Tren Mobil Listrik Global ‘Meledak’, Kok Bisa?
Tribunnews June 23, 2026 04:18 AM

Pasar mobil listrik di seluruh dunia berkembang lebih cepat dari perkiraan. Dalam waktu enam tahun penjualan mobil listrik telah meningkat sepuluh kali lipat. Di tahun 2025, sekitar 21 juta mobil listrik telah terjual di seluruh dunia. Ini perbandingannya:

  • 2019: Hanya 1 persen dari mobil baru yang terjual di seluruh dunia adalah mobil listrik
  • 2025: angkanya mencapai 25 persen
  • Mei 2026: 63% mobil baru di Cina adalah mobil listrik.
  • Dari 1,4 miliar mobil di seluruh dunia, sekitar 85 juta di antaranya bertenaga listrik.

Cina memimpin mobilitas listrik

Negara ini telah berinvestasi selama bertahun-tahun dalam teknologi masa depan seperti tenaga surya dan angin, serta dalam teknologi baterai, yang merupakan komponen kunci bagi mobilitas listrik.

Berkat penelitian terdepan dan produksi massal, harga baterai untuk mobil listrik semakin murah. Saat ini harganya hanya seperempat dari harga satu dekade lalu.

Di Cina, harga mobil listrik pun lebih murah daripada mobil diesel atau bensin sejak tahun 2024. Pemerintah Cina pun sedang gencar mengembangkan infrastruktur pengisian daya, dan menawarkan tarif listrik yang murah. Tahun 2015, pangsa mobil listrik dalam penjualan mobil baru di Cina hanya sebesar satu persen sedang pada Mei 2026 angkanya sudah mencapai 63 persen.

Jenis mobil listrik dan hibrid

Selain kendaraan yang beroperasi sepenuhnya dengan tenaga listrik, terdapat berbagai jenis mobil hibrida yang menggabungkan mesin berbahan bakar bensin dengan penggerak listrik:

  • Battery Electric Vehicles (BEV) - Sekitar dua pertiga mobil listrik di seluruh dunia termasuk dalam kategori ini. Mobil-mobil ini beroperasi sepenuhnya dengan listrik yang disimpan dalam baterai. Pengisian dayanya dilakukan melalui kabel di stasiun pengisian atau stopkontak.
  • Plug-in Hybrid (PHEV) - Sekitar sepertiga dari kendaraan listrik adalah kendaraan hibrid. Kendaraan plug-in hybrid dilengkapi dengan motor listrik dan motor berbahan bakar bensin. Kedua sistem penggerak tersebut dapat menggerakkan roda secara langsung.
  • Extended Range Electric Vehicles (EREV) - Pada tipe ini, roda kendaraan digerakkan listrik. Mesin pembakaran internal hanya berfungsi sebagai generator: ketika baterai habis, mesin tersebut menghasilkan listrik untuk motor listrik. Jangkauan kendaraan tipe ini pun semakin jauh.

Uni Eropa: Satu dari tiga mobil baru adalah mobil listrik

Pada tahun 2018, pangsa mobil listrik di antara mobil baru yang didaftarkan di Uni Eropa hanya sebesar satu persen. Pada April 2026, hampir satu dari tiga mobil baru di sana sudah merupakan mobil listrik. Mobilitas listrik sudah sangat maju di Eropa Utara. Di Norwegia, hampir semua mobil baru yang dijual kini bertenaga listrik (99%), di Denmark angkanya mencapai 82%, dan di Swedia 65%. Pemerintah di negara-negara tersebut telah lama mendorong mobilitas ramah lingkungan dengan infrastruktur pengisian dayanya sudah sangat baik dan terus dikembangkan.

Di Inggris, sekitar 40% mobil penumpang baru pada Mei 2026 adalah mobil listrik, di Jerman 37%, dan Prancis 34%. Di ketiga negara tersebut, penjualan mobil listrik naik sekitar 30 persen dibandingkan dengan bulan tahun lalu.

AS: Pasar mobil listrik stagnan

Di AS, pasar mobil listrik mengalami stagnasi dalam beberapa tahun terakhir. Antara tahun 2023 dan 2025, pangsa mobil listrik dalam pendaftaran kendaraan baru hanya mencapai 10%, bahkan pada bulan April 2026 angkanya turun di bawah 6%. Insentif pajak untuk pembelian mobil listrik baru di sana telah berakhir tahun lalu.

Model Y dan Model 3 yang diproduksi oleh perusahaan AS Tesla merupakan mobil listrik terlaris di dunia. Setelah itu disusul dengan mobil-mobil listrik buatan Cina.

Secara global, sebagian besar kendaraan listrik diproduksi di Cina (71%), diikuti oleh Eropa (17%) dan Amerika Serikat (5%). Korea Selatan dan Jepang masing-masing memproduksi dua persen dari total mobil listrik global, sedangkan di India satu persen.

