TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bandar Lampung - Dekan Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer (FTIK) Universitas Teknokrat Indonesia Assoc. Prof. Dr.Sc. Dedi Darwis, S.Kom., M.Kom., CDSP harumkan kembali nama kampus dengan menjadi Keynote Speaker di ajang 4th Latin American International Conference on Sustainable Engineering and Education (LAICSEE-2026).
Konferensi bergengsi ini diselenggarakan Institute For Engineering Research And Publication (IFERP) pada 19–20 Juni 2026 secara hybrid di Lima, Peru.
Dalam konferensi internasional yang mempertemukan para akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara ini, Dedi Darwis membawakan materi bertajuk “Leveraging Virtual and Augmented Reality for Green Infrastructure Planning, Education, and Sustainable Development.”
Ia tampil dalam sesi virtual pada Sabtu, 20 Juni 2026, berdampingan dengan sejumlah keynote speaker dan pembicara sesi dari berbagai negara seperti Oman, Peru, Malaysia, Iran, dan Bangladesh.
Berdasarkan susunan acara resmi panitia, Dedi Darwis dijadwalkan tampil pada pukul 11.13–11.28 waktu Peru (GMT-5) dalam segmen Keynote Speaker.
Berdampingan dengan para Keynote Speaker lain seperti Prof. Dr. Ernesto Cuadros-Vargas (Peru), Dr. Poovarasi Balan (Malaysia), Prof. Dr. Abbas Fadhil Aljuboori (Oman), Assoc. Prof. Dr. Farhad Soleimanian Gharehchopogh (Iran), serta Lt Col (R) Assoc. Prof. Ir Ts Dr. Vikneswaran Munikanan (Malaysia).
Mengangkat Urgensi Infrastruktur Hijau di Tengah Krisis Iklim
Dedi Darwis membuka presentasi dengan menyoroti urgensi pembangunan infrastruktur hijau di tengah percepatan urbanisasi global.
Ia memaparkan, kawasan perkotaan saat ini mengonsumsi lebih dari 70 persen energi global dan menyumbang lebih dari 60 persen emisi gas rumah kaca, sementara hampir 70 persen populasi dunia diproyeksikan tinggal di kota pada tahun 2050.
“Hutan kota, bioswale, atap hijau, dan koridor ekologis bukan lagi pilihan, melainkan respons mendesak terhadap perubahan iklim. Namun siklus perencanaan dan edukasi infrastruktur hijau selama ini berjalan terlalu lambat,” ujar Dedi Darwis dalam paparannya.
Ia menegaskan, teknologi immersive seperti Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) hadir sebagai jembatan untuk mempercepat proses tersebut, sekaligus memperkecil biaya dan risiko sebelum proyek fisik benar-benar dibangun.
Dedi Darwis menjelaskan empat pilar teknologi immersive yang dikembangkan timnya di Universitas Teknokrat Indonesia.
Yakni Augmented Reality (AR) yang menambahkan objek digital ke dunia nyata, Virtual Reality (VR) yang menghadirkan lingkungan digital sepenuhnya melalui perangkat seperti Meta Quest 2 dan 3, Mixed Reality (MR) yang memungkinkan interaksi real-time antara objek nyata dan virtual, serta Metaverse sebagai ruang digital tiga dimensi yang persisten untuk kolaborasi, pembelajaran, dan interaksi sosial melalui avatar.
Teknokrat menggunakan platform Roblox Studio sebagai basis pengembangan lingkungan tiga dimensi, dipadukan dengan perangkat keras Meta Quest 2 dan 3 untuk pengalaman VR yang sepenuhnya imersif.
Enam Penerapan VR/AR untuk Infrastruktur Hijau
Dedi Darwis memaparkan enam bidang penerapan konkret VR dan AR dalam perencanaan infrastruktur hijau, yaitu:
Perencanaan Ruang Hijau Perkotaan — AR digunakan untuk menampilkan rancangan taman, koridor hijau, dan hutan kota di atas peta kota nyata sebelum pembangunan fisik dimulai.
Simulasi Air dan Bioswale — VR memungkinkan para insinyur mensimulasikan sistem drainase dan menguji penempatan bioswale untuk manajemen air hujan secara aman.
Desain Bangunan Hijau — Kombinasi Building Information Modeling (BIM) dengan AR membantu arsitek memvisualisasikan atap hijau dan panel surya secara real-time.
