Uniknya Pantai Koral Batu Angus di Kasawari, Aertembaga, Bitung, Sulut: Pesisir Hitam Tanpa Pasir!
Tim TribunStyle June 22, 2026 02:54 PM

Uniknya Pantai Koral Batu Angus di Kasawari, Aertembaga, Bitung, Sulut: Pesisir hitam tanpa pasir!

TRIBUNSTYLE.COM – Kawasan Batu Angus menyimpan segudang titik wisata alam primer yang menyajikan atmosfer murni dan alami. Salah satu yang paling memikat adalah Pantai Koral yang terletak di wilayah Kelurahan Kasawari, Kecamatan Aertembaga, Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara.

Destinasi bahari ini memiliki karakteristik unik yang sangat berbeda jika disandingkan dengan pantai pada umumnya. Pantai Koral menyuguhkan garis pesisir yang dipenuhi oleh rupa-rupa batuan hitam, kontras dengan lanskap pantai biasa yang umumnya dihampari oleh pasir berwarna putih atau cokelat.

Baca juga: Menjelajahi Raewaya Batu Angus, Destinasi Alam Eksotis di Pesisir Kota Bitung Sulawesi Utara

Tim TribunKaltim.co berkesempatan untuk menyambangi langsung Pantai Koral yang posisinya menghadap tepat ke arah Samudra Pasifik ini pada rentang waktu pagi hari, 23 Maret 2026. Akses menuju lokasi dari area pusat kota tergolong sangat dekat dan mudah dijangkau menggunakan moda transportasi darat yang representatif.

Kondisi jalur yang dilewati pun tidak mengalami kerusakan yang parah, kendati rute penjelajahan diwarnai oleh trek yang berkelok-kelok, tanjakan dan turunan, serta harus membelah area pemukiman penduduk yang cukup padat. Perjalanan berkendara dari kawasan Gedung Walikota Bitung menuju ke wilayah Batu Angus hanya memerlukan estimasi waktu sekitar 20 menit saja.

Saat TribunKaltim.co bertandang ke kawasan Batu Angus, kondisi cuaca sedang bersahabat dan cerah, sehingga sepanjang perjalanan mata dapat dengan puas mengamati seluk-beluk wilayah perkotaan Bitung. Rute ini sempat melewati area Pasar Winenet yang dipadati oleh deretan kios pedagang yang menjajakan rupa-rupa kebutuhan sandang, pangan, hingga papan.

Mobil yang ditumpangi TribunKaltim.co terpaksa melaju secara perlahan lantaran lebar ruas jalan umum di pasar tersebut terbatas, yakni hanya berkisar lima meter saja. Ditambah lagi, kala itu aktivitas di area pasar benar-benar sibuk oleh lalu-lalang pejalan kaki, orang yang mendorong gerobak, hingga lapak-lapak pedagang yang posisinya agak memakan badan jalan.

Kendati demikian, situasi tersebut tidak berlangsung lama. Begitu berhasil keluar dari area Pasar Winenet, perjalanan beralih menyusuri rute jalan di perkampungan warga. Melalui kaca jendela kendaraan, terlihat sebagian besar hunian masyarakat setempat sudah dibangun menggunakan material beton satu lantai dengan mengusung model atap berbentuk limas.

Baca juga: Sungai Lajjoro di Desa Lemoape Palakka Sulawesi Selatan, Wisata Gratis yang Ramai Saat Libur Panjang

Sekitar tiga menit berselang, perjalanan mulai memasuki kawasan hutan dengan karakteristik trek jalan yang mendaki serta menurun. Panorama di sekitar rute ini didominasi oleh ruang terbuka hijau serta vegetasi alami yang subur, seperti jajaran pohon kelapa dan kopra. Jika terdapat bangunan di sepanjang area ini, strukturnya hanya berupa gubuk kayu sederhana yang jumlahnya sangat jarang dijumpai.

Saat melintasi kawasan perhutanan menuju ke wilayah Batu Angus ini, TribunKaltim.co mencoba untuk menurunkan kaca jendela mobil. Udara murni yang berhembus masuk ke dalam kabin kendaraan terasa begitu menyegarkan. Meskipun kondisi cuaca di luar terbilang terik, hawa udaranya tetap terasa sejuk dan nyaman di tubuh—sangat kontras dengan kondisi suhu di area pusat kota yang cenderung panas menyengat.

Perjalanan menembus kawasan hutan menuju ke Batu Angus tergolong lancar tanpa kendala kemacetan lalu lintas. Sesekali memang tampak ada kendaraan roda empat maupun roda dua yang melintas dari arah yang berlawanan, namun kuantitasnya masih bisa dihitung dengan jari.

