Relawan SPPG di Trenggalek Pilih Cari Kerja Sampingan saat Libur Sekolah, Dampak Tak Beroperasi
Rendy Nicko June 23, 2026 10:45 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Musim libur sekolah telah tiba, membuat operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Trenggalek juga ikut berhenti. Hal itu membuat relawan SPPG memilih kerja sampingan lain untuk mengisi libur menyediakan Makan Bergizi Gratis (MBG).

Salah satu Relawan SPPG Ngadisuko, Kecamatan Durenan Trenggalek, Ahmad Baha'uddin membernarkan aktivitas di tempat SPPGnya sedang libur total mengikuti kalender sekolah.

"Kalau kondisinya saat ini SPPG tidak beroperasi ya. Artinya memang runningnya tidak dijalankan karena memang distop dulu. Kalau di pengumuman itu sekitar tiga minggu sampai masuk sekolah kembali," ujar Baha'uddin saat dikonfirmasi, Selasa (23/6/2026).

Selama masa libur tiga minggu tersebut, Baha'uddin mengaku kembali menekuni aktivitasnya sehari-hari di luar SPPG demi memenuhi kebutuhan ekonomi.

Baca juga: Pemkab Nganjuk Optimalkan PAD, Bupati Nganjuk Kang Marhaen : Bayar Pajak, Dukung Kemajuan Daerah

"Kembali melakukan aktivitas saya sehari-hari. Alhamdulillah masih ada pekerjaan sampingan saya, yaitu kerja di konveksi," ungkapnya.

Baha' menerangkan selama operasional dihentikan, para relawan tidak mendapatkan honor atau gaji.

Akan tetapi sepengetahuannya, bagi petugas keamanan dan pimpinan dapur tetap masuk seperti biasa. Karena untuk memastikan kondisi kebersihan dan keamanan di SPPG.

"Ini selama libur tidak dapat gaji, karena ya tidak bekerja. Kalau dari informasi yang saya ketahui, yang tetap masuk itu sebatas kepala dapurnya sama keamanan atau satpamnya," jelasnya.

Pria yang masih menuntaskan Magister di UIN Sayyid Ali Rahmatullah (SATU) Tulungagung ini mengaku, sejauh ini tidak ada instruksi khusus dari Kepala SPPG mengenai libur panjang tersebut. 

Dikatakannya, pihak manajemen hanya mengumumkan penghentian operasional sementara dalam pertemuan terakhir sebelum libur sekolah dimulai.

"Imbauannya sebetulnya tidak ada instruksi khusus atau tertentu. Hanya memang di beberapa pertemuan terakhir itu justru pengumumannya nanti insyaallah kita akan stop running dulu. Sebatas itu saja," tambahnya.

Baha' mengungkapkan penghentian sementara operasional SPPG ini tidak hanya berdampak pada relawan, melainkan juga menyasar ke seluruh ekosistem program penunjang gizi tersebut.

Mulai dari staf, mitra, penyuplai atau supplier hingga ribuan masyarakat penerima manfaat.

"Terlepas dari pro dan kontra yang terjadi, tentu dampaknya kepada keseluruhan karyawan, staf, mitra, dan supplier. Pun juga Penerima manfaat B3, seperti balita, ibu hamil, ibu menyusui juga berhenti," paparnya.

Di tempatnya SPPG, tercatat ada sekitar 1.700 penerima manfaat yang terdiri dari anak sekolah, kategori B3, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita. 

Saat ditanya mengenai isu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal akibat mandeknya operasional, Baha'uddin menepis kabar tersebut. 

Ia meluruskan yang terjadi adalah pengunduran diri secara sukarela dari beberapa relawan, bukan pemberhentian sepihak dari manajemen.

"Kalau di PHK sejauh ini belum ada ya. Cuma mungkin ada yang resign memang. Adanya relawan yang resign, kalau untuk PHK tidak ada," tegasnya.

Sebagai relawan sekaligus bagian dari masyarakat, Baha' memberikan masukan kepada pemerintah selaku pemangku kebijakan.

Yaitu supaya mengevaluasi dan mengkaji ulang segmentasi penerima manfaat dari program SPPG ini ke depan.

"Sebetulnya kalau dibenahi, mungkin dari penerima manfaatnya bisa dikaji ulang kembali. Ya, mungkin ini ranahnya pemerintah ya, karena kita kan sebagai rakyat, ya usul di negara demokrasi ini," pungkasnya.

Terpisah sebelumnya, Paguyuban Mitra MBG Trenggalek, Imam Waldy menerangkan selama libur sekolah SPPG juga ikut berhenti sudah tertuang dalam Surat Edaran Nomor 12 Tahun 2026.

Yaitu tentang Penyesuaian Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Pada Saat Periode Hari Libur Dalam Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis Tahun Anggaran 2026.

"Mengikuti menyongsong kegiatan hari libur sekolah itu untuk proses memasak atau distribusi kita libur total," ujar Imam Waldy saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu.

Pria yang akrab disapa Kimpling ini mengaku seluruh penerima manfaat juga otomatis libur sementara. Mulai dari peserta didik, ibu hamil, ibu menyusui hingga balita tidak menerima MBG.

Sementara di SPPG Karangsoko Trenggalek yang ia kelola, total penerima per hari ini 2.064 keluarga penerima manfaat (KPM).

SPPG Karangsoko yang dibawah naungan Yayasan Lumbung Boga Sakti ini selama libur otomatis relawan tidak mendapatkan gaji.

"Selama hari libur untuk relawan juga libur total dan tidak menerima insentif atau bayaran," tegasnya.

Sementara yang masih tetap masuk adalah kepala dapur SPPG untuk menjaga kebersihan dapur agar tidak kotor sewaktu beroperasi kembali.

Serta bagian keamanan yaitu satpam, supaya kondisi masing-masing SPPG tetap dalam keadaan aman.

(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.