Sentilan Nyelekit Trump untuk Netanyahu, Sebut Israel Bisa Hancur Lebur Tanpa Bantuan AS
Putra Dewangga Candra Seta June 23, 2026 02:05 PM

 

SURYA.co.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah menyentil Israel, menyebutnya tidak akan mampu bertahan tanpa dukungan penuh dari Washington.

Pernyataan tersebut menunjukkan besarnya pengaruh Amerika Serikat terhadap keamanan Israel, sekaligus memperlihatkan dilema yang kini dihadapi Trump di tengah konflik Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Di satu sisi, Trump masih menegaskan pentingnya hubungan strategis antara Amerika Serikat dan Israel.

Namun di sisi lain, ia mulai menunjukkan ketidaknyamanan terhadap perang berkepanjangan yang dinilai berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global dan kepentingan politik dalam negeri Amerika Serikat.

Situasi ini memunculkan pertanyaan baru: apakah Trump akan terus memberikan dukungan tanpa syarat kepada Israel, atau justru mendorong sekutunya tersebut untuk segera mengakhiri konflik?

Israel Masih Bergantung pada Dukungan Amerika Serikat

Trump menilai kekuatan pertahanan Israel saat ini sangat bergantung pada bantuan militer Amerika Serikat, baik dalam bentuk pendanaan, teknologi persenjataan, maupun dukungan strategis di kawasan Timur Tengah.

Bukan tanpa alasan, sebagian besar sistem pertahanan utama Israel diketahui dikembangkan atau didukung langsung oleh Amerika Serikat.

Salah satu contohnya adalah sistem pertahanan udara Iron Dome yang digunakan Israel untuk mencegah serangan roket dan rudal dari kelompok bersenjata seperti Hizbullah maupun Hamas.

PUJI - Presiden AS Donald Trump saat bertemu dengan wartawan di Gedung Putih, Kamis (11/12/2025). Trump akhirnya mengakui kekuatan militer Iran kuat.
PUJI - Presiden AS Donald Trump saat bertemu dengan wartawan di Gedung Putih, Kamis (11/12/2025). Trump akhirnya mengakui kekuatan militer Iran kuat. (Youtube Reuters)

Selain itu, Amerika Serikat juga menjadi pemasok utama berbagai jenis senjata modern yang digunakan militer Israel dalam operasi tempur di Gaza, Lebanon, maupun kawasan lain di Timur Tengah.

Trump bahkan menyinggung keberadaan pesawat pengebom strategis B-2 milik Amerika Serikat yang dianggap sebagai simbol superioritas militer Washington dalam menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan.

Menurut Trump, dukungan militer tersebut membuat Israel memiliki kemampuan pertahanan yang sulit ditandingi negara-negara lain di kawasan.

“Jika bukan karena Donald Trump, Israel akan hancur lebur,” kata Trump sebagaimana dikutip dari The Middle East Eye.

Hubungan Trump dan Netanyahu Mulai Mengalami Ketegangan

Pernyataan Trump mengenai besarnya peran Amerika Serikat dalam menjaga keamanan Israel muncul di tengah hubungan politiknya dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang mulai mengalami ketegangan.

Laporan The Wall Street Journal menyebut komunikasi antara Trump dan Netanyahu belakangan tidak lagi berlangsung sehangat sebelumnya meski keduanya selama ini dikenal memiliki hubungan politik yang dekat.

Trump dikabarkan beberapa kali melontarkan kritik keras terhadap Netanyahu terkait perang berkepanjangan di Timur Tengah yang dinilai mulai membebani ekonomi global, termasuk ekonomi Amerika Serikat.

Dalam salah satu percakapan terkait konflik di Lebanon, Trump bahkan meminta Israel menghentikan serangan yang terus menghancurkan bangunan dan wilayah permukiman.

“Mengapa Anda menghancurkan gedung-gedung? Hentikan menghancurkan gedung-gedung,” kata Trump kepada Netanyahu, menurut laporan tersebut.

Baca juga: Perseteruan Trump dan Netanyahu Makin Memanas, Sebut Tanpa Peran Amerika Tak Akan Ada Israel

Kekhawatiran Trump Bergeser ke Dampak Ekonomi

Berbeda dengan pendekatan yang selama ini identik dengan dukungan kuat terhadap Israel, Trump kini disebut lebih banyak mempertimbangkan dampak ekonomi dari konflik yang terus berlangsung.

