TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Ancaman kerusakan hutan di Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara mulai menjadi perhatian serius. Polisi Kehutanan UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Nunukan, Asrul Samsul Masri, mengungkap kondisi hutan lindung yang kini mengalami kerusakan cukup besar.
Asrul Samsy Masri menyampaikan dari total sekitar 2.850 hektare kawasan hutan lindung Nunukan, terdapat sekitar 1.200 hingga 1.300 hektare yang telah mengalami kerusakan berdasarkan hasil identifikasi.
“Kalau hutan ini rusak, selesai kita. Karena hutan punya fungsi penting secara ekologis, ekonomis, dan budaya,” ucap Asrul Samsy Masri.
Ia menjelaskan, hutan bukan hanya kumpulan pohon, tetapi menjadi penyangga kehidupan. Secara ekologis, hutan berfungsi menjaga keseimbangan alam, menghasilkan oksigen, mengatur tata air, serta mencegah kerusakan tanah.
Baca juga: Pasca Verifikasi Lapangan, Tim Terpadu Beberkan Tujuh Proses Kajian 3 Usulan Hutan Adat di Malinau
Sedangkan secara ekonomi, hutan dapat memberikan manfaat melalui pemanfaatan hasil hutan dan pengembangan wisata alam. Dari sisi budaya, hutan juga menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
Asrul Samsy Masri mengingatkan bahwa kerusakan hutan dapat berdampak panjang terhadap kehidupan manusia.
“Hutan lindung itu bukan sekadar kawasan hijau. Fungsinya menjaga air, menjaga tanah, dan menjaga lingkungan kita,” ujarnya.
Untuk memulihkan kondisi tersebut, pihaknya saat ini menjalankan program rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) di kawasan Nunukan dengan luasan sekitar 850 hektare.
Tidak hanya menyampaikan teori, Asrul Samsy Masri juga mengajak peserta belajar langsung cara menanam pohon yang benar. Ia memperlihatkan bagaimana bibit harus diperlakukan agar tidak rusak saat ditanam.
Baca juga: Pakar Ekologi Nilai Peluang Pendanaan Iklim Terbuka Luas Bagi Malinau, Hutan Adat Jadi Fondasi Utama
“Bibit itu seperti anak kita. Harus dijaga, jangan sampai akarnya rusak karena bisa menyebabkan tanaman mati,” tuturnya.
Menurutnya, keberhasilan penghijauan bukan hanya soal menanam pohon, tetapi juga memastikan tanaman mampu bertahan hidup.
Ia berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda dan komunitas pencinta alam, ikut terlibat menjaga kawasan hutan.
“Satu pohon yang kita tanam hari ini bisa menjadi warisan bagi generasi berikutnya,” pungkasnya.
(*)
Penulis: Fatimah Majid