Laporan Wartawan Tribun Gayo Alga Mahate Ara | Aceh Tengah
TribunGayo.com, TAKENGON - Dua organisasi mahasiswa di wilayah Gayo, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Gayo dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Takengon-Bener Meriah menyayangkan keputusan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh yang menghentikan penggunaan Jalan Tajuk Enang-Enang di jalur lintas nasional Bireuen–Takengon, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh.
Ketua KAMMI Daerah Gayo, Rasidi menegaskan bahwa pemerintah semestinya memperbaiki jalan nasional yang rusak akibat bencana hidrometeorologi pada 2025 itu, bukan menutupnya.
"Kami menghormati setiap kebijakan yang bertujuan melindungi keselamatan masyarakat. Namun, itu seharusnya diperbaiki, bukan ditutup," tegasnya.
Senada dengan itu, Ketua Umum HMI Cabang Takengon-Bener Meriah, Afdhalal Gifari, mengecam keras sikap BPJN yang dinilai baru menunjukkan kewenangannya justru setelah masyarakat berhasil memperbaiki jalan secara swadaya hingga tahap pengaspalan.
Ia mempertanyakan mengapa BPJN tidak hadir sejak awal saat warga terisolasi pascabencana dan berusaha bangkit dengan membuka jalan secara mandiri.
"Setelah susah payah orang tua kami mempelopori kepentingan masyarakat dari nol membuka jalur evakuasi hingga menggalang donatur untuk pengaspalan tiba-tiba BPJN hadir menjadi eksekutor penutupan.
Kenapa tidak dari awal bapak-bapak ini hadir saat rakyat terisolasi?," cecar Afdhalal.
Kedua organisasi menilai Jalan Tajuk Enang-Enang merupakan urat nadi utama mobilitas warga serta distribusi hasil pertanian di wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah.
KAMMI juga menyoroti bahwa jalur alternatif melalui Werlah yang dianjurkan BPJN belum memberikan kemudahan dengan kondisi jalan berlubang, menanjak, kerap macet pada jam sibuk, serta memakan waktu tempuh lebih lama.
HMI pun meragukan kelayakan jalur Werlah tersebut dan menilai pengalihan arus kendaraan malah memicu kemacetan seperti sering terjadi ini.
Afdhalal juga mempertanyakan kepastian solusi permanen yang dijanjikan BPJN.
"Kami diminta menunggu solusi permanen. Pertanyaannya, sampai kapan? Apakah harus menunggu sampai Nabi Isa turun ke bumi?
Rakyat butuh kepastian hari ini, karena isi perut dan urusan ekonomi tidak bisa dikompromikan dengan lambannya birokrasi," tegasnya.
KAMMI Daerah Gayo turut mendesak BPJN untuk segera mempercepat penanganan infrastruktur di lokasi tersebut sekaligus membangun komunikasi yang lebih baik dengan masyarakat guna menghindari keresahan yang lebih luas.
Sebelumnya, Plt Kepala BPJN Aceh, Zulkarnaini, saat meninjau lokasi pada Senin (22/6/2026), resmi menghentikan perbaikan swadaya warga dengan alasan kondisi jalan dinilai terlalu berisiko dan tidak aman untuk dilintasi pengendara umum, khususnya kendaraan roda empat.
Ia menyebut upaya perbaikan swadaya tersebut akan sia-sia karena pemerintah telah merencanakan pembangunan infrastruktur permanen di lokasi itu.
"Percuma dibuat, Pak. Kami tidak menjamin keselamatannya jika dilintasi pengendara umum, khususnya kendaraan roda empat.
Namun, jika hanya roda dua milik warga yang melintas untuk berkebun di sekitar sini, silakan," ujar Zulkarnaini.
Sementara itu, Sahrial Abadi, inisiator perbaikan jalur swadaya, mengakui jalan yang mereka perbaiki memang belum layak akibat keterbatasan alat dan perencanaan.
Namun ia menegaskan aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian warga agar jalur Enang-Enang dapat segera digunakan kembali.
"Kami paham jalan ini memang belum layak. Tapi jika nanti Bapak sudah membangun jalan yang bagus di sini, tentu kami akan menutup jalur ini," ungkap Sahrial. (*)
Baca juga: Tiga Faktor Ini Jalan Enang-Enang Ditutup, BPJN: Gunakan Jalan Alternatif
Baca juga: Alasan Keamanan, BPJN Aceh Hentikan Perbaikan Jalan Enang-Enang yang Didanai Swadaya Warga
Baca juga: Bantu Dana Perbaikan Enang-Enang Bener Meriah, Abiya Jeunieb: Bila Mau Patungan Semua Jembatan Siap