POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Senyum langsung terpancar dari wajah Melisa (35) saat ingatan lamanya kembali pada memori belasan tahun silam.
Di rumah miliknya di Desa Padang, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, ibu dua anak ini hanyut dalam nostalgia masa muda.
Siang itu, Melisa yang menunggu usaha warung makannya sembari sesekali mengawasi anaknya yang bermain di dekatnya.
Namun, suasana seolah berubah seketika saat nama Puncak Manggar disebut. Bagi Melisa, Puncak adalah babak pembuka perjalanan kedewasaannya.
Kisah Melisa di pusat perbelanjaan modern pertama di Kota Manggar tersebut bermula tepat pada tahun 2009.
Sebagai seorang remaja yang baru saja lulus dari bangku SMA, ia dihadapkan pada pilihan hidup yang lumrah dialami anak daerah.
"Bulan Juli Kakak tamat sekolah SMA, terus memang mungkin rezekinya tidak di kuliah, nyoba-nyobalah cari pengalaman kerja dan berpenghasilan sendiri," cerita Melisa saat ditemui Posbelitung.co, Senin (22/6/2026).
Melisa memberanikan diri memasukkan surat lamaran kerja ke Puncak Manggar. Langkahnya saat itu ternyata diikuti oleh ratusan pencari kerja lainnya yang melihat ritel tersebut sebagai tempat kerja paling bergengsi.
Persaingan pun dilalui dari tahapan seleksi yang panjang. Hingga, singkat cerita Melisa dinyatakan lolos.
"Pas interview terus lanjut tahap-tahap berikutnya, Alhamdulillah Kakak keterima. Bulan Agustus 2009 itu Kakak kerja di Puncak," ucapnya.
Kehadiran Melisa di sana bertepatan dengan masa-masa awal perkembangan ritel tersebut di Belitung Timur. Seperti yang diketahui, Puncak Manggar sendiri sejatinya telah berdiri sejak tahun 2005 di sana.
"Misal berdiri Puncak tahun 2005, berarti 4 tahun setelah berdiri Puncak Kakak kerja di Puncak," kata Melisa.
Sebagai karyawan baru, Melisa melewati masa percobaan yang ketat selama tiga bulan penuh. Di masa training inilah ia menyaksikan sendiri bagaimana hebatnya Puncak Manggar dalam menyedot perhatian ribuan masyarakat lokal kala itu.
Dari yang diingat Melisa, suasana toko selalu sesak oleh pengunjung yang luar biasa padat hampir setiap hari. Fenomena ini terjadi lantaran Puncak merupakan satu-satunya tempat belanja modern yang menawarkan pengalaman berbeda dibanding toko kelontong biasanya di Beltim.
"Memang luar biasalah ramainya Puncak karena memang Puncak Manggar ini pusat perbelanjaan pertama di Kota Manggar kan. Jadi kalau zaman sekarang istilahnya FOMO," ujarnya.
Saking ramainya pengunjung, manajemen sering kali kewalahan mengatur jadwal operasional harian. Ketika ada karyawan yang terpaksa mengambil cuti atau libur, Melisa harus siap sedia menerima instruksi lembur demi menjaga ritme pelayanan toko.
"Dulu memang ramai-ramai memang luar biasa lah. Sampai-sampai kami aja ada kadang-kadang yang misalnya pas ada yang karyawannya libur gitu ya, kami mau tidak mau ambil lembur," katanya.
Beruntung, manajemen Puncak kala itu adil dalam memperhatikan kesejahteraan pekerjanya. Setiap jam tambahan yang dikorbankan selalu dihargai oleh kompensasi yang setimpal melalui sistem upah lembur.
"Tapi lemburnya itu dibayar. Terus kawan kerja klop juga gitu kan, jadi senang aja gitu. Enggak ada yang misalnya iri-irian kerja, enggak, alhamdulillah lah," ungkapnya.
Karir Melisa di Puncak Manggar bermula dari menjaga area koridor busana pria. Setelah itu, barulah ia mendapatkan kepercayaan untuk bergeser ke mesin kasir.
Pekerjaan sebagai kasir diakui Melisa memberikan banyak pelajaran hidup, terutama tentang kesabaran dalam menghadapi watak pembeli yang beragam.
Melisa bahkan masih mengingat jelas satu di antara momen paling membekas dalam hidupnya, yakni saat ia baru beberapa hari menduduki meja kasir dan mendapatkan teguran dari pelanggan karena kekeliruan kecil dalam menghitung uang kembalian.
"Ada orang yang nyebut gini, 'Baru ya jadi kasir?' katanya. Jadi Kakak tuh, kok bisa orang ini tahu gitu Kakak baru jadi kasir? Ternyata karena saat itu mungkin Kakak ngembaliin duit dia ada kurang atau gimana," jelasnya.
Pengalaman lainnya yang tak kalah membuat jantung Melisa berdegup kencang adalah momen saat proses tutup buku kasir di malam hari. Melisa sempat dibuat panik bukan main lantaran mendapati laporan keuangannya tidak sinkron.
"Pernah juga Kakak tuh khilaf kayak malam pas tutup kasir, Kakak tuh nyangkanya duit di kasir tuh hilang, enggak tahu esok pagi rupanya duitnya ada terselip," tuturnya.
Terkait gaji, Melisa sedikit mengingat upah bulanan yang ia terima selama mengabdi di sana.
"Kalau dari awal sekali Kakak kerja Rp579.000 gitulah pokoknya, enggak sampai Rp600.000," ungkapnya.
Seiring berjalannya wakt, upah bulanannya terus merangkak naik secara bertahap. Hingga menjelang akhir masa baktinya, Melisa mendapatkan gaji bulanan di angka Rp1,7 juta-an, yang diakuinya setara UMR pada zaman itu.
"Terakhir Kakak kerja itu Rp1,7. Tapi zaman itu lah UMR lah," sebutnya.
Melisa menghabiskan waktu hampir lima tahun mengabdi di Puncak Manggar, terhitung sejak Agustus 2009 hingga akhirnya memutuskan mengundurkan diri pada tahun 2013. Keputusan pahit untuk keluar dari zona nyaman tersebut harus diambil karena alasan keluarga.
Melisa terpaksa mengundurkan diri demi fokus mengasuh anak pertamanya yang baru lahir kala itu. Rekan-rekan kerjanya bahkan sempat menyayangkan keputusan mundurnya Melisa, mengingat pada tahun 2013, kondisi operasional toko sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda kemunduran.
"Di 2013 tuh di penghujung Kakak kerja, tanda-tanda kalau menurun enggak, masih aman alhamdulillah. Makanya kan teman-teman kerja tuh, 'Sayang amat berhenti,' gitu kan," katanya.
Kini, Melisa ikut mendengar isu tak sedap mengenai tempat kerjanya dulu yang dikabarkan akan segera menutup riwayat operasional.
Melisa pun tak mampu menyembunyikan rasa sedihnya, terutama saat membayangkan nasib rekan-rekan seperjuangannya yang hingga detik ini masih menggantungkan hidup di sana.
"Kalau misalkan disayangkan, mungkin disayangkan. Tapi kalau kita lihat sekarang, daya saingnya memang mungkin berkurang karena toko-toko yang lain memang udah menjamur kan," jelasnya.
Meski begitu, Melisa memilih untuk berdamai akan kenyataan perubahan zaman. Baginya, setiap bisnis di dunia ini memang memiliki batas tersendiri.
"Tapi apa boleh dikata lah kalau memang lah waktunya kan. Semua ada masanya, semua ada waktu jayanya," ucap Melisa menutup perbincangan. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)