Tak Bisa Seperti Messi, Ronaldo Dinilai Lebih Cocok Jadi Super Sub Portugal
Drajat Sugiri June 22, 2026 04:30 PM

TRIBUNNEWS.COM - Cristiano Ronaldo kembali menjadi sorotan usai tampil kurang maksimal saat Portugal ditahan imbang 1-1 oleh Republik Demokratik Kongo pada laga pembuka Grup K Piala Dunia 2026. Penampilan sang kapten memicu kritik sekaligus perdebatan mengenai perannya di dalam tim.

Ronaldo yang menjalani penampilan keenamnya di Piala Dunia sekaligus memperpanjang rekor sebagai pemain dengan keikutsertaan terbanyak di turnamen tersebut, gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran dan menyia-nyiakan dua peluang emas yang membuat Portugal kehilangan kemenangan.

Hasil imbang tersebut menempatkan Portugal di bawah tekanan untuk meraih hasil positif pada laga berikutnya demi menjaga peluang lolos ke fase gugur.

Terlepas dari minimnya kontribusi Cristiano Ronaldo di atas lapangan, Portugal tidak serta-merta menjadi tim yang lebih baik saat bermain tanpanya.

Di luar aspek teknis, penyerang berusia 41 tahun itu tetap memiliki peran penting berkat pengalaman, kepemimpinan, serta pengaruh besarnya di dalam ruang ganti tim.

"Portugal butuh pemimpin yang punya suara vokal di lapangan, siapa lagi kalau bukan Ronaldo," kata football enthusiast, Gigih dalam podcast Super Taktik di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.

JERSEY TIMNAS PORTUGAL - Jersey Timnas Portugal di Piala Dunia 2026 yang dipajang di Solo Soccer, Manahan, Surakarta, Jawa Tengah, pada Minggu, 31 Mei 2026.
JERSEY TIMNAS PORTUGAL - Jersey Timnas Portugal di Piala Dunia 2026 yang dipajang di Solo Soccer, Manahan, Surakarta, Jawa Tengah, pada Minggu, 31 Mei 2026. (TribunVideo/Akmal KhoirulHabib)

Mantan striker Inggris, Jay Bothroyd juga menilai Ronaldo kini lebih tepat berperan sebagai pemain pengganti atau super sub ketimbang menjadi starter.

Menurutnya, kehadiran penyerang Al Nassr itu justru mulai menjadi beban bagi permainan Portugal.

"Sejujurnya, saya pikir jika Ronaldo adalah pemain tim, saya rasa dia harus mundur dan memahami bahwa dia harus menjadi pemain yang masuk dari bangku cadangan sebagai pemain yang memberikan dampak," kata Bothroyd, dikutip dari Goal International.

"Apakah dia akan pernah melakukan itu? Tidak, saya rasa tidak. Dan itulah intinya," lanjutnya, 

Baca juga: Piala Dunia 2026: Arena Perebutan Rekor Lintas Generasi, dari Ronaldo, Messi, hingga Mbappe

Bothroyd juga menilai Ronaldo terlalu berambisi mempertahankan statusnya sebagai pemain utama dan masih kerap dibandingkan dengan Lionel Messi.

Terlebih La Pulga baru saja mencetak hattrick dalam kemenangan 3-0 Argentina atas Aljazair. 

Menurutnya, situasi tersebut memengaruhi keseimbangan permainan kolektif Portugal.

"Saya melihat Ronaldo dan para penggemar Ronaldo akan membenci saya hari ini, tetapi sepertinya semuanya tentang dia, ya? Anda tahu, dan dia selalu mengejar Messi sepanjang waktu," ujar Bothroyd.

"Dia tidak akan pernah menjadi Messi, tetapi apa yang telah dia raih sepanjang kariernya, dia telah memanfaatkan kariernya sebaik mungkin."

"Tetapi saat ini dia lebih menjadi penghalang bagi Portugal daripada membantu, dan saya pikir di situlah kesalahan Martinez," tegasnya.

Kritik terhadap Ronaldo muncul di tengah tuntutan Portugal untuk segera bangkit.

Selecao das Quinas membutuhkan kemenangan pada laga selanjutnya kontra Uzbekistan, Rabu (24/06/2026) pukul 00.00 WIB, demi memperbesar peluang lolos ke 32 besar.

Saatnya Menikmati Dua Legenda di Ujung Karier

Perdebatan mengenai siapa yang lebih hebat antara Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo tampaknya tak akan pernah usai.

Selama hampir dua dekade, keduanya saling bersaing mencetak rekor, meraih trofi, dan menghadirkan era emas sepak bola modern.

Kini, Messi dan Ronaldo telah memasuki penghujung karier profesional. Alih-alih terus memperdebatkan siapa yang terbaik, banyak penggemar memilih menikmati setiap kesempatan menyaksikan dua legenda tersebut masih bermain.

Gaya bermain mereka yang berbeda membuat perbandingan sulit menemukan jawaban mutlak.

Messi dikenal lewat kreativitas, visi, dan kemampuan menggiring bola, sedangkan Ronaldo menonjol berkat atletisme, ketajaman mencetak gol, dan etos kerja luar biasa.

Seiring bertambahnya usia, performa keduanya memang tak lagi seimpresif masa puncak.

Namun, kehadiran Messi maupun Ronaldo tetap mampu menarik perhatian dunia. Mereka telah mengoleksi berbagai rekor dan gelar, sekaligus menginspirasi lahirnya generasi baru pesepak bola.

Karena itu, fase akhir karier mereka seharusnya menjadi momen untuk mengapresiasi warisan yang telah mereka tinggalkan, bukan terus mencari pembenaran siapa yang lebih unggul.

Pada akhirnya, sepak bola beruntung pernah memiliki Messi dan Ronaldo di era yang sama.

Perdebatan mungkin akan terus berlanjut, tetapi yang tak terbantahkan adalah keduanya telah mengubah sejarah sepak bola modern dan meninggalkan warisan yang akan dikenang sepanjang masa.

(Tribunnews.com/Ali)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.