TRIBUNBANTEN.COM, PANDEGLANG – Kenaikan harga sejumlah obat-obatan mulai dikeluhkan masyarakat di Kabupaten Pandeglang, Banten.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) disebut menjadi salah satu faktor utama yang mendorong meningkatnya biaya produksi industri farmasi.
Kenaikan harga obat dilaporkan mencapai 15 hingga 30 persen dan terjadi secara bertahap pada berbagai jenis produk yang umum dikonsumsi masyarakat.
Nilai tukar rupiah sempat melemah tajam hingga menyentuh kisaran Rp18.136 per dolar Amerika Serikat berdasarkan kurs transaksi Bank Indonesia per 9 Juni 2026.
Berdasarkan pantauan di salah satu apotek di Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, Selasa (23/6/2026) menunjukkan berbagai jenis obat mengalami kenaikan harga.
Mulai dari obat sakit kepala hingga obat sakit maag, hampir seluruh produk dijual dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
Pemilik apotek, Atih Abdul Hakim, mengatakan kenaikan harga terjadi pada hampir semua jenis obat seiring meningkatnya biaya produksi yang dipengaruhi penguatan dolar AS terhadap rupiah.
"Semua obat naik. Yang paling terasa itu produk-produk obat bebas dan merek yang sering diiklankan. Kenaikannya bertahap, ada yang sekitar 15 persen sampai 30 persen," kata Atih Abdul Hakim kepada wartawan, Selasa (23/6/2026).
Baca juga: Jalan Rusak Tak Kunjung Diperbaiki Pemerintah, Warga Pandeglang Teken Petisi Pakai Darah Jari Tangan
Menurut Atih, kenaikan harga mulai dirasakan sejak distributor menyesuaikan harga jual menyusul meningkatnya nilai tukar dolar AS.
Selain itu, kenaikan harga bahan pendukung, termasuk kemasan plastik, turut memengaruhi harga obat di pasaran.
"Kalau nilai tukar dolar naik, harga juga pasti ikut naik. Apalagi sebelumnya harga bahan plastik juga mengalami kenaikan. Kondisi itu sekarang cukup terasa dan berpengaruh, terutama ketika nilai tukar dolar meningkat," ujarnya.
Kenaikan harga obat juga berdampak pada penjualan di apotek miliknya.
Atih mengungkapkan omzet penjualan mengalami penurunan karena banyak pelanggan mengeluhkan harga yang semakin mahal.
Meski demikian, masyarakat tetap membeli obat karena kebutuhan kesehatan menjadi prioritas utama.
"Penjualan sangat terdampak. Pelanggan banyak yang mengeluh karena harga naik, tetapi karena untuk kebutuhan kesehatan, mereka tetap membeli meskipun jumlahnya berkurang," katanya.
Atih berharap harga obat-obatan dapat kembali stabil agar tidak semakin membebani masyarakat, terutama di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.