Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini
TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Kalangan pelaku usaha di Kabupaten Ciamis mengeluhkan pemadaman listrik bergilir yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Selain mengganggu operasional produksi, pemadaman tanpa informasi sebelumnya disebut menimbulkan kerugian hingga ratusan juta rupiah.
Salah satu pengusaha peternakan ayam di Ciamis, Hary Adam, mengaku perusahaannya mengalami kerugian sekitar Rp100 juta hingga Rp120 juta akibat terganggunya operasional saat listrik padam.
"Kalau nilai kerugian sebetulnya sekitar Rp100 juta sampai Rp120 juta yang ditimbulkan akibat pemadaman listrik ini," ujar Hary saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, saat ini listrik telah menjadi kebutuhan primer bagi hampir seluruh sektor usaha, mulai dari industri rumahan, UMKM, hingga industri skala besar.
Khusus di sektor peternakan ayam modern, keberadaan listrik sangat vital karena digunakan untuk menjalankan berbagai sistem operasional, termasuk sirkulasi udara di dalam kandang.
Baca juga: Mati Listrik Bergilir di Pangandaran Dikeluhkan Pelaku Usaha, PLN Sebut Demi Jaga Keandalan Sistem
Baca juga: Pemadaman Listrik Melanda 17 Kecamatan di Sumedang, Lilin Jadi Pelita dalam Gelap
"Sekarang rata-rata kandang ayam sudah menggunakan sistem modern yang sangat bergantung pada listrik untuk operasional dan sirkulasi udara. Itu sangat berisiko apabila pemadamannya terlalu lama," katanya.
Hary menjelaskan sebagian perusahaan memang memiliki genset sebagai sumber listrik cadangan.
Namun tidak semua pelaku usaha, terutama UMKM, memiliki kemampuan menyediakan genset dengan kapasitas besar.
Bahkan bagi yang memiliki genset sekalipun, terdapat batasan waktu operasional yang dapat menyebabkan gangguan apabila pemadaman berlangsung terlalu lama.
"Ada genset yang hanya mampu dua jam, pukul 14.00 atau enam jam. Kalau pemadaman lebih lama dari kapasitas genset, tentu akan menimbulkan kerugian," ujarnya.
Meski mengalami kerugian cukup besar, Hary mengaku tidak sepenuhnya menyalahkan PLN atas kondisi tersebut.
Ia memahami adanya kemungkinan kendala teknis yang mengharuskan dilakukan pemadaman bergilir.
"Kalau kami tahu sebelumnya akan ada pemadaman dan berapa lama durasinya, tentu kami bisa mempersiapkan diri. Bisa mencari genset tambahan atau mengatur ulang jadwal produksi," katanya.
Selain kerugian material, Hary menilai dampak lain yang tidak kalah penting adalah menurunnya tingkat kepercayaan pelanggan akibat keterlambatan produksi dan pengiriman barang.
"Kalau pengiriman yang seharusnya jam dua siang jadi molor karena produksi terganggu, itu bisa memengaruhi kepercayaan konsumen terhadap bisnis yang dijalankan," ucapnya.
Namun pada pemadaman bergilir kali ini, informasi tersebut tidak diterima oleh para pelaku usaha.
"Yang kami perlukan bukan permintaan maaf. Yang kami butuhkan adalah informasi dan transparansi. Pemadaman akan dilakukan kapan dan berapa lama, itu yang penting bagi pelaku usaha," katanya.
Hary berharap ke depan terdapat komunikasi yang lebih baik antara PLN dan para pelaku usaha agar dampak ekonomi akibat pemadaman listrik dapat diminimalkan.
Menurutnya, keterbukaan informasi akan membantu dunia usaha menyiapkan langkah antisipasi sehingga tidak terjadi saling menyalahkan antara pelaku usaha dan penyedia layanan listrik.
"Kita memahami kondisi yang dihadapi PLN. Tapi transparansi informasi sangat diperlukan agar kita bisa mencari solusi bersama," ujarnya.
Di sisi lain, Hary juga mengingatkan para pelaku usaha untuk lebih adaptif menghadapi berbagai kondisi yang tidak terduga, termasuk kemungkinan gangguan pasokan listrik.
"Pelaku usaha harus bisa beradaptasi dalam segala situasi. Memiliki sistem cadangan seperti genset memang menjadi salah satu langkah yang perlu dipersiapkan ke depan," ujar Hary.
Sebagaimana diketahui, beberapa minggu terakhir ini, PLN melakukan pemadaman listrik secara bergilir di seluruh kota/kabupaten di Pulau Jawa. Pemadaman terutama dilakukan di daerah-daerah dengan padat penduduk dan aktivitas penggunaan listrik yang tinggi.
PLN meminta maaf atas pemadaman listrik bergilir yang terjadi di Pulau Jawa.
PLN menyebut gangguan pada dua pembangkit listrik besar serta kendala pasokan batu bara menjadi penyebab pemadaman listrik di sejumlah wilayah.
PLN menjelaskan, pemadaman bergilir terjadi akibat kendala teknis yang terjadi di dua pembangkit listrik yang dikelola mitranya.
Gangguan pada dua unit pembangkit besar tersebut membuat pasokan listrik terganggu sehingga PLN menerapkan manajemen beban secara terbatas di beberapa daerah.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, PLN mendorong percepatan penambahan stok batu bara pada sejumlah jaringan PLTU besar lainnya guna menutup defisit pasokan listrik akibat gangguan pada dua pembangkit tersebut.
PLN juga terus melakukan upaya pemulihan sistem agar pasokan listrik dapat kembali normal dan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. (*)