BANGKAPOS.COM -- Seorang pria pernama Aditya Pertama Putra mengaku nyaris dihajar karena memiliki wajah mirip Taufik Hidayat.
Taufik Hidayat pelaku penyekapan dan penganiayaan terhadap wanita selama 3 tahun di Bandung hingga kini masih belum terlacak kebaradaannya.
Sulitnya melacak Taufik Hidayat membuat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, sampai menggelar sayembara untuk menemukan pelaku kejahatan tersebut.
Tak tanggung-tanggung, Dedi Mulyadi menawarkan uang sebesar Rp 250 juta bagi siapa saja yang bisa menemukan Taufik Hidayat.
Di sisi lain, pria bernama Aditya Pertama dituding sebagai Taufik Hidayat karena dinilai memiliki kesamaan wajah.
Pengakuan ini disampaikan oleh Aditya lewat unggahan di media sosial Instagram guna meluruskan informasi yang beredar, sebab ia hampir menjadi korban pemukulan.
Baca juga: Alasan Taufik Hidayat Potong Bibir Wanita yang Disekap di Bandung, Tuding Selingkuh, Keluarga Bantah
Guna menghindari amukan massa, Aditya pun akhirnya membuat video klarifikasi di Instagram-nya.
"Nama saya Aditya Peratama Putra, asal domisili Soreang Kabupaten Bandung. Saya ingin membuat video klarifikasi bahwa saya bukan Taufik Hidayat," ungkap Aditya dalam akun Instagram-nya, dilansir TribunnewsBogor.com pada Selasa (23/6/2026).
Diungkap Aditya, ia nyaris dihajar karena dituding sebagai pelaku penganiayaan yang sedang dicari-cari polisi saat ini.
"Kemarin ada bapak-bapak di Alfamart tiba-tiba ngejewang (narik kerah baju sambil bilang) 'ke mana heh pelaku penganiayaan'. Di sini saya mau garis bawahi bahwa saya bukan Taufik Hidayat seperti di foto ini. Memang agak mirip sedikit tapi itu bukan saya," ujar Aditya.
Ditegaskan oleh Aditya, ia sangatlah berbeda dengan Taufik meskipun punya wajah mirip.
"Saya mah jangankan menganiaya wanita, ada semut nempel di tangan saya tiup, bukan saya keplak. Kadang kalau udah ngepret nyamuk saya mah mikir, anak-anaknya makan apa nanti. Jadi saya bukan tipe orang psikopet seperti ini," kata Aditya.
"Jadi mohon untuk pak polisi, teman-teman sekitarnya kalau ngelihat saya di jalan, saya bukan Taufik Hidayat," sambungnya.
Dalam postingannya itu juga, Aditya meminta perlindungan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Aditya mengaku was-was keluar rumah setelah Dedi Mulyadi membuat sayembara Rp250 juta bagi yang bisa menemukan Taufik Hidayat.
"SAYA BUKA PSIKOPAT
SAYA BUKAN TAUFIK HIDAYAT
Izin @dedimulyadi71 mohon perlindungan nya karena bapak baru sayembara hadiah uang tunai untuk yang menemukan pelaku
Tolong disebarkan video klarifikasi ini, saya takut diamuk masa di jalan," ungkap Aditya.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengumumkan langkah tak biasa dalam upaya mempercepat penangkapan Taufik Hidayat, tersangka kasus penyekapan dan penganiayaan berat terhadap seorang perempuan asal Rancaekek, Kabupaten Bandung, berinisial YTR (29).
Ia secara langsung membuka sayembara berhadiah uang tunai sebesar Rp 250 juta bagi siapa pun yang mampu memberikan informasi valid mengenai keberadaan buronan tersebut atau membantu proses penangkapannya.
Kasus yang menyita perhatian publik ini bermula dari tindakan kekerasan yang disebut sangat brutal dan tidak manusiawi.
Korban mengalami penyiksaan berat hingga menyebabkan luka serius di berbagai bagian tubuh, yang kemudian memicu kemarahan luas masyarakat serta dorongan agar pelaku segera ditangkap dan diproses hukum.