Di samping kendaraan bermotor, di sepanjang area perhutanan ini juga terlihat beberapa pejalan kaki yang mengenakan tas ransel besar di punggung serta pakaian khas pencinta alam. Mereka tampak berjalan secara beriringan dalam sebuah rombongan kecil beranggotakan sekitar delapan orang.

"Mereka itu anak gunung. Mau ke arah hutan sana Gunung Dua Saudara," beber Upin, sopir mobil yang ditumpangi TribunKaltim.co sambil mengemudi kendalikan stir.

Tidak lama kemudian, di tengah rute perjalanan terdapat sebuah pos penjagaan. Titik ini merupakan gerbang masuk resmi menuju ke kawasan wisata alam Batu Angus Bitung, yang mana Pantai Koral berada di dalam areanya. Dari pelataran pos tersebut, petugas penjaga menyambut dengan ramah sembari memberikan penjelasan.

"Kalau masuk ke sini kena retribusi. Per orang kena Rp 15 ribu, kalau anak-anak gratis. Bawa mobil kena parkir Rp10 ribu," urai sang penjaga pos.

Demi mematuhi aturan yang berlaku, TribunKaltim.co membayar nominal tersebut secara tunai. Petugas kemudian menyerahkan lembaran karcis resmi yang memuat logo Pemerintah Kota Bitung sebagai bukti tanda masuk ke objek wisata alam Batu Angus. Beranjak dari titik pos penjagaan ini, hanya diperlukan waktu berkendara sekitar satu menit untuk bisa menginjakkan kaki di daratan Pantai Koral Batu Angus.

Baca juga: Pantai Tete Tonra Bone Sulawesi Selatan, Hamparan Pasir dan Laut Indah Tarik Pengunjung Saat Liburan

Segala lika-liku perjalanan yang melewati jalan bergelombang serta tanjakan dan turunan ekstrem akhirnya terbayar lunas setibanya di lokasi wisata. Untuk menjaga kelestarian area, kendaraan pengunjung wajib ditempatkan di area parkir karena mobil dilarang masuk ke zona inti Pantai Koral.

Para pengunjung diharuskan berjalan kaki menyusuri kawasan hijau yang rimbun. Namun tidak perlu khawatir, karena pihak pengelola telah menyediakan jalur pejalan kaki yang mulus berbahan paving block yang nyaman untuk melangkah. Hembusan udara segar, lanskap alam yang lestari, serta payungan langit cerah menjadi teman setia sepanjang langkah kaki. Jarak tempuh berjalan kaki pun relatif dekat, hanya membutuhkan waktu sekitar setengah menit untuk tiba di bibir pantai. Begitu sampai, panorama eksotis Pantai Koral Batu Angus sukses memancing rasa kagum.

Eksotisme Akar Pohon hingga Air Bening

Pantai Koral Batu Angus di Kota Bitung menyajikan karakteristik alam yang terbilang langka, di mana area pesisirnya dihampari oleh jutaan batuan keras serta kerikil berukuran variatif mulai dari sebesar kelereng hingga seukuran buah tomat. Kondisi ini berbeda total dengan sebagian besar pantai yang mengusung konsep pasir, atau pantai di kota besar seperti Balikpapan dan Bali yang kerap tercemar oleh limbah plastik.

Di Pantai Koral Batu Angus, kebersihannya masih sangat terjaga dan terkesan alami. Eksosistem yang bersih ini menjadi warisan berharga yang harus konsisten dipertahankan agar terbebas dari buangan sampah.

"Harus dijaga, kalau kotor hancur ekonomi warga sini, kan andalannya sektor pariwisata. Sumber pendapatannya dari sini," ungkap Nining Husain, warga Kota Bitung kepada TribunKaltim.co saat bertamasya di Pantai Koral Batu Angus.

Baca juga: Pelabuhan Bajoe di Pesisir Bone Sulawesi Selatan Tawarkan Panorama Senja dan Rekreasi Murah Meriah

Vegetasi hijau di sepanjang pantai ini juga tumbuh dengan sangat baik, ditandai oleh pohon-pohon kelapa yang melambai ditiup angin serta rimbunnya hutan mangrove khas tebing pantai. Warna hijau dari dedaunan mangrove tampak mencolok saat terpapar sinar matahari, dengan struktur perakaran yang merambat kuat mencengkeram batuan cadas hingga melahirkan lekukan estetis alami.

