Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Robert Ropo
TRIBUNFLORES.COM, RUTENG – Warga mengeluhkan antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, yang telah berlangsung lebih dari satu bulan terakhir.
Kondisi tersebut diperparah dengan maraknya penjualan Pertalite secara eceran dengan harga yang disebut melambung tinggi di wilayah setempat.
Warga menyebut, harga Pertalite eceran di lapangan dijual berkisar antara Rp25.000 hingga Rp30.000 per botol air mineral ukuran besar namun isi yang diberikan tidak selalu penuh. Kondisi ini membuat masyarakat meminta pihak SPBU untuk memprioritaskan pelayanan kepada pengguna kendaraan yang sedang mengantre, serta meminta pemerintah dan aparat segera melakukan penertiban.
Menanggapi hal tersebut, Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah, S.I.K., S.H., M.Si melalui Kapolsek Reo, Ipda Joko Sugiarto, S.A.P., M.H, mengatakan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan stakeholder terkait untuk mengatasi persoalan tersebut.
Baca juga: Dugaan Pungli dan Penganiayaan Siswa di Sikka, Yanto Flores: Sekolah Harus Jadi Tempat Aman
“Siap, kami akan koordinasi dengan pihak kecamatan beserta stakeholder lainnya untuk mengatasi hal tersebut,” ujarnya kepada TRIBUNFLORES.COM, Senin (22/6/2026) sore.
Ia menegaskan, kepolisian akan bertindak tegas apabila ditemukan adanya penyalahgunaan BBM bersubsidi yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Ia juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif memberikan informasi terkait dugaan pelanggaran di lapangan.
“Kami akan menindak tegas apabila ada penyalahgunaan BBM bersubsidi agar tepat sasaran. Mohon peran serta masyarakat,” tegasnya.
Selain itu, Kapolsek Reo menjelaskan bahwa jajarannya telah melakukan imbauan kepada para pedagang kaki lima yang menjual Pertalite secara eceran di sekitar SPBU, tepatnya di Lingkungan Kedutul, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok.
Dalam kegiatan tersebut, petugas juga mengingatkan agar penjual tidak mengambil keuntungan berlebihan di tengah kondisi antrean panjang serta tidak melakukan penimbunan atau penyimpanan BBM dalam botol maupun jeriken tanpa standar keamanan karena berisiko menimbulkan kebakaran.
Dari hasil imbauan itu, petugas menemukan adanya penjualan Pertalite eceran dengan harga Rp25.000 per botol.
Setelah dilakukan pendekatan, para penjual kemudian diminta menurunkan harga menjadi Rp20.000 per botol dan menyetujuinya.
Hingga kini, warga masih berharap adanya solusi konkret agar antrean BBM di SPBU Reo dapat terurai dan distribusi BBM bersubsidi kembali tepat sasaran. (Rob)