Energi Bersih RI Mulai Bergerak Lebih Cepat
Rahmadi June 23, 2026 06:27 PM

UNTUK pertama kali dalam beberapa tahun terakhir, capaian energi terbarukan Indonesia tidak perlu menunggu akhir tahun untuk mencapai target.

Hingga April 2026, kontribusi energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran pembangkit listrik nasional telah mencapai 17,89 persen atau setara produksi listrik 29,62 terawatt hour (TWh).

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian tahun sebelumnya dan pada saat yang sama telah melampaui target yang ditetapkan pemerintah untuk sepanjang 2026, yakni 16,46 persen.

Artinya, target tahunan tercapai ketika tahun bahkan belum memasuki pertengahan. Delapan bulan masih tersisa, sementara angka yang menjadi sasaran sudah terlampaui.

Jika melihat pergerakannya dalam beberapa tahun terakhir, perubahan ini terlihat mencolok. Pada 2024, bauran EBT nasional masih berada di level 14,65 persen.

Setahun kemudian meningkat menjadi 15,75 persen. Kenaikannya sekitar satu poin persentase dalam satu tahun penuh. Sebaliknya, dalam empat bulan pertama 2026, kontribusi energi terbarukan bertambah lebih dari dua poin persentase sekaligus.

Perbedaan kecepatan itu mengindikasikan adanya perubahan dalam laju transisi energi nasional. Jika sebelumnya kenaikan berlangsung perlahan, kini pertumbuhannya mulai bergerak lebih cepat.

Salah satu pendorong utamanya berasal dari proyek-proyek yang selama bertahun-tahun berada dalam tahap perencanaan atau konstruksi dan kini mulai menghasilkan listrik secara penuh.

Sejumlah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang menjadi bagian dari proyek strategis ketenagalistrikan nasional mulai masuk ke sistem. Pada saat yang sama, program pengurangan ketergantungan terhadap pembangkit diesel juga berjalan lebih cepat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Perubahan arah pembangunan pembangkit juga memberi pengaruh besar. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034, porsi energi terbarukan mendapat ruang yang jauh lebih besar dibandingkan periode-periode sebelumnya. Dari seluruh tambahan kapasitas pembangkit yang direncanakan selama satu dekade ke depan, sekitar 76 persen berasal dari sumber energi terbarukan.

Kini, energi bersih di Indonesia tidak lagi ditempatkan sebagai pelengkap dalam sistem kelistrikan nasional. Ia mulai menjadi sumber utama pertumbuhan kapasitas baru.

Lebih penting lagi, implementasi rencana tersebut mulai terlihat di lapangan. Dalam satu tahun sejak RUPTL diterbitkan, hampir setengah dari porsi pengembangan EBT yang direncanakan telah memasuki tahap eksekusi. Ini menjadi indikator bahwa dokumen perencanaan tidak berhenti sebagai target administratif, tetapi mulai diterjemahkan menjadi proyek nyata.

Perkembangan tersebut juga tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Sumatera menjadi salah satu contoh paling menarik. Di pulau itu, bauran energi terbarukan telah mencapai 41,76 persen dari total produksi listrik. Dengan kata lain, lebih dari empat dari setiap sepuluh unit listrik yang dihasilkan di Sumatera berasal dari sumber energi bersih.

Baca juga: PLN Siap Dorong Pemanfaatan Sains dan Teknologi untuk Akselerasi EBT

Sumatera, sudah sejak lama memiliki kombinasi sumber daya yang sulit ditandingi daerah lain, mulai dari potensi panas bumi, tenaga air, hingga biomassa. Ketika proyek-proyek pembangkit mulai beroperasi dan jaringan listrik semakin terintegrasi, keunggulan sumber daya tersebut mulai tercermin dalam komposisi produksi listriknya.

