SURYA.co.id, SURABAYA – Polisi akhirnya berhasil menangkap MN (21), pemuda asal Kelurahan Pacarkembang, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya, yang diduga menjadi pelaku pembacokan maut terhadap seorang pelajar saat konvoi perayaan Anniversary Persebaya ke-99 tahun di Surabaya.
Penangkapan tersebut mengakhiri pelarian MN setelah insiden berdarah yang menewaskan seorang remaja berinisial GAD (18) dan melukai korban lain berinisial BO.
Unit Jatanras Satreskrim Polrestabes Surabaya meringkus tersangka di wilayah Kabupaten Sampang, Madura, beberapa hari setelah kejadian.
Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Edy Herwiyanto mengatakan, pelaku diamankan saat berada di Desa Pengkol Pasarenan, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang.
“Pada Sabtu (20/6/2026), sekitar pukul 08.00 WIB pelaku penganiayaan tersebut berhasil diamankan lalu dibawa ke Polrestabes Surabaya beserta barang bukti,untuk proses penyidikan lebih lanjut,” jelas AKBP Edy, Minggu (21/6/2026).
Hasil penyelidikan sementara mengungkap bahwa MN berangkat mengikuti konvoi bersama rombongan dari kawasan Kedung Sroko, Surabaya.
Menurut polisi, rombongan tersebut terdiri dari sekitar 10 sepeda motor yang digunakan secara berboncengan. Namun berbeda dengan peserta lainnya, MN disebut mengendarai sepeda motor RX-King seorang diri.
Dari hasil pemeriksaan, polisi menemukan fakta bahwa tersangka telah membawa senjata tajam jenis celurit sejak berangkat dari rumah.
“Pelaku mengaku membawa senjata tajam dari rumah, yang bersangkutan naik motor RX-King sendiri. Setelah kejadian di TKP, dia bertemu temannya naik motor di antar pulang,” beber AKBP Edy Herwiyanto.
Temuan tersebut menjadi salah satu aspek yang kini didalami penyidik untuk mengetahui motif dan rangkaian peristiwa secara utuh.
Peristiwa pembacokan terjadi pada Kamis (18/6/2026) sekitar pukul 00.30 WIB di Jalan Sumatera, Kelurahan Pacarkeling, Kecamatan Tambaksari, Surabaya.
Saat itu berlangsung konvoi perayaan hari jadi Persebaya ke-99 yang diikuti banyak kelompok suporter.
Polisi menduga insiden bermula ketika rombongan pelaku berpapasan dengan rombongan korban. Situasi kemudian memanas hingga terjadi adu mulut.
“Diduga terjadi akibat perselisihan, ketika rombongan pelaku berpapasan dengan rombongan korban. Kemudian terjadi adu mulut antara keduanya,” jelas AKBP Edy, Minggu (21/6/2026).
Berdasarkan keterangan tersangka, dirinya mengaku mengeluarkan celurit karena merasa berada dalam posisi terdesak.
Baca juga: Permintaan Terakhir Remaja Surabaya yang Tewas Dibacok saat Melerai Keributan dalam Konvoi
Perselisihan yang terjadi di jalanan itu berakhir tragis setelah senjata tajam digunakan dalam bentrokan.
Polisi menyebut sabetan celurit yang dilakukan pelaku mengenai korban hingga menyebabkan hilangnya nyawa seorang pelajar.
“Sabetan senjata tajam mengenai tangan korban hingga menyebabkan meninggal dunia,” tuturnya.
Korban meninggal dunia diketahui berinisial GAD (18). Sementara itu, korban lainnya, BO, mengalami luka bacok serius pada bagian punggung sebelah kiri dan harus menjalani perawatan.
Dalam pengungkapan kasus ini, polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga berkaitan dengan tindak pidana tersebut.
Barang bukti yang disita antara lain Visum et Repertum, rekaman video yang menunjukkan pelaku membawa senjata tajam, helm dan pakaian milik tersangka, serta satu bilah celurit yang diduga digunakan saat kejadian.
Saat ini penyidik masih terus mendalami keterangan tersangka maupun sejumlah saksi guna mengungkap secara lengkap kronologi dan kemungkinan keterlibatan pihak lain.
“Tersangka dikenakan Pasal 458 ayat (1) dan atau Pasal 262 ayat (4) dan atau Pasal 466 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP,” tandas AKBP Edy.