Tren mobil listrik di Asia dan Amerika Latin juga ikut meledak

Menurut peringkat Badan Energi Internasional (IEA),perkembangan mobil listrik dibeberapa negara Asia sudah sangat maju: Nepal (68%) mobil listrik yang tercatat di tahun 2025, diikuti oleh Singapura (63%), Vietnam (41%), dan Thailand (23%). Di Turki, angkanya mencapai 22% tahun lalu. Angka-angka ini jauh lebih tinggi dari AS.

Di Amerika Latin, penjualan mobil juga listrik meningkat pesat: Dalam waktu hanya dua tahun, angka penjualannya telah meningkat tiga kali lipat. Pada kuartal pertama tahun 2026, Uruguai mencatat pangsa pasar mobil listrik tertinggi dalam penjualan mobil baru, yaitu sebesar 31%, diikuti oleh Kosta Rika (16 %), Kolombia (15 %), dan Brasil (10 %). Di negara tetangga AS, Mexiko, angkanya mencapai 6%.

Etiopia: Pelopor kendaraan listrik Afrika

Di Afrika, Etiopia menjadi negara yang paling gencar mengadopsi kendaraan listrik. Sejak 2024, Etiopia menjadi negara pertama di dunia yang melarang impor mobil baru maupun bekas bermesin pembakaran internal. Sejak saat itu, jumlah kendaraan listrik di sana telah meningkat hampir empat kali lipat, kini mencapai lebih dari 100.000 unit.

Sebanyak 96% pasokan listrik di Etiopia berasal dari tenaga air. Hal ini membuat biaya pengoperasian mobil listrik sekitar delapan kali lebih murah dibandingkan mobil berbahan bakar bensin. Melalui peningkatan peralihan ke mobilitas listrik, pemerintah berupaya memanfaatkan pasokan listrik dalam negeri dan menghemat biaya impor minyak bumi yang tinggi.

Mobil listrik akan lebih murah daripada mobil berbahan bakar fosil

Hingga saat ini, harga jual mobil listrik umumnya lebih tinggi daripada mobil berbahan bakar fosil. Pada tahun 2025, menurut IEA, harganya sekitar 27 persen lebih mahal di AS, 19 persen di Jerman, serta 11 persen di Brasil dan Turki.

Namun, harganya turun dengan cepat. Di Cina, mobil listrik baru sudah tersedia dengan harga di bawah 10.000 euro(Rp200 juta) dan obil listrik baru rata-rata 20 persen lebih murah daripada mobil berbahan bakar fosil baru.

Di Eropa, sebagian besar mobil listrik masih berharga di atas 20.000 euro(Rp400 juta). Namun mobil listrik yang murah mulai bermunculan didukung subsidi pemerintah.

Baterai yang kuat didukung stasiun pengisian cepat dengan jumlah besar

Dulu, mobil listrik kelas atas hanya mampu menempuh jarak maksimal 500 kilometer dengan satu kali pengisian baterai. Saat ini, beberapa mobil listrik sudah memiliki jangkauan lebih dari 800 kilometer. Infrastruktur pengisian daya terus dikembangkan. Menurut produsen BYD, mereka mampu menyediakan daya listrik untuk jarak tempuh 700 km dengan waktu pengisian 10 menit menggunakan "Flash Charger”. Umumnya pengisian daya untuk 300 km membutuhkan waktu sekitar 20 menit, tergantung jenis mobilnya. Sedangkan pengisian di rumah membutuhkan waktu beberapa jam untuk hal yang sama.

Mobil listrik lebih efisien dan lebih hemat

Motor listrik jauh lebih efisien daripada mesin bensin karena mengubah listrik secara langsung menjadi energi kinetik. Dalam proses ini, 80% energi dimanfaatkan, sedangkan 20% hilang sebagai panas sisa. Pada mesin berbahan bakar bensin, yang terjadi adalah sebaliknya. Saat pembakaran bahan bakar, 80% energi hilang, hanya 20% yang dapat dimanfaatkan untuk tenaga penggerak. Jika menggunakan bahan bakar solar sekitar 40% dimanfaatkan untuk penggerak.

Oleh karena itu, mobil listrik mengonsumsi lebih sedikit energi: sekitar 15 kilowatt-jam (kWh) per 100 kilometer. Pada mobil berbahan bakar fosil untuk jarak yang sama dibutukan energi 50 kWh, setara dengan sekitar 6 liter bensin.

Perang di Iran mendorong lebih banyak penggunaan mobil listrik

Harga minyak yang tinggi akibat perang di Iran dan penurunan biaya baterai akan semakin mempercepat penjualan kendaraan listrik, demikian prediksi Badan Energi Internasional (IEA).

IEA memperkirakan bahwa pada tahun 2026 akan terjual sekitar 23 juta mobil listrik, hampir 30?ri seluruh mobil baru di seluruh dunia, dengan tren yang terus meningkat. Menurut laporan Electric Vehicle Outlook dari Bloomberg New Energy Finance, pangsa mobil listrik dalam penjualan mobil baru global diperkirakan mencapai 38% pada tahun 2030 dan 52% pada tahun 2035.

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.