Trump dikabarkan khawatir perang berkepanjangan dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia, meningkatkan ketidakpastian pasar global, dan pada akhirnya berdampak terhadap stabilitas ekonomi Amerika Serikat.

Kekhawatiran tersebut menjadi semakin penting mengingat dinamika politik domestik Amerika Serikat yang kerap dipengaruhi oleh kondisi ekonomi.

Bagi Trump, konflik yang terus meluas berpotensi menciptakan tekanan baru terhadap harga energi, rantai pasok global, hingga iklim investasi internasional.

Mulai Meragukan Sejumlah Klaim Netanyahu Soal Iran

MEMANAS - Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara secara pribadi di Ruang Vermeil sebelum makan malam, Senin, 7 Juli 2025, di Gedung Putih. Hubungan mereka kini semakin memanas gara-gara Perang Libanon.
MEMANAS - Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara secara pribadi di Ruang Vermeil sebelum makan malam, Senin, 7 Juli 2025, di Gedung Putih. Hubungan mereka kini semakin memanas gara-gara Perang Libanon. (Dok White House)

Ketegangan tidak hanya muncul akibat perang di Lebanon. Trump juga mulai meragukan sejumlah klaim Netanyahu terkait ancaman Iran dan rencana operasi militer lanjutan yang ingin dilakukan Israel.

Menurut sejumlah sumber pemerintahan AS, pada awal konflik Trump sebenarnya mendukung langkah militer Israel terhadap Iran.

Bahkan, Netanyahu disebut sempat mempresentasikan langsung rencana serangan terhadap Iran kepada Trump, termasuk target-target strategis yang ingin dihancurkan.

Pada tahap awal perang, Trump dikabarkan cukup antusias membahas keberhasilan operasi militer Israel terhadap sejumlah target Iran.

Namun seiring berjalannya waktu, sikap Trump mulai berubah.

Trump disebut menolak beberapa rencana operasi tambahan yang diajukan Netanyahu, termasuk usulan melibatkan kelompok bersenjata Kurdi Irak untuk membantu menggulingkan pemerintahan Iran di Teheran.

Presiden Amerika Serikat itu juga dikabarkan semakin kesal karena Israel tetap melanjutkan serangan ke Lebanon meski gencatan senjata telah diberlakukan.

Dilema Trump di Tengah Upaya Meredakan Konflik

Perkembangan terbaru ini memperlihatkan dinamika baru dalam hubungan Washington dan Tel Aviv.

Di satu sisi, Amerika Serikat tetap menjadi sekutu utama Israel dan memiliki kepentingan besar dalam menjaga keamanan kawasan Timur Tengah.

Namun di sisi lain, Washington juga menghadapi tekanan untuk mendorong stabilitas regional agar konflik tidak semakin meluas.

Kondisi tersebut menempatkan Trump dalam posisi yang tidak mudah.

Mendukung Israel sepenuhnya berisiko memperpanjang konflik, sementara mendorong penghentian perang dapat memicu ketegangan dengan pemerintahan Netanyahu.

Pernyataan Trump menunjukkan adanya perubahan fokus dari pendekatan yang semata-mata berorientasi pada keamanan menjadi pertimbangan yang lebih luas, terutama terkait ekonomi dan stabilitas kawasan.

Jika sebelumnya Trump dikenal sebagai salah satu pemimpin Amerika Serikat yang paling dekat dengan Netanyahu, kini muncul tanda-tanda bahwa kepentingan ekonomi dan geopolitik mulai memengaruhi arah kebijakannya.

Meski hubungan Amerika Serikat dan Israel diperkirakan tetap kuat dalam jangka panjang, perbedaan pandangan mengenai strategi perang dan proses perdamaian dapat menjadi faktor penting yang menentukan arah konflik Timur Tengah pada periode mendatang.

Dilema Trump saat ini bukan lagi soal memilih antara mendukung atau tidak mendukung Israel, melainkan bagaimana menjaga aliansi strategis tanpa membiarkan konflik berkepanjangan menciptakan beban baru bagi Amerika Serikat dan ekonomi global.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.