TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Kemacetan di jalur menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, kembali membuat para sopir truk logistik yang hendak menyeberang ke Bali menderita. Antrean panjang yang terjadi dalam beberapa hari terakhir membuat banyak sopir harus menunggu lebih dari 10 jam, bahkan hingga sehari semalam sebelum dapat naik kapal.
Pada Selasa (23/6/2026), puluhan truk bertonase besar terlihat terparkir di area parkir Bulusan, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Para sopir dan kernet memanfaatkan waktu tunggu dengan beristirahat sambil menunggu jadwal penyeberangan.
Kemacetan yang terjadi sejak Minggu (21/6/2026) sore paling dirasakan oleh kendaraan angkutan barang berukuran besar. Truk-truk tersebut harus mengantre secara tertib di sepanjang jalur menuju pelabuhan dan tidak bisa langsung masuk ke area penyeberangan meski telah mendekati pintu masuk.
Baca juga: Libur Sekolah, Jalur Menuju Pelabuhan Ketapang Banyuwangi Macet hingga 2 Km
Sebelum menyeberang, kendaraan berat diwajibkan menunggu giliran di area parkir Bulusan. Kondisi ini membuat banyak sopir harus bermalam dan menunda jadwal pengiriman barang.
Salah seorang sopir truk, Putu, mengaku telah terjebak kemacetan sejak Senin sore. Ia membawa muatan kasur springbed dari Jakarta menuju Denpasar.
"Saya kemarin terjebak macet sekitar pukul tiga sore. Kemudian bermalam di sini. Habis ini harus dapat jadwal menyebrang," kata Putu saat ditemui di area parkir Bulusan.
Menurut Putu, keterlambatan penyeberangan membuat perjalanan yang biasanya dapat diselesaikan dalam tujuh hari menjadi lebih lama.
Baca juga: Kapal Eks-LCT di Ketapang-Gilimanuk Dilarang Mulai 2028, Operator Diberi Waktu 2 Tahun
"Ini mau menyebrang naik kapal perbantuan. Mudah-mudahan bisa cepat sampai," ujarnya.
Keterlambatan tersebut juga memengaruhi jadwal distribusi barang. Putu mengaku telah dihubungi pihak penerima barang di Denpasar untuk menanyakan keterlambatan pengiriman.
"Tadi bos di Denpasar sudah telepon. Tanya mengapa belum sampai. Saya kirim video macet di sini," lanjutnya.
Selain menyebabkan kelelahan dan keterlambatan pengiriman, kemacetan juga berdampak langsung pada biaya operasional para sopir. Selama dua hari menunggu antrean, Putu mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan sekitar Rp200 ribu untuk kebutuhan makan, rokok, dan tambahan bahan bakar.
"Saya nyopir sendiri. Kalau bawa kernet, lebih banyak pengeluarannya," tuturnya.
Kondisi serupa juga dirasakan banyak sopir logistik lainnya yang harus mengalokasikan biaya tambahan selama masa tunggu di sekitar pelabuhan.
ASLI Soroti Ketidakseimbangan Kapasitas Penyeberangan
Ketua Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI), Slamet Barokah, menilai kemacetan di Pelabuhan Ketapang kini semakin sulit diprediksi. Menurutnya, antrean panjang tidak lagi hanya terjadi saat musim liburan atau hari besar, melainkan sudah menjadi rutinitas dalam beberapa waktu terakhir.
"Kalau dulu, waktu menyebrang bisa diestimasi pasti sekitar sejam, maksimal dua jam. Sekarang tidak pasti, bisa sehari semalam," kata Slamet.
Ia menilai peningkatan jumlah kendaraan yang menyeberang tidak diimbangi dengan penambahan kapasitas sarana dan prasarana pelabuhan. Akibatnya, proses penyeberangan kerap tersendat dan memicu antrean panjang kendaraan logistik.
Baca juga: ASDP akan Ganti Dermaga Ponton Menjadi MB di Pelabuhan Ketapang, Kapasitas Naik Jadi 50 Ton
Sebagai solusi, ASLI mendorong optimalisasi sekaligus penambahan kapasitas dermaga di lintasan Ketapang-Gilimanuk.
"Di Ketapang ada sembilan dermaga, di Gilimanuk hanya tujuh. Jadi tidak imbang untuk sarananya," ujarnya.
Menurut Slamet, truk bertonase di atas 30 ton menjadi kelompok yang paling terdampak karena hanya dapat dilayani melalui Dermaga LCM dan Bulusan. Sementara dermaga lainnya masih terbatas untuk kendaraan dengan muatan di bawah 30 ton.
General Manager ASDP Ketapang Arief Eko mengatakan pihaknya telah menyiapkan langkah peningkatan kapasitas sejumlah dermaga agar dapat melayani kendaraan dengan tonase lebih besar.
"Secara bertahap, kami sudah ada rencana untuk meningkatkan kapasitas dermaga-dermaga lain agar bisa dinaiki oleh kendaraan bertonase 50 ton," ujar Arief.