TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan membuat terobosan baru di sektor kesehatan. Lewat kerja sama dengan Universitas Hasanuddin (Unhas), para Dokter Gigi di Nunukan kini bisa menempuh pendidikan spesialis tanpa harus meninggalkan tugas pelayanan di fasilitas kesehatan.
Kesepakatan tersebut ditandatangani di Gedung Rektorat Universitas Hasanuddin, Senin (22/6/2026), dan disaksikan langsung oleh Bupati Nunukan Irwan Sabri.
Program ini melibatkan RSUD Nunukan, fasilitas kesehatan daerah, hingga puskesmas di seluruh wilayah Kabupaten Nunukan.
Skema pendidikan ini terbilang unik. Para dokter gigi tetap bekerja melayani pasien seperti biasa, namun tetap mengikuti pendidikan spesialis dengan sistem afirmasi yang dibagi dalam masa belajar bertahap di kampus Universitas Hasanuddin.
Baca juga: 13 Puskesmas di Malinau Kaltara Kekurangan Dokter Gigi, 2 Faskes di Perbatasan Paling Kritis
Bupati Irwan Sabri menyebut langkah ini sebagai solusi “dua arah”: meningkatkan kualitas tenaga kesehatan sekaligus memastikan pelayanan di daerah perbatasan tetap berjalan tanpa kekosongan dokter gigi.
“Dengan pola ini, dokter tetap bisa melayani masyarakat, tapi juga naik kelas secara kompetensi,” menjadi semangat utama kerja sama tersebut.
Rektor Jamaluddin Jompa menambahkan, kerja sama ini bukan hal baru. Unhas disebut telah lama membina wilayah perbatasan, termasuk Pulau Sebatik, dalam pengembangan pendidikan dan kesehatan sejak 2012.
Tak hanya dokter gigi, Pemkab Nunukan juga mulai membuka peluang kerja sama lanjutan di bidang keperawatan.
Para perawat nantinya berpeluang melanjutkan pendidikan dari Diploma III ke Sarjana Keperawatan hingga profesi Ners, tanpa harus meninggalkan tempat kerja.
Selain itu, pembahasan juga menyentuh kuota jalur afirmasi mahasiswa baru tahun 2026, yang diharapkan semakin membuka akses pendidikan tinggi bagi putra-putri daerah perbatasan.
Langkah ini disebut menjadi strategi besar Pemkab Nunukan untuk memperkuat kualitas SDM kesehatan sekaligus menjaga pelayanan publik tetap optimal di wilayah terluar Indonesia.
(*)
Penulis: Fatimah Majid