Baca juga: Ayah Taufik Hidayat Bongkar Kelakuan Anak, Sebut Kerap Bermasalah, Kini Sekap Pacar 3 Tahun
Dalam pernyataannya, Dedi Mulyadi menggambarkan kekejian peristiwa tersebut dengan nada tegas.
“Kepada seluruh warga Jabar dan warga Indonesia, saya menyampaikan ada peristiwa yang biadab terjadi di Jawa Barat. Seorang perempuan yang dipacari, disekap, dianiaya, dicacatkan kedua matanya hingga tidak melihat lagi, dan bibirnya mungkin digunting sampai saya tidak tega melihatnya, seluruh tubuhnya melepuh dan rusak,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat sangat dibutuhkan untuk mempersempit ruang gerak pelaku yang masih buron. Menurutnya, sayembara ini bukan sekadar bentuk kemarahan, tetapi juga upaya konkret untuk mempercepat penegakan hukum.
“Saya sangat marah dengan laki-laki seperti ini, bernama Taufik Hidayat, yang sekarang jadi buronan. Dan saya meyakini bahwa tim Polda Jabar akan mampu dengan cepat menangkapnya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dedi menyampaikan apresiasi kepada aparat kepolisian sekaligus mengajak publik untuk bersinergi dalam pencarian pelaku. Ia menegaskan kembali komitmennya memberikan imbalan bagi pihak yang membantu pengungkapan keberadaan tersangka.
“Dan siapa yang bisa menemukan Taufik Hidayat, menyerahkannya kepada aparat atau menginformasikan kepada aparat keberadaannya, saya memberikan hadiah Rp 250 juta,” sambungnya.
Di akhir pernyataannya, Dedi kembali menekankan pentingnya kolaborasi antara aparat dan masyarakat agar kasus ini segera terungkap.
“Saya ucapkan terima kasih pada jajaran Polda Jabar. Mari kita bersama terus menangkap saudara Taufik Hidayat si biadab ini,” tuturnya.
Sebelum sayembara diumumkan, Dedi Mulyadi didampingi Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jabar, Siska Gerfianti, sempat mendatangi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung guna memantau penanganan medis korban YTR.
Kendati demikian, seusai keluar dari Gedung Ibu dan Anak RSHS, Dedi mengaku tidak sanggup menyaksikan secara langsung kondisi fisik korban yang menderita kerusakan parah di area wajah dan sekujur tubuhnya.
"(Kondisi) semakin membaik walau saya jujur saja, lihatnya pun enggak berani, enggak tega. Tadi bu Siska yang berkomunikasinya dan saya mendengarkan, karena saya itu laki-laki tapi hatinya Rinto. Jadi, enggak tega. Tapi, paling utama ada dua hal yang harus diselesaikan," jelasnya.
Menyangkut penanganan pasca-kejadian, Gubernur membagi prioritas menjadi dua bagian, yakni tindakan medis oleh tim dokter serta jaminan pembiayaan penuh.
Seluruh biaya perawatan korban ditegaskan bakal ditanggung sepenuhnya oleh anggaran Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
"Enggak usah lagi mencari ke BPJS atau ke mana-mana. Saya tanggung. Jadi, enggak usah sibuk lagi keluarganya untuk mencari donasi ke mana-mana. Tadi, saya juga bekali buat keluarganya selama menunggu anaknya agar tak pusing mengurus kebutuhan di rumah," sebut Dedi.
Menyikapi tragedi memilukan tersebut, Dedi mengimbau kaum perempuan di Jawa Barat maupun di skala nasional agar senantiasa meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat bepergian dengan lawan jenis agar selalu melibatkan proteksi dari pihak keluarga.
"Itu penting ditemani keluarga kalau bepergian dengan seorang laki-laki. Kami juga sudah berkomunikasi dengan jajaran Polda Jabar dan saya yakin tak lama lagi pelakunya tertangkap," pungkasnya.
(Bangkapos.com/TribunnewsBogor.com/TribunJabar.id)