BKKBN Ungkap 25,8 Persen Keluarga di Indonesia Alami Kondisi Fatherless
Anita K Wardhani June 23, 2026 03:38 PM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, M Alivio Mubarak Junior

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN merilis data terkait pola pengasuhan anak di tanah air. 

Tercatat, sekitar 25,8 persen keluarga di Indonesia yang memiliki anak kini tengah menghadapi fenomena fatherless atau kondisi minimnya kehadiran seorang ayah.

Baca juga: Di Momen Hari Kartini, BKKBN Tekankan Kesehatan Perempuan Kunci Lahirkan Generasi Berkualitas

Fakta miris ini dibeberkan langsung oleh Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Kemendukbangga/BKKBN, Nopian Andusti.

"Data keluarga 2025 menunjukkan sekitar 25,8% keluarga yang memiliki anak mengalami kondisi fatherless, yaitu situasi ketika ayah tidak hadir secara optimal dalam kehidupan anak, baik secara fisik maupun emosional," kata Nopian di kantor BKKBN Halim, Jakarta Timur, Senin (22/6/2026).

Berdasarkan data juga kondisi fatherless rupanya lebih banyak dialami di pedesaan dengan angka 26,3% sementara perkontaan 25,4 persen.

Lebih lanjut menurutnya, tingginya angka tersebut harus menjadi tamparan sekaligus pengingat keras bagi para orangtua. 

Peran kepala keluarga tidak boleh lagi direduksi hanya sebatas sebagai pencari nafkah semata. 

Lebih dari itu, sosok ayah memegang fungsi yang sangat strategis, mulai dari pendidik, pelindung, pendamping, hingga menjadi teladan utama bagi buah hati.

Ia memaparkan, andil aktif seorang ayah dalam mengasuh anak terbukti secara ilmiah memberikan dampak masif terhadap tumbuh kembang anak. 

Hal ini mencakup pembentukan kemampuan sosial, peningkatan rasa percaya diri, hingga kesiapan mental anak dalam menghadapi dinamika tantangan hidup di masa depan.

Oleh sebab itu, Kemendukbangga/BKKBN kini gencar mengampanyekan penguatan peran kepala keluarga lewat Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). 

Sebagai langkah konkret, kementerian menggelar kelas edukasi khusus yang menyasar para ayah dan calon ayah di lingkungan internal mereka.

"Kehadiran figur ayah adalah fondasi ketahanan keluarga. Ayah wajib hadir," ujarnya.

Refleksi di Hari Keluarga Nasional, Ayah Bukan Sekedar Pencari Nafkah

Nopian menambahkan program ini didesain sebagai ruang refleksi bagi kaum adam untuk menakar kembali seberapa jauh kualitas kebersamaan yang mereka berikan kepada anak di kehidupan sehari-hari.

Terlebih, momentum Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 tahun 2026 kali ini sengaja mengusung tema 'Ayah Wajib Hadir'. 

Melalui jargon tersebut, ia menaruh harapan besar agar para Aparatur Sipil Negara (ASN) laki-laki mampu mengambil peran di garda terdepan sebagai role model dalam menciptakan keluarga yang berkualitas.

"Pada akhirnya keluarga yang kuat akan melahirkan generasi yang berkualitas, dan generasi yang berkualitas merupakan fondasi utama menuju Indonesia Maju," pungkasnya.

Melalui peringatan Hari Keluarga Nasional ke-33 ini, pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat kebijakan yang berpihak pada keluarga, memperluas akses layanan dasar, serta mendukung terwujudnya keluarga Indonesia yang berkualitas.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.