Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Kiki Andriana
TRIBUNPRIANGAN.COM, SUMEDANG – Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Sumedang, Sonia Sugian, mengaku kecewa dan sakit hati atas berbagai komentar negatif yang muncul di media sosial setelah keluhannya terkait pelayanan Rumah Sakit Universitas Padjadjaran (RS Unpad) Jatinangor menjadi viral.
Bahkan, politisi Partai Golkar tersebut berencana menempuh jalur hukum terhadap sejumlah akun yang dinilai telah melakukan perundungan dan penghinaan terhadap dirinya.
Hal itu disampaikan Sonia saat memberikan klarifikasi kapada Tribun Jabar.id, Jumat malam (19/6/2026), di kediamannya.
Menurut Mahasiswa Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran ini, sebagian komentar yang menyerangnya justru datang dari orang-orang yang dinilai memahami prosedur pelayanan kesehatan dan standar operasional rumah sakit.
"Saya merasa kecewa dan sakit hati kepada netizen yang memberikan komentar negatif dan membully saya. Saya tahu yang berkomentar itu bukan masyarakat biasa. Mereka paham SOP, paham penanganan medis," kata Sonia.
Baca juga: Anggota DPRD Sumedang Beberkan Semua Pemicu Pulang Paksa, Dirut RS Unpad Bantah Menelantarkan
Ia mengaku tidak habis pikir dengan tudingan yang menyebut dirinya mencari perlakuan istimewa karena berstatus anggota DPRD Sumedang.
Padahal, menurut Sonia, sejak awal dirinya maupun keluarga tidak pernah menggunakan jabatan tersebut untuk memperoleh pelayanan khusus di RS Unpad.
"Mereka tidak tahu fakta yang sebenarnya. Padahal saya sama sekali tidak pernah mengatakan bahwa saya ini anggota dewan," ujarnya.
Sonia menjelaskan, saat mendatangi RS Unpad pada Senin (15/6/2026) malam, dirinya berada dalam kondisi fisik dan mental yang sedang terpuruk. Saat itu ia mengeluhkan nyeri dada dan kemudian mendapatkan diagnosis awal gangguan jantung.
Kabar tersebut membuatnya semakin terpukul karena hanya empat hari sebelumnya ia baru kehilangan anak akibat penyakit jantung.
"Bayangkan, saya dalam keadaan drop ditinggal anak, lalu didiagnosis jantung. Apakah mereka merasakan perasaan saya?" katanya.
Dari berbagai komentar yang diterimanya, ada satu unggahan yang menurutnya sudah melampaui batas.
"Ada satu komentar yang mengatakan, 'Suntik mati saja sekalian'," ujar Sonia.
Komentar tersebut menjadi salah satu alasan dirinya mulai mengumpulkan bukti-bukti berupa tangkapan layar akun media sosial yang dianggap melakukan perundungan.
"Saya sudah mencatat akun-akun yang membully saya. Saya akan melakukan upaya hukum, melaporkan akun-akun tersebut," tegasnya.
Sonia menilai para pemilik akun tersebut memberikan penilaian tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya terjadi selama dirinya menjalani perawatan di rumah sakit.
Menurut dia, persoalan yang disampaikannya kepada publik bukanlah keinginan untuk mendapatkan perlakuan khusus, melainkan kekecewaan atas minimnya komunikasi yang diterimanya selama berada di ruang rawat inap.
"Saya hanya menyampaikan apa yang saya alami sebagai pasien," katanya.
Herry menegaskan pelayanan medis tetap berlangsung sesuai prosedur dan terdokumentasi dalam Rekam Medis Elektronik (RME) serta Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS).
Selain itu, ia mengatakan pihaknya turut prihatin atas kondisi kesehatan yang dialami pasien dan meminta maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan selama proses pelayanan.
"RS Unpad pada prinsipnya menghormati hak setiap pasien dan keluarga untuk menyampaikan pengalaman, masukan, maupun keluhan yang dirasakan selama menjalani pelayanan kesehatan," kata Herry kepada Tribun Jabar.id, Kamis (18/6/2026). (*)