Kondisi air lautnya pun sangat bening dan jernih tanpa adanya kekeruhan. Pandangan mata dapat dengan mudah menembus hingga ke dasar air pada tingkat kedalaman satu sampai dua meter, bahkan kawanan ikan kecil sering kali terlihat berenang bebas.

Kendati demikian, bagi para pengunjung yang memiliki hobi berenang, sangat disarankan untuk tidak mencoba menceburkan diri ke dalam air di bibir pantai ini. Faktor kekuatan arus laut di Pantai Koral Batu Angus tergolong sangat kuat, sehingga jika kemampuan berenang Anda masih awam atau kondisi fisik sedang tidak prima, sebaiknya urungkan niat untuk mandi di sini demi menjaga keselamatan.

Harmoni Musik Ombak Alami

Suara deburan ombak yang menghantam batuan pantai di tempat ini mampu melantunkan melodi alam yang menenangkan jiwa sekaligus mengusir kepenatan pikiran, membuat siapa pun ketagihan untuk berkunjung kembali.

Uniknya, setiap kali kaki Anda melangkah di atas pesisir Pantai Koral Batu Angus, akan terdengar suara gemertak khas dari gesekan bebatuan koral yang diinjak, memberikan sensasi tersendiri selama mengeksplorasi pantai. Segala rasa lelah setelah berjalan kaki dari gerbang depan akan menguap begitu saja digantikan oleh pasokan energi baru saat merasakan atmosfer bahari tempat ini.

Dinding-dinding tebing yang tersusun dari bongkahan batu hitam besar juga bertindak sebagai pagar alami, sekaligus menjadi spot yang sangat estetik untuk duduk santai maupun berswafoto dengan latar belakang batuan cadas yang eksotis. Kehadiran sabuk batu karang di sepanjang pesisir Pantai Koral memberikan cita rasa seni yang tinggi, layaknya sebuah mahakarya yang dipahat langsung oleh Sang Pencipta.

Cerita Rakyat yang Berkembang

Seorang warga lokal bernama Sartjo Jusuf menceritakan bahwa Pantai Koral Batu Angus memiliki sebuah narasi asal-usul yang sudah sangat populer dan diwariskan dari mulut ke mulut oleh masyarakat Kota Bitung.

Konon, penyematan nama "Batu Angus" sendiri terinspirasi dari representasi visual batuan cadas hitam di area pesisir pantai yang tampak hangus layaknya bekas terbakar hebat.

Baca juga: Menara Eiffel Bitung, Landmark Unik dengan Sentuhan Paris di Sulawesi Utara

Menurut kisah para leluhur terdahulu, jutaan tahun yang lalu sempat terjadi peristiwa erupsi gunung berapi di kawasan tersebut. Aktivitas vulkanik yang dahsyat itu menyebabkan runtuhnya material gunung dan memuntahkan batuan vulkanik hingga memenuhi area pesisir, yang kemudian membeku menjadi tumpukan batu hitam keras dan hamparan koral seperti saat ini.

"Sekarang bisa dinikmati, jadi spot wisata favorit. Kadang ada wisatawan dari luar negeri sering ke sini, lihat-lihat keistimewaan Pantai Koral," beber Sartjo, pria kelahiran Kota Bitung yang merupakan lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dari Universitas Sam Ratulangi Manado ini.

Mengusir Rasa Jenuh

Bagi para pengunjung yang tidak sempat menyiapkan perbekalan makanan atau minuman dari rumah, tidak perlu merasa cemas. Di tepi pantai telah berjejer beberapa kedai warung dengan desain arsitektur menyerupai gubuk pedesaan berbahan kayu khas Sulawesi.

Baca juga: Serunya Interaksi Bareng Ribuan Ikan di Tane Olen, Setulang, Malinau, Kaltara, Airnya Jernih Banget!

Penggunaan properti meja dan kursi yang juga bermaterialkan kayu ini seolah mampu membangkitkan kembali memori kolektif akan suasana di kampung halaman.

Warung-warung lokal tersebut menjajakan aneka menu kuliner sederhana yang menggugah selera, mulai dari pisang goreng, mi instan, kentang goreng, teh hangat, hingga kopi hitam. Duduk rileks sembari menyantap hidangan hangat, menghadap langsung ke arah laut lepas Pantai Koral Batu Angus, ditemani embusan angin pantai sembari menanti momen matahari terbenam tentu menjadi pilihan aktivitas yang sangat ampuh untuk mengusir rasa bosan.

(TribunKaltim.co/Budi Susilo/TribunStyle.com/Naja Taqiyyuddin)  

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.