Harga Karet di Kuansing Tembus Rp21.200 per Kilogram, Produksi Harian Ikut Meningkat
Sesri June 22, 2026 02:20 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM,KUANSING – Harga karet di tingkat lelang di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau kembali menunjukkan tren positif.

Pada pekan ini, harga karet mencapai Rp21.200 per kilogram atau naik Rp200 per kilogram dibandingkan pekan sebelumnya yang berada di angka Rp21.000 per kilogram.

Kenaikan harga tersebut disambut baik oleh para petani karet karena memberikan tambahan pendapatan di tengah fluktuasi harga komoditas perkebunan yang kerap terjadi.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kuansing, Andri Yama Putra, mengatakan bahwa harga karet di Kuansing dalam sebulan terakhir terus bertahan di atas angka Rp20.000 per kilogram.

“Sudah sebulan ini harga karet berada di kisaran Rp20.000 per kilogram. Pekan ini kembali mengalami kenaikan menjadi Rp21.200 per kilogram,” kata Andri Yama Putra, Senin (22/6/2026).

Menurutnya, kenaikan harga tersebut turut berdampak terhadap meningkatnya semangat petani untuk menyadap karet sehingga produksi harian juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Andri menjelaskan, beberapa pekan lalu produksi harian karet yang masuk ke tempat lelang hanya berkisar 8 ton per hari.

Namun seiring membaiknya harga, produksi terus meningkat.

Baca juga: Harga Karet Meroket, Petani Kuansing Kembali Rawat Kebun dan Tingkatkan Produksi

“Produksi harian karet semakin meningkat. Dari sekitar 8 ton per hari, kemudian naik menjadi 13 ton dan pekan ini berada di kisaran 14 ton per hari,” ujarnya.

Ia menilai tren tersebut menunjukkan bahwa petani mulai kembali bergairah mengelola kebun karet setelah beberapa waktu sebelumnya banyak yang mengurangi aktivitas penyadapan akibat rendahnya harga jual.

Meski harga sedang membaik, Andri mengingatkan petani agar tidak hanya fokus pada kuantitas produksi, tetapi juga menjaga kualitas hasil karet yang dipasarkan melalui sistem lelang.

Pemerintah daerah, kata dia, terus mendorong petani meningkatkan Kadar Karet Kering (KKK) agar memperoleh nilai jual yang lebih tinggi dan mampu bersaing di pasar.

“KKK di Kuansing masih berada di sekitar 60 persen. Jika bisa mencapai 100 persen, harga jualnya dapat menembus Rp30 ribuan per kilogram,” jelasnya.

Selain itu, Andri juga mengimbau masyarakat yang memiliki kebun karet untuk tetap mempertahankan tanaman tersebut meskipun harga komoditas perkebunan sering mengalami fluktuasi.

Menurutnya, karet dan sawit merupakan dua komoditas utama yang selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat pedesaan di Kuansing.

“Meski harga sawit saat ini tinggi dan harga karet masih lebih rendah, masyarakat sebaiknya tetap mempertahankan kebun karet. Ini sebagai langkah berjaga-jaga jika suatu saat harga sawit kembali turun dan harga karet justru relatif stabil. Dengan memiliki kedua komoditas tersebut, masyarakat memiliki sumber pendapatan alternatif yang dapat menjaga ketahanan ekonomi keluarga,” pungkasnya.

( Tribunpekanbaru.com/Guruh BW)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.