Kenangan Pelanggan Setia Puncak Manggar, Dari Belanja Rutin hingga Tempat Bermain Keluarga
Hendra June 22, 2026 11:35 PM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Puncak Manggar tentunya menyimpan ribuan memori masa lalu, terutama bagi mereka yang tumbuh besar bersamaan dengan masa keemasan ritel legendaris tersebut.

Satu di antara sekian banyak masyarakat yang memiliki ikatan emosional cukup erat dengan swalayan ini adalah Imey (37). Perempuan yang menetap di Desa Lalang, Kecamatan Manggar, ini mendadak diliputi haru saat mengingat kembali kenangan masa lalunya.

Ingatan Imey langsung melayang ke tahun 2008. Tahun yang menjadi awal mula dirinya percaya diri menyebut diri sebagai pelanggan setia pusat perbelanjaan modern pertama di Kota Manggar tersebut.

"Tahun 2008 itu sudah mulai belanja di sana," kata Imey, Senin (22/6/2026).

Adapun kesan yang didapatkan Imey saat pertama kali mengunjungi Puncak Manggar belasan tahun lalu ternyata sangat membekas di hati. Keramahan para pegawai serta kenyamanan suasana toko langsung membuat dirinya terpikat.

"Kesannya waktu itu pelayanannya sangat bagus. Selain itu, harganya juga tidak terlalu mahal bagi kami," ujarnya.

Pada era 2000-an, keberadaan Puncak Manggar memang dipandang sangat spesial oleh masyarakat Belitung Timur. Swalayan ini menjadi pembeda di tengah menjamurnya toko-toko kelontong di sekitar Kota Manggar saat itu.

Di mata Imey, daya tarik yang membuat Puncak Manggar begitu digdaya pada masanya adalah kelengkapan barang yang dijual.

"Puncak Manggar itu barangnya lengkap banget, tidak selalu kosong seperti di toko lain. Dan yang paling penting, harganya sangat ramah di kantong," jelas Imey.

Saking cintanya, Imey menjadwalkan kunjungan rutin ke gedung swalayan tersebut. Dulu, ia bersama keluarga hampir tidak pernah absen untuk berbelanja ke Puncak Manggar. Intensitas kunjungannya tergolong sangat tinggi.

"Kalau dulu sering banget, setidaknya dua minggu sekali pasti belanja di sana," ungkapnya.

Adapun barang yang dibeli Imey setiap kali ke Puncak Manggar terbilang cukup bervariasi. Ia kerap membeli kebutuhan rumah tangga hingga perlengkapan anak.

"Kalau dulu biasanya yang dibeli itu pakaian, sandal anak, tas, dan perlengkapan dapur," sebutnya.

Tak hanya itu, Puncak Manggar juga menjadi tujuan Imey saat ingin membeli peralatan elektronik rumah tangga.

"Kipas angin sampai magic com (penanak nasi) juga dulu belinya di Puncak," tambahnya.

Uniknya, Imey bukan tipe konsumen yang suka menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berbelanja. Proses belanjanya tergolong cepat.

"Satu jam-an lah biasanya di dalam, tidak lama. Kalau sudah selesai belanja ya langsung pulang," tuturnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, terjadi perubahan besar pada pola konsumsi masyarakat, termasuk Imey. Intensitas kedatangannya ke Puncak Manggar perlahan mengalami penurunan.

"Tahun 2022 itu sudah mulai jarang banget ke Puncak lagi," ujarnya.

Alasan yang membuat Imey mulai enggan melangkahkan kaki ke sana lantaran kondisi toko yang dinilainya mulai kehilangan daya tarik. Ketersediaan barang dagangan perlahan menyusut.

"Sebabnya karena sekarang barangnya sudah tidak lengkap lagi di dalam. Terus, barang-barang yang dipajang di sana juga kebanyakan produk-produk lama," katanya.

Imey pun kini lebih memilih memanfaatkan teknologi di genggaman tangannya. Ia lebih sering berbelanja secara daring.

"Ya kalau beli baju atau sandal sekarang lewat online saja, lebih praktis," ucapnya.

Sementara itu, untuk kebutuhan dapur sehari-hari, Imey memilih berbelanja di toko kelontong yang berada di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.

"Kalau untuk belanja kebutuhan pokok harian ya sekarang di warung dekat rumah saja," ujarnya.

Belakangan ini, isu mengenai rencana penutupan operasional Puncak Manggar telah menyebar luas dan menjadi perbincangan publik. Saat pertama kali mendengar kabar tersebut, Imey mengaku sangat sedih.

"Sedih banget dengarnya, karena bagaimanapun itulah dulu satu-satunya supermarket yang paling lengkap di Manggar. Saya yang baru datang ke Belitung saja sering banget belanja di sana," ceritanya.

Bagi Imey, Puncak Manggar di masa lalu juga menjadi pusat hiburan keluarga yang sangat dinanti setiap akhir pekan. Pasalnya, di lantai atas gedung tersebut pernah berdiri sebuah arena permainan anak-anak.

Keberadaan game center di lantai atas itulah yang melengkapi memori masa muda Imey. Tempat itu menjadi lokasi favorit untuk menghabiskan waktu bersama keluarga maupun teman-teman.

"Apalagi dulu di lantai atas itu ada permainan anak-anak kayak game center gitu. Saya sering banget main di sana dulu sama keluarga atau sama teman-teman," katanya.

Meski begitu, Imey tidak menyangkal bahwa perkembangan teknologi dan menjamurnya kompetitor baru menjadi salah satu penyebab berkurangnya jumlah pengunjung Puncak Manggar saat ini. Masyarakat kini memiliki banyak pilihan tempat berbelanja yang lebih dekat dan modern.

"Ya karena sekarang orang-orang sudah tahu dan pintar belanja online. Ditambah lagi, sekarang di Manggar ini sudah banyak banget supermarket atau minimarket baru yang buka di mana-mana, makanya Puncak jadi sepi," terangnya.

Meski mulai jarang berkunjung, Imey ternyata sempat kembali mendatangi Puncak Manggar pada pekan lalu. Kedatangannya seolah menjadi pengobat rindu di tengah isu penutupan toko.

"Minggu kemarin sih sebetulnya sempat juga saya mampir dan belanja lagi di sana. Saya cuma beli sandal sama buku tulis untuk anak," ungkapnya.

Oleh karena itu, Imey pun berpesan kepada seluruh pekerja Puncak Manggar yang hingga saat ini masih setia bertahan menjaga toko di tengah ketidakpastian.

Imey berharap seluruh perjuangan para pegawai senantiasa bernilai ibadah. Ia percaya bahwa apa pun keputusan akhir yang akan diambil nanti, rezeki setiap manusia tidak akan pernah tertukar.

"Tetap semangat untuk semua pegawai, dan semoga semua perjuangan kalian selalu berada dalam lindungan Yang Maha Kuasa. Karena setiap orang pasti sudah diatur rezekinya dan memiliki jalan hidupnya masing-masing," tutupnya.

(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.