S-EMPAT GENTING dan Masa Depan Anak Tebo
Oleh: Dr. Sindi, S.H., M.H.
Sekretaris Daerah Kabupaten Tebo
Kabupaten Tebo masih menghadapi tantangan serius dalam upaya menurunkan stunting. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, prevalensi stunting di Kabupaten Tebo mencapai 24,2 persen.
Angka ini masih berada di atas rata-rata nasional yang telah turun menjadi 19,8 persen. Di saat yang sama, prevalensi wasting tercatat 9,5 persen dan underweight 19,4 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa masih banyak anak yang belum memperoleh kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal.
Kondisi ini harus menjadi perhatian bersama. Stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak yang berada di bawah standar usianya. Dampaknya jauh lebih luas, mulai dari perkembangan otak, kemampuan belajar, produktivitas, hingga kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Ketika seorang anak mengalami stunting, yang sesungguhnya dipertaruhkan bukan hanya masa depan anak tersebut, melainkan juga masa depan daerah tempat ia tumbuh.
Berbagai program percepatan penurunan stunting sebenarnya telah dijalankan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Namun, tantangan terbesar saat ini bukan lagi terletak pada kurangnya program.
Di banyak daerah, tantangannya adalah bagaimana memastikan setiap upaya yang dilakukan benar-benar menjangkau keluarga yang membutuhkan dan mampu membangun keterlibatan masyarakat secara luas.
Pengalaman menunjukkan bahwa stunting tidak lahir dari satu penyebab. Persoalan ini berkaitan dengan kondisi ekonomi keluarga, pola asuh, pendidikan, sanitasi, akses layanan kesehatan, hingga ketersediaan pangan bergizi. Karena akar masalahnya bersifat multidimensi, maka penyelesaiannya pun tidak mungkin hanya mengandalkan satu sektor atau satu institusi. Pemerintah memiliki peran penting, tetapi pemerintah tidak dapat bekerja sendiri.
Stunting tidak bisa diturunkan hanya melalui intervensi pemerintah; diperlukan transformasi dari program pemerintah menjadi gerakan sosial masyarakat. Di sinilah pentingnya membangun kembali semangat gotong royong sebagai kekuatan sosial dalam pembangunan.
Selama ini sebagian besar intervensi stunting masih bertumpu pada pendekatan programatik yang digerakkan pemerintah. Pendekatan tersebut penting, tetapi sering kali menghadapi keterbatasan jangkauan dan keberlanjutan.
Atas keyakinan tersebut, Pemerintah Kabupaten Tebo melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) menginisiasi Gerakan S-EMPAT GENTING pada tahun 2025. Program ini lahir dari pemikiran sederhana bahwa kontribusi besar tidak selalu menjadi syarat untuk menciptakan perubahan besar.
S-EMPAT GENTING merupakan singkatan dari Segenggam Beras, Sebutir Telur, Sekotak Susu, dan Seribu Uang. Filosofi yang ingin dibangun melalui gerakan ini adalah bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam upaya pencegahan stunting sesuai kemampuan masing-masing.
Tidak semua orang mampu memberikan bantuan dalam jumlah besar, tetapi hampir semua orang dapat berbagi sedikit untuk membantu sesama.
Kekuatan utama S-EMPAT GENTING justru terletak pada kesederhanaannya. Program ini mengubah cara pandang bahwa penanganan stunting bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. Segenggam beras mungkin terlihat kecil. Sebutir telur mungkin tampak sederhana.
Namun ketika ribuan orang melakukannya secara bersama-sama dan berkelanjutan, dampaknya dapat menjadi sangat besar bagi keluarga yang membutuhkan.
Gerakan ini dijalankan dengan mengidentifikasi keluarga risiko stunting dan menghimpun dukungan dari berbagai unsur masyarakat mulai dari ASN, pemerintah desa, BUMD, dunia usaha, perbankan, lembaga sosial, hingga masyarakat umum. Bantuan yang terkumpul kemudian disalurkan secara berkala kepada keluarga sasaran melalui pendampingan kader dan pemerintah desa agar tepat sasaran dan berkelanjutan.
Saat ini, S-EMPAT GENTING menjangkau 77 balita stunting dan 1.035 keluarga berisiko stunting yang tersebar di 107 desa dan 5 kelurahan pada 12 kecamatan di Kabupaten Tebo.
Capaian tersebut bukanlah tujuan akhir, angka-angka itu hanyalah titik awal untuk membangun sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu tumbuhnya kesadaran kolektif bahwa tidak boleh ada anak yang kehilangan kesempatan meraih masa depan hanya karena persoalan gizi dan pengasuhan yang seharusnya dapat kita cegah bersama.
Saya meyakini bahwa salah satu kelemahan pendekatan pembangunan yang terlalu birokratis adalah kecenderungan menempatkan masyarakat hanya sebagai penerima manfaat. Padahal, masyarakat juga dapat menjadi pelaku perubahan.
Ketika warga ikut terlibat dalam menyelesaikan persoalan sosial di lingkungannya, maka program tidak lagi dipandang sebagai agenda pemerintah semata, melainkan sebagai gerakan bersama yang dijaga keberlanjutannya oleh masyarakat itu sendiri.
S-EMPAT GENTING bukan sekadar program bantuan pangan. Yang ingin dibangun bukan hanya ketahanan gizi keluarga, tetapi juga ketahanan sosial masyarakat. Antusiasme ASN, pemerintah desa, dunia usaha, lembaga sosial, dan masyarakat menunjukkan bahwa kepedulian terhadap anak-anak masih tumbuh kuat di Kabupaten Tebo.
Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan penurunan stunting tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi juga kemampuan mengubah kepedulian sosial menjadi gerakan kolektif.
Pengalaman di Kabupaten Tebo menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan sumber daya manusia memerlukan dukungan berbagai pihak. Pemerintah daerah tidak mungkin bekerja sendiri menghadapi persoalan yang kompleks seperti stunting. Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi penting dalam memperkuat efektivitas intervensi yang dilakukan.
Di Kabupaten Tebo, berbagai mitra pembangunan turut mengambil peran dalam mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat, mulai dari penguatan layanan kesehatan, pendidikan, hingga pemberdayaan keluarga. Salah satunya adalah Tanoto Foundation yang selama ini berkontribusi melalui berbagai program penguatan kapasitas masyarakat dan peningkatan kualitas layanan dasar.
Kehadiran berbagai mitra pembangunan tersebut menunjukkan bahwa upaya menyiapkan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan sinergi berkelanjutan antara pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas.
Pada akhirnya, masa depan anak-anak tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh kepedulian masyarakat di sekitarnya.
Karena itu, penurunan stunting harus dipandang sebagai gerakan sosial bersama. Pengalaman S-EMPAT GENTING menunjukkan bahwa ketika gotong royong menjadi bagian dari solusi, yang tumbuh bukan hanya anak-anak yang lebih sehat, tetapi juga masyarakat yang lebih peduli terhadap masa depannya sendiri.
Saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga semangat tersebut, sebab ketika banyak orang bersedia berbagi sedikit untuk tujuan yang besar, bukan hanya angka stunting yang dapat kita turunkan, melainkan juga harapan dan masa depan generasi Tebo yang dapat kita selamatkan bersama. (adv)
Simak informasi lainnya di media sosial Facebook, Instagram, Thread dan X Tribun Jambi
Baca juga: Harga Tiket Pesawat Jambi-Medan Tanpa Transit Rp2.112.900
Baca juga: Cendol Durian Bang Saka di Jambi Kian Berkembang dengan Dukungan Layanan BRI