Israel Langgar Kesepakatan, Iran Ngamuk dan Tutup Lagi Selat Hormuz
Amirullah June 22, 2026 12:38 PM

 

SERAMBINEWS.COM – Situasi di Timur Tengah mendadak kembali membara. Iran secara mengejutkan mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran paling strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.

Langkah ekstrem ini diambil Teheran setelah menuduh Israel terang-terangan melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya dijamin oleh Amerika Serikat (AS).

Otoritas militer Iran tidak menyembunyikan kemarahan mereka. Pelanggaran tersebut dinilai sebagai bentuk pengkhianatan fatal terhadap komitmen yang sudah disepakati bersama demi meredakan konflik di kawasan.

Padahal, penutupan Selat Hormuz ini terjadi hanya beberapa hari setelah jalur krusial tersebut sempat dibuka kembali. Pembukaan itu awalnya merupakan bagian dari kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat. Namun, rentetan serangan dan operasi militer Israel di Lebanon menjadi bukti kuat bagi Iran bahwa kesepakatan perdamaian tersebut cuma di atas kertas.

Pemerintah Iran bahkan melempar peringatan keras: penutupan Selat Hormuz ini barulah langkah awal. Mereka tidak ragu mengambil tindakan lanjutan yang lebih ekstrem jika pelanggaran terus terjadi.

Baca juga: Pembicaraan Perdana AS-Iran Selesai, Hasilkan 3 Kesepakatan Penting

Pasar Global Mulai Cemas

Di kubu sebelah, Amerika Serikat langsung pasang badan dan membantah klaim sepihak tersebut. Washington menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak benar-benar ditutup dan lalu lintas kapal komersial sejauh ini masih berjalan normal.

Saling silang pernyataan antara Iran dan AS ini jelas memicu kebingungan sekaligus alarm bahaya bagi pasar global. Pasalnya, Selat Hormuz adalah jalur vital yang dilewati sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk. Gangguan sekecil apa pun di jalur ini punya daya rusak besar yang bisa langsung mengguncang harga energi internasional.

Kondisi terbaru ini otomatis menandai babak baru ketegangan geopolitik yang berisiko merusak hubungan segitiga antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, tepat di saat proses perdamaian sedang rapuh-rapuhnya.

Seperti diketahui, Iran resmi memblokade kembali jalur pelayaran vital Selat Hormuz pada Sabtu (20/6/2026). Langkah ini dipicu oleh serangan udara masif yang dilancarkan Israel ke wilayah Lebanon selatan.

Teheran menilai aksi militer Israel tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan yang telah dibuat dengan AS untuk mengakhiri perang di kawasan.

"Selat Hormuz akan ditutup untuk lalu lintas kapal," demikian pernyataan tegas komando militer pusat Iran, dikutip dari AFP.

Ada beberapa alasan kuat di balik keputusan ini, mulai dari pelanggaran kontrak oleh AS, hingga aksi Israel yang terus-menerus menggempur Lebanon selatan tanpa henti meski di tengah koridor gencatan senjata.

Padahal, selat yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas dunia ini baru saja bernapas lega setelah sempat dibuka kembali dalam beberapa hari terakhir, usai Teheran mencapai kesepakatan awal dengan Washington. Kita tentu ingat bagaimana blokade Iran di selat tersebut selama perang kemarin sempat memicu guncangan hebat pada pasar energi global.

Efek domino dari eskalasi ini juga langsung memukul meja diplomasi. Kelanjutan pembicaraan antara AS dan Iran di Swiss yang harusnya digelar pada Jumat (19/6/2026), terpaksa ditunda tanpa batas waktu. Penundaan ini terjadi setelah Israel melancarkan serangkaian serangan mematikan pasca-tewasnya empat tentara mereka dalam pertempuran.

Baca juga: Data BMKG, Kabupaten Aceh Timur Cerah Berawan, Sore hingga Malam Hari Berpotensi Hujan 

Gencatan Senjata Seumur Jagung

Sebelum ketegangan pada hari Sabtu itu pecah, pejabat AS sebenarnya sempat membawa angin segar. Pada Jumat sore, mereka mengumumkan kesepakatan gencatan senjata baru antara Israel dan Hizbullah yang dimediasi oleh AS dan Qatar. Bahkan, Duta Besar Israel untuk Washington sempat menyatakan pihak mereka akan menghormati gencatan senjata tersebut dengan syarat Hizbullah juga melakukan hal yang sama.

Sayangnya, realita di lapangan justru berbanding terbalik keesokan harinya. Pejabat militer Israel berdalih bahwa mereka terpaksa melancarkan serangan baru karena kelompok yang didukung Iran itu kedapatan meluncurkan lebih dari 50 proyektil ke arah pasukan Israel di Lebanon selatan sepanjang malam.

Tudingan itu langsung dibantah keras oleh Hizbullah. Mereka justru menuduh balik Israel sengaja memanfaatkan momentum gencatan senjata untuk menekan posisi mereka di lapangan.

Menurut Hizbullah, di bawah kedok gencatan senjata, Israel justru mencoba melakukan infiltrasi menuju perbukitan Ali Taher—sebuah kawasan strategis yang menghadap langsung ke Kota Nabatieh. Kelompok itu menambahkan bahwa para prajuritnya langsung menghadapi mereka dengan senjata yang sesuai.

Dampak Serangan Udara di Lebanon

Lagi-lagi, konflik yang kembali membara ini menelan korban jiwa dari warga sipil dan menghancurkan infrastruktur di Lebanon. Media Pemerintah Lebanon melaporkan bahwa serangan udara Israel menghantam sekitar 20 lokasi berbeda. Badan pertahanan sipil setempat mengonfirmasi sedikitnya 16 orang tewas di Nabatieh.

Seorang fotografer AFP di lokasi kejadian melaporkan kepulan asap hitam pekat tampak membubung tinggi di atas kota pascaserangan udara tersebut. Sementara itu, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan 7 orang tewas dan 13 lainnya luka-luka akibat serangan terpisah yang menyasar sebuah desa di dekat Kota Sidon.

Pemandangan serupa juga dilaporkan oleh jurnalis AFP yang berada di sisi perbatasan Israel. Asap tebal terlihat mengepul di belakang Kastil Beaufort, sebuah posisi strategis dekat Nabatieh yang berhasil direbut oleh pasukan Israel bulan lalu.

Aksi saling serang yang terus berlanjut ini jelas kian menyudutkan nasib kesepakatan damai yang sebenarnya baru saja ditandatangani minggu ini oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Padahal, poin inti dari kesepakatan besar tersebut adalah menyetop perang regional yang lebih luas di semua lini, termasuk menghentikan pertempuran di Lebanon yang menjadi tuntutan utama dari pihak Teheran.

(Serambinews.com/TribunNewsmaker.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.