Di tingkat nasional, tenaga air masih menjadi tulang punggung energi terbarukan Indonesia. Kapasitas PLTA yang besar membuat kontribusinya tetap mendominasi dibandingkan sumber energi hijau lainnya. Setelah itu terdapat biomassa dan panas bumi yang selama bertahun-tahun menjadi andalan Indonesia dalam mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

PLTS

Namun, sumber energi yang pertumbuhannya paling menarik justru datang dari tenaga surya.

Kontribusi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terhadap keseluruhan bauran nasional memang masih relatif kecil. Meski demikian, laju pertumbuhannya menjadi yang tercepat di antara berbagai jenis energi terbarukan lainnya.

Penurunan harga panel surya dalam beberapa tahun terakhir membuat investasi PLTS semakin ekonomis, baik untuk skala rumah tangga maupun industri.

Program PLTS atap yang terus diperluas ke berbagai daerah juga mulai memperlihatkan dampaknya. Meski belum mampu mengubah komposisi nasional secara drastis, pertumbuhan tenaga surya memberi sinyal bahwa sumber energi ini akan memainkan peran yang semakin besar pada dekade mendatang.

Perkembangan yang terjadi sepanjang awal 2026 juga memperlihatkan bahwa target-target dalam dokumen perencanaan pemerintah mulai menemukan pijakan yang lebih kuat. Dalam Rencana Strategis Kementerian ESDM 2025-2029, kontribusi EBT terhadap bauran energi nasional pada 2026 ditargetkan berada di kisaran 17 hingga 21 persen.

Dengan realisasi April yang sudah menyentuh 17,89 persen, Indonesia telah masuk ke dalam rentang target tersebut jauh lebih cepat dari jadwal. Masih terlalu dini untuk menyimpulkan keberhasilan akhir tahun, tetapi setidaknya arah pergerakannya kini lebih jelas dibandingkan beberapa tahun lalu ketika target sering kali terlihat jauh dari jangkauan.

Baca juga: Presiden Prabowo Resmikan 55 Proyek Pembangkit EBT, Program Lisdes PLN di Berbagai Wilayah Indonesia

Perkembangan ini juga mulai menarik perhatian investor asing. Minat terhadap proyek energi hijau di Indonesia terus meningkat, terutama pada sektor panas bumi. Indonesia memiliki salah satu cadangan geothermal terbesar di dunia, tetapi sebagian besar potensinya masih belum dimanfaatkan secara optimal.

Bagi investor, kondisi tersebut menawarkan ruang pertumbuhan yang besar. Bagi pemerintah, masuknya modal baru dapat membantu mempercepat pembangunan infrastruktur energi bersih tanpa sepenuhnya bergantung pada anggaran negara. Sejumlah insentif yang disiapkan untuk proyek-proyek EBT juga diarahkan untuk menarik investasi sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.

Meski demikian, tantangan transisi energi belum hilang. Kebutuhan investasi masih sangat besar, pembangunan jaringan transmisi harus mengikuti pertumbuhan pembangkit baru, dan ketergantungan terhadap batu bara belum bisa berakhir dalam waktu singkat. Sistem kelistrikan Indonesia yang tersebar di ribuan pulau juga membuat proses integrasi energi terbarukan lebih rumit dibandingkan banyak negara lain.

Namun untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, pembahasan mengenai energi terbarukan tidak lagi hanya berkutat pada target yang belum tercapai atau proyek yang masih tertunda. Data awal 2026 menunjukkan sesuatu yang berbeda, bahwa kapasitas baru mulai masuk ke sistem, proyek yang direncanakan mulai berjalan, dan kontribusi energi bersih bertambah lebih cepat dari perkiraan.

Hingga akhir tahun, sejumlah proyek PLTA dan PLTS skala besar yang sedang dalam tahap penyelesaian berpotensi menambah porsi energi terbarukan lebih jauh lagi. Jika laju saat ini dapat dipertahankan, 2026 berpeluang menjadi salah satu tahun paling penting dalam perjalanan transisi energi Indonesia. (ANTARA)

Oleh: Aditya Ramadhan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.