Dijuluki 'Mother of Disease', Banyak Orang Baru Sadar Idap Diabetes Saat Sudah Parah
GH News June 23, 2026 06:08 PM
Jakarta -

Diabetes menjadi salah satu masalah yang menjadi sorotan dunia. Di Indonesia, data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan 1 dari 10 warga berusia di atas 40 tahun kini hidup dengan diabetes melitus.

Penyakit gula darah atau diabetes dijuluki mother of diseases (induk dari segala penyakit) karena tingginya kadar gula darah secara perlahan merusak pembuluh darah dan saraf. Kerusakan ini memicu komplikasi mematikan ke berbagai organ tubuh, seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, kebutaan, hingga risiko amputasi.

Bahkan, 'ledakan' kasus diabetes di usia produktif juga membuat semakin khawatir. Kondisi ini juga menjadi sorotan dari negara tetangga Indonesia, yakni Malaysia.

Ledakan kasus diabetes di Malaysia dilaporkan telah meluas hingga mengancam produktivitas kerja, merusak kualitas hidup harian, hingga berpotensi mengguncang ketahanan ekonomi jangka panjang.

Isu krusial ini mencuat dalam agenda Diabetes Conference 2026 di Kuala Lumpur baru-baru ini. Para ahli sepakat bahwa penanganan diabetes harus dirombak total dari hulu, karena banyak yang tidak menyadari kondisinya bisa semakin parah.

Berdasarkan data National Health and Morbidity Survey (NHMS), saat ini 15,6 persen orang dewasa di Malaysia hidup dengan diabetes. Mirisnya, ada sekitar 5,9 persen warga lainnya yang sebenarnya memiliki kadar glukosa darah sangat tinggi.

Namun, mereka tidak pernah menyadarinya karena merasa tubuhnya sehat-sehat saja. Kondisi ini diperparah dengan fakta klinis bahwa 54,4 persen populasi dewasa di sana mengalami kelebihan berat badan alias obesitas.

Banyak Orang yang Terlambat Sadar Idap Didabetes

Spesialis transformasi fisik sekaligus pendiri industri kebugaran Badcave Training Facility, Murad Zaidi, mewanti-wanti bahwa banyak orang sering kali keliru dalam memahami lini masa penyakit ini.

Kebanyakan pasien baru panik mencari bantuan medis ketika kondisinya sudah masuk tahap komplikasi berat.

"Orang berpikir diabetes dimulai ketika vonis dokter ditegakkan. Padahal tidak. Diagnosis itu sering kali hanyalah momen ketika masalah tersebut akhirnya terdeteksi setelah sekian lama," tegas Murad, dikutip dari .

Menurutnya, diabetes adalah hasil akhir dari disfungsi metabolisme jangka panjang yang berjalan secara perlahan.

Saat pasien datang ke klinik, tubuh mereka biasanya sudah mengalami kerusakan berupa resistensi insulin, kelelahan kronis, obesitas sentral (perut buncit), gangguan tidur akut, hingga ketergantungan obat-obatan.

Banyak Mengintai Pekerja Kantoran-Pemilik Bisnis

Murad menyoroti bahwa pola disfungsi metabolisme ini paling subur melanda kelompok profesional urban dan pemilik bisnis di wilayah perkotaan. Kelompok pekerja ini rentan karena terus-menerus beroperasi di bawah tekanan stres tinggi, kurang tidur, nutrisi buruk, serta minim aktivitas fisik (sedentary lifestyle).

Ia menegaskan, fluktuasi gula darah yang tidak stabil secara klinis langsung menghancurkan performa kerja seseorang.

"Jika gula darah Anda tidak stabil, tidur Anda buruk, energi Anda tidak konsisten, dan komposisi tubuh Anda memburuk," kata Murad.

"Itu memengaruhi cara Anda berpikir (brain fog), cara Anda memimpin, cara Anda bekerja, hingga cara Anda hadir di rumah," sambungnya.

Beberapa tanda peringatan dini dari tubuh yang kerap diabaikan oleh pekerja kantoran meliputi:

  • Penumpukan lemak atau penambahan berat badan yang berpusat di area perut.
  • Munculnya rasa lelah atau mengantuk yang luar biasa sesaat setelah makan (food coma).
  • Kabut otak (brain fog) atau mendadak sulit berkonsentrasi saat berpikir.
  • Keinginan kuat untuk terus-menerus makan berlebihan (craving).
  • Proses pemulihan fisik yang sangat lambat saat tubuh kelelahan.

Sebagai solusinya, Murad menekankan bukan hanya dengan sekadar diet atau melalui cara yang instan. Hal ini diawali dengan memperbaiki kesehatan metabolisme membutuhkan pendekatan holistik yang komprehensif, mulai dari manajemen stres, perbaikan kualitas tidur, gerakan aktif, hingga nutrisi seimbang.

Ia juga menekankan pentingnya menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab pribadi, di samping program kesehatan yang digulirkan oleh pemerintah.

"Tidak ada dokter, pelatih olahraga, ataupun suplemen mahal yang dapat mengatasi gaya hidup yang merusak tubuh Anda setiap hari," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.