyongsong usia lima abad pada tahun berikutnya. 

Perayaan HUT Jakarta tidak hanya berlangsung pada tanggal 22 Juni saja.

Rangkaian acara biasanya telah dimulai sejak bulan Mei dan berlangsung hingga Juli, mencakup berbagai kegiatan budaya, hiburan, hingga program pelayanan publik.

Mengutip dari Portal Resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sejarah kota ini memiliki perjalanan panjang yang erat kaitannya dengan perdagangan internasional.

Jakarta yang dahulu dikenal sebagai Batavia merupakan pusat perdagangan rempah-rempah yang strategis.

Penetapan tanggal 22 Juni sebagai hari lahir Jakarta merujuk pada peristiwa tahun 1527, saat Pangeran Fatahillah berhasil merebut Pelabuhan Sunda Kelapa dari kekuasaan Portugis.

Pelabuhan tersebut pada masa itu merupakan pusat perniagaan penting. Perubahan nama kota juga menjadi bagian dari sejarah panjang Jakarta.

Dari Sunda Kelapa, kemudian menjadi Batavia pada masa kolonial Belanda, lalu berubah menjadi Jakarta atau Jakarta Tokubetsu Shi pada masa pendudukan Jepang.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945, Jakarta berkembang menjadi pusat kegiatan politik dan pemerintahan, hingga akhirnya ditetapkan sebagai ibu kota negara pada tahun 1966.

(Posbelitung.co/Tribunnews.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.