Pemantauan Koridor Ekologis — Simulasi VR membantu memodelkan pola migrasi satwa liar untuk perencanaan konservasi.
Pelibatan Masyarakat — Tur publik berbasis AR memungkinkan warga menjelajahi ruang hijau yang direncanakan sebelum konstruksi dimulai.
Pendidikan Immersive — Kunjungan lapangan virtual ke hutan hujan dan ekosistem rentan memberi pengalaman belajar tanpa harus bepergian jauh.
Dedi Darwis juga menegaskan riset dan inovasi yang dikembangkan timnya selaras langsung dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB.
Diantaranya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran immersive yang inklusif, SDG 9 (Industri dan Inovasi) melalui teknologi konstruksi hijau yang lebih efisien.
SDG 11 (Kota Berkelanjutan) melalui perencanaan kota berbasis metaverse, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui simulasi skenario iklim, serta SDG 17 (Kemitraan) melalui kolaborasi lintas negara.
Ia memaparkan temuan riset yang menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis VR dapat mencapai tingkat retensi pengetahuan hingga 75 % , jauh lebih tinggi dibandingkan metode ceramah konvensional yang hanya berkisar 5 % .
Selain itu, peserta didik juga dapat memperoleh keterampilan hingga tiga kali lebih cepat melalui simulasi VR.
JUARAMETA: Pusat Unggulan Metaverse Pertama di Indonesia
Salah satu sorotan utama dalam presentasi Dedi Darwis adalah pemaparan mengenai JUARAMETA — Center of Excellence in Metaverse milik Universitas Teknokrat Indonesia, yang merupakan salah satu pioneer pusat riset metaverse di Indonesia.
JUARAMETA menjalin kemitraan strategis dengan Kemendiktisaintek, Komdigi, serta mitra industri global seperti WIR Group, Meta, dan Microsoft.
Dedi Darwis turut memamerkan sembilan produk unggulan hasil pengembangan JUARAMETA, di antaranya:
Teknokrat World on Roblox — kampus virtual tiga dimensi untuk kegiatan akademik dan sosial.
Museum Lampung Virtual Tour — pelestarian warisan budaya dan alam Lampung secara digital.
Game edukasi “Ido dan Adi: Pesisir Barat” — game konservasi ekosistem pesisir untuk anak-anak.
Candi Borobudur Virtual Heritage — tur metaverse situs Warisan Dunia UNESCO.
Metaverse Mall — platform V-Commerce untuk UMKM Indonesia, bagian dari hibah riset Kemendikbudristek.
Dinno Summit dan Teknokrat Trails — pengalaman summit virtual untuk networking dan berbagi pengetahuan.
Metaschool SMA Al-Kautsar — sekolah metaverse pertama di Indonesia.
Metaschool SMP Az-Zahra — lingkungan sekolah virtual untuk pembelajaran jarak jauh siswa SMP.
Sidang Skripsi via Metaverse — Teknokrat tercatat sebagai universitas pertama di Indonesia yang menggelar sidang skripsi formal di dalam lingkungan metaverse.
Selain riset dan pendidikan, Dedi Darwis juga menekankan komitmen Teknokrat dalam pengabdian kepada masyarakat.
JUARAMETA secara aktif menggelar pelatihan AR dan VR bagi guru-guru di sekolah negeri dan swasta se-Lampung, mendukung pemerintah daerah dalam memvisualisasikan proyek infrastruktur melalui AR, hingga menyelenggarakan kajian keislaman melalui platform Roblox — sebuah inovasi unik yang menunjukkan bahwa metaverse juga dapat menjadi ruang spiritualitas dan pembelajaran bersama bagi masyarakat.
Membuka Peluang Kolaborasi Internasional
Di akhir presentasinya, Dedi Darwis mengajak para akademisi dan peneliti dari Amerika Latin maupun negara lain yang hadir dalam konferensi tersebut untuk menjalin kolaborasi riset lintas benua, khususnya antara Asia dan Amerika Latin, dalam bidang teknologi immersive untuk pembangunan berkelanjutan.
“Tantangan pembangunan berkelanjutan bersifat global, maka solusinya pun harus bersifat global. Saya membuka tangan lebar bagi siapa pun yang ingin membangun masa depan yang lebih berkelanjutan, lebih immersive, dan lebih inklusif bersama kami,” tutup Dedi Darwis di hadapan para peserta konferensi dari berbagai negara.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/rls)