Kasus ini menunjukkan bagaimana konflik yang bermula dari adu mulut dalam sebuah konvoi dapat berubah menjadi tindak kekerasan mematikan ketika salah satu pihak membawa senjata tajam.
Fakta bahwa tersangka mengaku telah membawa celurit sejak berangkat dari rumah menjadi perhatian penting dalam penyelidikan karena dapat menggambarkan tingkat risiko yang muncul ketika senjata dibawa dalam kegiatan yang melibatkan massa besar.
Selain itu, insiden ini kembali menjadi pengingat pentingnya pengawasan dan pengendalian keamanan dalam setiap kegiatan konvoi agar tidak berkembang menjadi bentrokan yang menimbulkan korban jiwa.
Sebelumnya, Aksi konvoi di jalanan kota Surabaya kembali memakan korban jiwa dan menyisakan duka mendalam bagi pihak keluarga serta dunia pendidikan.
Seorang remaja berusia 17 tahun berinisial GAD, atau yang akrab disapa Aldo, tewas mengenaskan setelah menjadi korban pembacokan brutal di kawasan Jalan Sumatera, Pacar Keling, Tambaksari, Surabaya.
Peristiwa memilukan ini terjadi pada Rabu malam, 17 Juni 2026, di tengah keriuhan konvoi perayaan ulang tahun sebuah klub sepak bola.
Aldo yang merupakan siswa kelas 2 di SMA Dharma Wanita Surabaya ini mengembuskan napas terakhirnya justru saat mencoba melakukan aksi solidaritas untuk menolong temannya.
Berdasarkan penuturan pihak keluarga, Aldo awalnya pergi bersama saudara laki-lakinya untuk mengikuti kegiatan malam itu.
Namun, situasi di jalanan mendadak berubah mencekam ketika sekelompok oknum mulai memicu keributan hingga menyebabkan salah satu rekan mereka terjatuh di jalan raya.
Melihat temannya terdesak, Aldo secara spontan bergerak maju dengan niat melerai perkelahian tersebut. Malangnya, kelompok penyerang tersebut ternyata mempersenjatai diri dengan senjata tajam.
Sonya Cantika, kakak kedua korban, mengungkapkan kronologi pilu yang ia dapatkan dari rekan-rekan adiknya:
"Informasi dari teman-temannya, ada pihak yang memicu keonaran hingga terjatuh. Adik saya berniat maju untuk melerai dan membela temannya. Namun, ternyata pelaku membawa senjata tajam, sehingga adik saya langsung menjadi sasaran serangan brutal tersebut," ujar Sonya dengan nada lirih menahan kesedihan, dikutip dari tayangan youtube SURYA.co.id.
Selain merenggut nyawa Aldo, insiden berdarah ini juga menyebabkan rekan Aldo yang bernama Bobi berada dalam kondisi kritis di rumah sakit.
Bobi mengalami luka bacok serius di bagian punggung saat mencoba menghindar dari amukan massa.
Secara keseluruhan, peristiwa mencekam malam itu dilaporkan memakan tiga orang korban, dengan rincian satu korban meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka-luka.
Kepergian Aldo yang begitu mendadak meninggalkan luka yang teramat dalam bagi Sonya dan seluruh keluarga besarnya.
Di mata orang-orang terdekatnya, Aldo dikenal sebagai sosok remaja yang baik, menyenangkan, dan humoris meskipun sekilas tampak pendiam.
"Anaknya itu sebenarnya sangat periang dan humoris, suka bercanda meskipun kadang susah tersenyum," kenang Sonya mengenai kepribadian adik kelimanya tersebut.
Sambil menahan tangis, Sonya juga menceritakan sebuah firasat atau permintaan terakhir yang disampaikan oleh Aldo beberapa hari sebelum tragedi itu terjadi.
Aldo sempat berulang kali meminta agar dibelikan pakaian baru kepada kakaknya.
"Beberapa hari yang lalu dia sempat meminta dibelikan baju baru. Katanya ingin punya kaos-kaos yang keren," tutur Sonya mengenang keinginan terakhir adiknya yang belum sempat terwujud sepenuhnya.
Kini, pihak keluarga hanya bisa pasrah menghadapi kenyataan pahit ini dan menyerahkan seluruh proses hukum kepada pihak berwajib.
Mereka berharap besar agar aparat kepolisian bisa segera meringkus seluruh pelaku pembacokan dan menjatuhkan hukuman yang seadil-adilnya sesuai undang-undang.