SURYA.CO.ID, BANGKALAN - Momen Penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Konbes NU) di Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur (Jatim) pada Selasa (23/6/2026) dijadikan Presiden RI, Prabowo Subianto sebagai ajang 'curhat'.
Presiden Prabowo menyampaikan perkembangan kondisi ekonomi sejak dirinya dilantik sebagai presiden pada 20 Oktober 2024.
Prabowo menutup Munas dan Konbes NU di Institute Agama Islam (IAI) Syaikhona Kholil, Desa Martajasah, Bangkalan. Dalam agenda ini, Presiden didampingi oleh sejumlah pejabat negara, di antaranya:
"Saya disumpah untuk menjalankan Undang-undang Dasar (UUD), saya disumpah. Dan kita tidak perlu pura-pura lagi, kita tidak perlu bicara manis-manis. Karena memang sering Bangsa Indonesia suka bicaranya manis di depan," ungkap Prabowo.
Prabowo mendapatkan sambutan meriah dari warga ketika memasuki lokasi sekitar pukul 13.45 WIB. Ia melambaikan tangan melalui sunroof kendaraan Maung dan berhenti di depan pintu tenda.
Kedatangannya disambut Ketua PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Sekjen PBNU sekaligus Menteri Sosial KH Saifullah Yusuf, serta Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar.
Baca juga: Pidato Berapi-api Presiden Prabowo di Munas dan Konbes NU Bangkalan: Bersihkan Korupsi!
Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan pentingnya berbicara apa adanya mengenai kondisi bangsa saat ini.
"Kita kadang-kadang tidak mau bicara apa adanya, tetapi saya kira sudah saatnya kita bicara apa adanya. Bahwa setelah 10 tahun kita merdeka, apalagi setelah saya jadi presiden saya melihat data dan fakta, sesungguhya banyak sekali penyimpangan-penyimpangan," tegas Prabowo.
Praktik penyimpangan yang telah dibiarkan tersebut, dinilai membuat Indonesia berada dalam keadaan yang memprihatinkan.
Menurutnya, terlalu banyak kekayaan negara yang hilang diambil dari hak rakyat dan bangsa.
"Ada praktik memperkaya segelintir orang saja , bahkan kekayaan tersebut terlalu banyak mengalir ke luar negeri, tidak tinggal di Bangsa Indonesia. Dari kesulitan yang kita alami, sekarang kita harus berani menghadapi kenyataan," ungkapnya.
Prabowo menyatakan ingin menjadikan kesempatan ini untuk menyampaikan pandangannya sebagai kepala negara.
Baginya, hanya bangsa yang bodoh yang akan meneruskan sistem di mana kekayaan bangsa tidak tinggal di bangsa itu sendiri.
"Saya sendiri syok, sedih melihat betapa besarnya kekayaan kita yang hilang selama ini. Ini bukan kesalahan, kita anggaplah ini suatu kelalaian kita bersama," tuturnya.
Presiden menegaskan kembali sumpahnya untuk menjaga kepentingan bangsa dan rakyat.
Ia berjanji akan melaksanakan yang terbaik agar tidak ingkar kepada rakyat Indonesia.
"Tetap saya disumpah untuk menjaga kepentingan bangsa dan rakyat. Karena itu saya melaksanakan yang terbaik yang bisa saya laksanakan, supaya saya tidak ingkar kepada bangsa dan rakyat," kata Prabowo.
Selain itu, Prabowo juga menyampaikan informasi mengenai pembangunan infrastruktur yang baru saja diresmikannya.
Ia meresmikan 1.151 kilometer jalan desa dan daerah yang menelan anggaran sebesar Rp5,4 triliun.
Prabowo menyebut ribuan kilometer jalan lainnya seharusnya sudah bisa terbangun, apabila tidak terjadi kebocoran anggaran.
Dalam hematnya, seandainya tersedia anggaran Rp20 triliun, sudah banyak infrastruktur yang bisa dibangun untuk kepentingan rakyat. Mulai dari ribuan jembatan hingga perbaikan puluhan ribu sekolah.
"Kita butuh ribuan jembatan, kita butuh ribuan kilometer rel kereta api. Namun begitu banyak uang kita menguap, hilang. Pemerintah yang saya pimpin, bertekad untuk yang terbaik dan menghentikan kebocoran-kebocoran ini," pungkasnya.