POS-KUPANG.COM -Badan Meteorologi Klimatyologi dan Geofisika ( BMKG ) memprediksi musim kemarau 2026 akan lebih panjang dan lebih kering dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Puncak musim kemarau2026 berdasarkan Prediksi BMKG, terjadi pada Juli hingga September 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia.
Di saat yang sama, fenomena El Nino diperkirakan masih bertahan hingga awal 2027, dengan peluang mencapai kategori moderat hingga kuat.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, krisis air bersih, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah.
Baca juga: Jelang Kemarau Panjang Dampak El Nino, Bulog Update Strategi Agar Stok Pangan Tidak Terganggu
BMKG Ingatkan Dampak Musim Kemarau Panjang atau El Nino
Musim Kemarau Panjang atau El Nino pada tahun 2026 akan berdampak luas.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk mewaspadai meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan ( karhutla ) serta kekeringan pada musim kemarau 2026.
Peringatan tersebut disampaikan seiring adanya potensi fenomena El Nino dengan intensitas moderat yang dapat memengaruhi kondisi iklim di Indonesia.
Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani mengatakan bahwa ancaman bencana hidrometeorologi tidak hanya muncul saat musim hujan, tetapi juga pada musim kemarau.
"Pola hujan lebat, misalnya saja banjir, banjir bandang, longsor, dan lain sebagainya. Tapi juga ada hal lain yaitu ancaman bencana hidrometeorologi kering, misalnya saja kekeringan dan juga bahkan kebakaran hutan. Untuk itu maka pada saat memasuki musim kemarau ini kita perlu juga mengantisipasi akan potensi kebakaran hutan dan lahan," kata Ida secara virtual, Selasa (23/6/2026).
Ida menjelaskan, secara umum sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim hujan pada periode Desember hingga Februari.
Baca juga: Dampak Kemarau Panjang, Petani di Desa Payola Umbu Sumba Barat Daya Tidak Menanam
Sementara itu, Maret hingga Mei serta September hingga November merupakan masa peralihan atau pancaroba. Adapun bulan Juni, Juli, dan Agustus menjadi periode yang perlu mendapat perhatian lebih karena identik dengan musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.
Menurut Ida, ancaman karhutla dan kekeringan biasanya meningkat pada periode tersebut. Kondisi itu berpotensi semakin kuat dengan adanya El Nino yang telah diproyeksikan oleh BMKG.
"Pada saat bulan Juni, Juli, Agustus, nah ini Bapak Ibu sekalian ini yang perlu diperhatikan, karena pada bulan-bulan ini ancaman kebakaran hutan dan lahan, kemudian kekeringan itu akan biasanya menyertai di musim-musim kemarau ini. Apalagi kalau kita ingat bahwa kedeputian klimatologi juga sudah merilis adanya El Nino, El Nino pada skala moderat pada tahun ini potensinya," ujarnya.
BMKG menilai karhutla merupakan salah satu ancaman serius yang perlu diantisipasi sejak dini. Selain merusak ekosistem dan lingkungan, kebakaran hutan dan lahan juga dapat menurunkan kualitas udara serta menimbulkan dampak kesehatan bagi masyarakat.
"Karhutla atau potensi kebakaran hutan dan lahan yang dapat mengancam pada saat musim kemarau kali ini itu memiliki dampak yang sangat destruktif terhadap kelestarian lingkungan, kemudian memberikan ancaman terhadap kualitas udara serta memberikan gangguan yang signifikan pada kesehatan dan juga transportasi," tutur Ida.
Baca juga: BMKG Ingatkan Waspada Kemarau Panjang,Sebut Indonesia Berpotensi Alami Kekeringan Meteorologis
Ia menambahkan, dampak karhutla dapat menjadi lebih kompleks ketika asap yang dihasilkan menyebar hingga melintasi batas wilayah. Kondisi tersebut berpotensi memunculkan persoalan lintas daerah bahkan lintas negara. "Apalagi kalau misalnya untuk karhutla ini ketika nanti asapnya akan melintasi batas wilayah, maka ini juga akan menjadi isu kritis tersendiri," ujarnya.
Karena itu, Ida mengatakan bahwa BMKG mengimbau seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesiapsiagaan serta memanfaatkan informasi cuaca dan iklim yang telah disediakan sebagai dasar mitigasi risiko bencana. "Sehingga dalam mengantisipasi karhutla ini kita juga perlu mengetahui bagaimana menginterpretasikan informasi yang sudah disiapkan oleh BMKG," pungkasnya. (*)